Ada satu hal yang belakangan ini sering membuat aku berpikir “Ternyata pendidikan dan ilmu pengetahuan bukan satu-satunya ukuran seseorang bisa disebut “berpendidikan”.
Kita bisa miskin harta, kita bisa saja tidak memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi, tidak punya uang untuk membeli dan membaca buku, tidak punya gelar, atau tidak begitu memahami banyak hal. Itu masih bisa dimaklumi. Tetapi ada satu hal yang menurut saya saya jangan sampai kita miskin, yaitu etika.
Kejadian sederhana di tempat kos. Beberapa tukang yang sedang bekerja membetulkan barang di kos, pernah mengambil kain lap milik aku di luar, tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin kain lap adalah adalah barang yang sepele, masih bisa dibeli lagi. Tapi permasalahannya bukan tentang harga kain lap tersebut, permasalahannya adalah izin. Kalau memang memerlukan, sebenarnya tinggal bilang “Mbak, boleh pinjam kain lapnya?” atau kalau tidak ada aku, ya jangan ambil barang milik orang. Sebenarnya ada penjaga kos, mengapa tidak minta kain lap dengan penjaga kos?
Sederhana kan ?
Setelah selang beberapa hari, ketika aku sedang berbaring di kamar, salah satu tukang tiba-tiba membuka pintu tanpa mengetuk pintu atau memanggil. Seperti yang kita tahu, kamar adalah ruang pribadi. Bayangkan ketika kita sedang melakukan sesuatu, atau sedang tidur, tiba-tiba pintu dibuka tanpa permisi. Apalagi ada barang-barang berharga di kamar. Ternyata dia hanya ingin menumpang colokan. Tapi mengapa tidak bilang? Mengapa langsung buka pintu? Yang membuat jengkel adalah dengan santainya tukang itu bilang “Oh saya kira mbaknya pergi”. Kejadian ini sudah dua kali, pertama dilakukan oleh tukang AC, kedua dilakukan oleh tukang memperbaiki barang.
Aku semakin percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana memperlakukan manusia lain.
Kita bisa mengetahui banyak teori, mendapatkan nilai tinggi, bahkan memiliki gelar. Tapi kalau kita tidak tahu bagaimana meminta izin, tidak tahu menghormati ruang pribadi orang lain, tidak tahu bagaimana berbicara dengan sopan, lalu apa sebenarnya yang kita dapat dari pendidikan?
Melakukan etika tidak harus dari hal yang besar. Bisa dari hal-hal yang sederhana, misal dengan kita mengetuk pintu, dengan kita meminta izin, bahkan dengan kita menggunakan barang orang lain.
Aku tidak mengatakan bahwa beberapa tukang tersebut orang yang buruk. Bisa saja mereka terbiasa melakukan hal itu di lingkungan mereka. Bisa saja bagi mereka, hal tersebut memang dianggap biasa. Tetapi sesuatu yang menjadi kebiasaan, bukan berarti selalu benar.
Sebenarnya orang hanya memerlukan kesadaran sederhana “Aku hidup bersama orang lain, aku harus belajar menghargai mereka”. Itulah salah satu bentuk pendidikan yang paling dasar dan mungkin juga ilmu yang paling sering kita lupakan.
Miskin harta boleh, miskin ilmu boleh, tapi jangan sampai miskin etika.








