Mengapa kepatuhan menjadi unsur penting untuk menjaga stabilitas? Dan mengapa ketidakpatuhan selalu mendapat labelling sebagai manusia yang tak beretika dan beradab? Kita mungkin sering merasakan keadaan di mana ketidakpatuhan menjadi ukuran moral bagi seseorang. Namun, kita tak pernah bertanya tentang “bagaimana ketidakpatuhan itu muncul?”. Kita mungkin terlalu sibuk mengutuki mereka yang tidak mengindahkan peraturan, namun tak pernah bertanya asal-muasal ketidakpatuhan itu berasal.
Kesibukan ini, meluputkan kita tentang bagaimana berpikir rasional di tengah aturan yang mendesak kita untuk patuh. Kita mungkin tak pernah bertanya, mengapa harus ada hukum a, b, dan c, mengapa keadaan itu terjadi, mengapa dan mengapa hal tersebut bisa ada. Kita hanya terfokus untuk menghakimi mereka yang mencoba untuk lebih berpikir mendalam, mereka yang mencoba untuk berpegang pada prinsipnya. Semisal, kita selalu terbayang-bayangi oleh sesuatu yang sudah menjadi template kehidupan, seperti; orang yang berkuliah mesti bekerja di kantoran, menjadi pejabat publik, dan mestinya mereka berpenampilan rapih, seminimal mungkin memakai kemeja yang lehernya dipasangi id card. Hingga template kehidupan tersebut, membuat kita luput dari sesuatu yang lebih esenssial, perihal bagaimana kita yang berkuliah dapat mengubah suatu peradaban.
Marilah kita sejenak meresapi kembali dan mencoba untuk membedah perihal patuh dan ketidakpatuhan. Kehadiran tulisan ini mungkin bisa jadi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan di kalimat pembuka. Kepatuhan, mungkin seseorang meyakini bahwa kepatuhan merupakan standar moral untuk menjadi manusia yang berkategori baik, namun bagaimana ketika kepatuhan itu membuat kita terjerumus pada sesuatu yang jahat. Laporan yang disusun oleh H. Arendt dapat menjawab itu semua. Dalam investigasi yang ia lakukan, terdapat suatu kontradiktif perihal kepatuhan, ia tak menyangka bahwa pembunuh berdarah dingin dapat dibentuk melalui kepatuhan. Ia menyebutnya banalitas kejahatan, ketika seseorang yang menjadi juru patuh dapat berubah menjadi monster sadis, sebab ia tak mempunyai kemampuan untuk berpikir rasional dan mencoba untuk memenuhi tugas yang telah diberikan atau patuh buta.
Terkadang, kita tak menyadari bahwa diri kita terlalu patuh buta. Kita meyakini aturan-aturan yang ada sebagai otoritas yang wajib ditaati, dan keadaan-keadaan harus tampak normal di mata kita. Sebab kepatuhan itu, kita tak mampu untuk melihat dan berpikir lebih mendalam, juga kepatuhan tersebut menanamkan nilai dalam diri kita untuk menjauhi murkanya, dan memaksa kita tersenyum selabar-lebarnya. Hal tersebut, dapat membuat kita lama-kelamaan hancur secara perlahan. Terbukti dengan laporan investigasi yang telah H. Arendt tulis, sebab kejahatan sejati dapat muncul dari orang-orang baik yang sangat patuh terhadap otoritas, hingga melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya, yaitu tentang mencoba untuk bertindak melanggar otoritas yang nampak normal di mata telanjang.
Sebab Kepatuhan Buta adalah Neraka
Kepatuhan yang obsesif membuat kita tak berani untuk mencoba sesuatu yang melebihi batas-batas yang telah mapan. Tindakan yang melanggar batas-batas kemapanan, menjadi momok kejahatan yang harus dijauhi, dan gambaran-gambaran konsekuensi tindakan tersebut dipampang secara jelas untuk kita, agar tak berani mencoba. Namun, pernahkah kita membayangkan bahwa manusia terlahir untuk mencoba tanpa memikirkan kejadian selanjutnya. Biarkan saya menceritakan sesuatu yang mungkin jadi perdebatan publik, bahwa manusia berada di atas muka bumi sebab ketidakpatuhan. Kaki kita mungkin tak bisa menapaki dunia yang indah ini, bila leluhur kita mematuhi aturan-aturan yang telah mapan. Kita mungkin tak bisa mencapai kemajuan lebih, bila kita patuh buta terhadap sesuatu yang telah ada. Kita tak mungkin pernah belajar, bila kita tak merasakan keanehan-keanehan situasi. Sebab manusia belajar dari ketidakpatuhan, ia bertumbuh melalui ketidakpatuhan, ia berjalan di muka bumi melalui ketidakpatuhan.
Pernahkah kita merasakan, bahwa kepatuhan hanya menjadi bayang-bayang rasa aman yang palsu. Tapi nyatanya kesadaran tentang rasa aman palsu tersebut, yang menyebabkan kita memasuki zona kepatuhan buta. Kesadaran otoritatif kepatuhan, membuat kita tak pernah menanyakan apa yang kita patuhi selama ini, dan atas kontrol apa kita mematuhi kemapanan tersebut. Hal tersebut mungkin pernah kita alami semasa hidup, bagaimana kepatuhan berkontradiksi dengan harapan tentang rasa aman palsu. Jika dicontohkan, kita sudah mematuhi aturan-aturan yang ada namun konsekuensi akhir yang kita inginkan tak pernah tercapai, seperti anak kecil yang disuruh patuh untuk berhenti menangis dengan iming-iming sesuatu yang ia sukai semisal robot, namun ketika anak tersebut berhenti menangis ia tak dapat mainan robot tersebut, dan itulah sebenarnya yang disebut rasa aman palsu. Kita selalu diiming-imingi sesuatu yang kita inginkan, dengan syarat kita patuh. Namun, konsekuensi dari kepatuhan tersebut tak pernah kita pertimbangkan secara rasional hingga menciptakan rasa aman palsu.
Rasa aman palsu tersebut, membius kita untuk selalu patuh terhadap otoritatif yang dianggap sebagai kebenaran tunggal. Ketika terbius, akal kita disfungsi dan tak dapat memikirkan konsekuensi ke depannya, sebab itulah kita patuh buta. Cara terbaik untuk mencegah itu semua adalah berpikir. Jika kita berpikir, mungkin probabilitas atas konsekuensi dapat terkalkulasi, setidaknya kita tak terjebak dalam kepatuhan obsesif. Berpikir merupakan tindakan subversif dan revolusioner, destruktif serta mengerikan. Berpikir tak pandang bulu, entah itu tentang orang yang memiliki hak-hak istimewa, institusi yang sudah mapan, ataupun kebiasaan yang sudah dianggap lazim. Berpikir adalah anarkis dan tak terikat hukum, tak peduli otoritas apa pun, bahkan tak peduli pada kata-kata bijak yang konon tak lekang waktu. Berpikir tak takut terjun bebas untuk mencoba mengetahui. Berpikir adalah cahaya dunia dan puncak kemuliaan manusia. Sebab aku ada, karena berpikir. Petuah yang diambil dari Russel, setelah dimodifikasi.
Ketidakpatuhan adalah Manusia Sejati
Ketidakpatuhan, konon katanya merupakan tindakan dari sesuatu yang jahat. Ketidakpatuhan menjadi nisbat dari kejahatan murni. Namun, bagaimana ketidakpatuhan muncul sebab kita menyadari suatu keanehan terhadap kepatuhan. Jikalau ketidakpatuhan muncul karena konsekuensi dari berani untuk mengatakan tidak pada kepatuhan terhadap keanehan, apakah kita masih dapat menisbatkan ketidakpatuhan sebagai kejahatan? Maka, yakinilah ketidakpatuhan tersebut muncul sebab kita telah berpikir atas probabilitas dari variabel tak terduga di celah kehidupan. Kita harus merelakan nisbat-nisbat mengerikan sebab ketidakpatuhan, biarlah ia terbakar dalam bara api kepatuhan buta dan rasa aman palsu.
Ketidakpatuhan yang dilandasi oleh hati nurani, dan prinsip merupakan suatu hal yang berbahagia. Sebab ketidakpatuhan, mendorong kita untuk berani berpikir lebih dalam, menyadarkan kita pada suatu keanehan, dan menghancurkan rasa aman palsu yang telah dipasang pada jendela toko kepatuhan. Ketidakpatuhan yang saya sebut, bersifat progresif dan revolusif, ia muncul sebab keyakinan, dan pikiran dalam, bukan ketidakpatuhan yang berlandaskan emotif semata. Sebab ketidakpatuhan emotif, hanya memunculkan ketidakpatuhan obsesif. Lalu apa bedanya, perihal ketidakpatuhan dan patuh ketika ia menyebabkan obsesif?
Itulah ketidakpatuhan yang saya maksud, ia lahir sebab pertanyaan, kecenderungan, dan analisis mendalam. Perlu dipahami, bahwa ketidakpatuhan merupakan akibat dari konsekuensi tak logis dari otoritatif yang telah mapan. Ketidakpatuhan bukan muncul sebagai sebab, ia perlu didalangi oleh motif, dan motif itulah yang dapat membedakan antara ketidakpatuhan dan ketidakpatuhan obsesif. Sebab ketidakpatuhan lahir dalam baja panas yang ditempa, keadaan yang memaksa kita untuk berubah, dan rasa aman palsu yang telah retak.
Ketidakpatuhan tidak melulu menyangkut moral. Melainkan, keberanian untuk bertindak secara logis dari konsekuensi yang telah diperhitungkan. Dan kepatuhan bukan semata-mata mencari harapan aman yang palsu, melainkan sesuatu yang diciptakan dari motif kehendak bersama yang disepakati, sebab kepatuhan muncul dari ketidakpatuhan. Dan setiap rasa aman yang diciptakan dari tindakan berpikir logis, merupakan kepatuhan yang hakiki, ia tak tersegregasi oleh keadaan moral dan otoritas.







