Sebagai seorang santri sejati, yang telah menghabiskan waktu mendekap di kamar pesantren selama kurang lebih 11 tahun dan jumlah itu masih terus bertambah, sampai saat ini dan mungkin sampai kapan pun, jiwa ini merasa telah terbiasa dengan pola-pola tarbiyah kepesantrenan: bangun subuh, amalan, mengaji, lalu mengulang itu-itu lagi.
Tulisan ini menyoroti tradisi pembelajaran yang diadopsi mayoritas pesantren, khususnya salafi, yang sangat menekankan pentingnya transfer keilmuan turun-temurun. apalagi dengan adanya skema sanad yang dari sudut pandang lain justru menyelamatkan keilmuan Islam itu sendiri, sebagaimana dawuh Imam Ibnu Mubarak.
Namun, bila terus-menerus seperti itu, saya khawatir keilmuan pesantren hanya akan menjadi pola yang berulang saja. Saya bawa sebuah analogi: seperti mesin pencetak sabun, yang hanya mengeluarkan sabun dengan bentuk yang serupa. Padahal hakikat keilmuan tidak demikian terkekang. Ilmu pada dasarnya adalah lentera, ketika ia telah masuk ke dalam jiwa, ia akan menjadi petunjuk arah bagi kita untuk berjalan menuju tujuan kita. Kita bisa sesuka hati menuju ke mana pun, tapi tanpa lentera itu, arah kita tidak akan pernah jelas.
Padahal, 2400 tahun yang lalu jauh sebelum Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa ‘alaihissalam lahir, ada seorang pemikir besar yang telah merenungkan hakikat “ilmu” itu sendiri, ia bernama Socrates. Menurutnya, ilmu yang sejati tidak datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Sebab ilmu yang tumbuh dari dalam akan lebih menancap dan teguh dalam jiwa.
Karena itu, peran seorang guru semestinya bergeser: dari sekadar pemberi ilmu, menjadi pembantu lahirnya ilmu dari dalam jiwa murid. Socrates memberi perumpamaan seperti seorang bidan, ilmu itu ibarat bayi, dan gurulah bidannya. Bukan dia yang mengeluarkan bayi dari kandungan, ia hanya membantu proses kelahiran itu agar lebih mudah. Guru yang memahami hal ini akan menyadari bahwa ia tidak selamanya harus menyuapi ilmu kepada murid-muridnya. Guru sejati mencari kebenaran bersama muridnya, bukan menggurui dari atas.
Dari sudut pandang lain, Socrates mengajarkan bahwa ketika seorang guru merasa telah mengetahui sesuatu untuk kemudian diajarkan kepada orang lain, pada saat itu jugalah ia sesungguhnya berhenti menjadi bijaksana. Ia akan terus menjadi bijaksana selama ia masih merasa tidak mengetahui apa-apa. Prinsip ini kemudian diterjemahkan ke dalam khazanah Islam oleh para cendekiawan muslim klasik, dalam banyak literatur mengenai adab belajar dan mengajar. salah satu contohnya kitab yang masih eksis dipelajari di berbagai pondok pesantren, meskipun menuai kontroversi di sisi lain yaitu kitab Ta’lim Muta’allim. dalam kitab nya imam az-zarnuji menegaskan pentingnya tawadhu fil ilmi.
Meski kata-kata ini terasa pahit, sebagai seorang santri saya hanya mengharapkan satu hal: metode pembelajaran di pesantren mampu berkembang menjadi lebih baik, guru di pesantren berusaha untuk menanamkan dalam jiwa nya tekad untuk terus menerus belajar bersama dengan murid muridnya. membantu mereka melahirkan ilmu itu sendiri dari dalam jiwa mereka. dari situ santri akan menemukan sendiri ilmu itu, dan ilmu itu kelak akan tertancap di dalam jiwanya. dan ketika itu terjadi, kelak pesantren bahkan dapat melampaui lembaga-lembaga pendidikan lain.





