Larap Jurnalistik bukan Sembarang Kelas

Meskipun pagi kala itu, terasa terik. Kawan-kawan yang datang untuk mengikut kelas penulisan terasa bersemangat dan berantusias. Kelas penulisan yang diselenggarakan oleh Hanya Wacana di pelataran Gedung Ajip Rosidi, Bandung (13/9/26), tentu saja menarik untuk diikuti. Tatkala giat Minggu pagi yang biasanya diisi dengan kegiatan seperti bersepeda, jogging, lain hal bagi kawan-kawan yang mengikuti kelas tersebut.

Kelas Larap Jurnalistik sendiri, diadakan untuk mengasah kepekaan untuk para penulis serta membangun komunitas membaca sekaligus menulis, selain itu kelas ini telah terselenggara tiga kali, yang pertama kali diadakan di tahun 2025.

Kelas Larap Jurnalistik ketiga di mulai pada pukul 10 pagi, di awali dengan materi yang berkaitan dengan dunia perjurnalistikan, yaitu Feature. Menurut Hafidz Azhar sebagai pemapar materi tersebut, ia menggambarkan Feature sebagai strategi tulis yang mengadaptasi story telling dengan substansi yang lebih informatif dan tertuju pada human interest.

Lebih lanjut ia mengatakan, “Feature merupakan kegiatan tulis yang memfokuskan pada Human Interest dengan berbagai angle, berbeda dengan opini juga reportase. Feature lebih substansial dari reportase, dan lebih faktual dari opini. Sebab, feature ia lebih membangun cerita dengan data faktual yang kita lihat dalam suatu peristiwa atau sesuatu yang akan kita tuliskan.”

Selain memaparkan materi berkaitan dengan feature, kawan-kawan yang hadir dalam kelas diajak untuk menganalisis perbedaan antara penulisan feature dan reportase. Lalu, mereka memaparkan analisis yang sudah dibaca, kemudian pemapar mengomentari untuk menjelaskan lebih lanjut hasil analisis para kawan-kawan yang mengikuti kelas penulisan tersebut.

Setelah hasil analisis kawan-kawan telah selesai dipaparkan, mereka diajak untuk praktik berkaitan dengan penulisan Feature. Kawan-kawan mulai meninggalkan kelas satu persatu, untuk mencari topik yang akan dipresentasikan menjadi tulisan pendek sekitar empat paragraf lalu dikomentari oleh pemapar.

Reportase ala Jurnalis Perang

Pemaparan mengenai feature telah usai, kawan-kawan yang mengikuti acara pelatihan menulis beristirahat sejenak untuk menghela nafas sebelum memasuki pemaparan kedua mengenai reportase. Matahari mulai berada di atas, cuaca sangat terik dan bayangan mulai sejajar. Pemapar selanjutnya datang, segera kawan-kawan menyiapkan kembali fokus dan catatan untuk memasuki pemaparan selanjutnya.

Di kesempatan ini, Akmal memaparkan mengenai penulisan reportase. Melalui pengalamannya sebagai jurnalis di berbagai media alternatif ataupun nasional, ia menjelaskan bahwa dalam dunia jurnalistik terbagi dua berita, yaitu soft news atau hard news. Selanjutnya, ia menerangkan mengenai komponan yang menyusun berita seperti 5W+1H dan wawancara. Ia juga menjelaskan tentang disiplin verifikasi mengenai wawancara yang menjadi penopang fakta dari suatu berita.

“Jurnalis membutuhkan seorang yang kritis, ia ditopang oleh kedalaman riset, logika sistematis, dan kemampuan menerangkan yang lebih dari sekadar bercerita, melainkan membangun sebuah peristiwa,” sambil melirik pada kawan-kawan yang mengikuti kelas tersebut. Di sela-sela memaparkan, ia menyisipkan kalimat mengenai dunia jurnalistik: “Jurnalis adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak”, kutipan yang diambil oleh Akmal dari Sindhunata.

Nilai suatu berita menjadi bahasan setelah disiplin verifikasi. Nilai suatu berita, dilihat melalui impact suatu peristiwa yang memengaruhi sosial, selain impact ia menjelaskan kedalaman peristiwa dan data lapangan menjadi unsur penting dari nilai suatu berita. Reportase juga membutuhkan observasi yang memerlukan ketelitian dan verifikasi data untuk memastikan kebenaran suatu peristiwa. Ia menuntaskan dalam pemaparan news values menyatakan “Bahwa jurnalistik ialah seni mendengarkan informasi.”

Sesaat pemaparan, Akmal memberi kesempatan para kawan-kawan untuk menulis sebuah lead, dipaparkan dan dievaluasi bersama setelah lead tersebut selesai. Suasana kelas terlihat santai dan penuh canda tawa, namun mereka terlihat serius ketika menulis lead, satu persatu mulai mempresentasikan lalu dievaluasi oleh pemapar.

Penalaran Essai Sebagai Pematangan Giat Intelektual

Adzan ashar berkumandang, kelas penulisan menuju pemaparan akhir. Essai dipilih menjadi penutup kelas kepenulisan yang diselenggarakan. Hawe Setiawan sebagai pemapar berkaitan dengan essai, menurutnya, essai merupakan penalaran sebuah objek yang berada di luar dunia jurnalistik.

“Essai merupakan penalaran, berfokus pada satu objek untuk diceritakan,” tungkasnya.

Essai merupakan konsekuensi kegiatan intelektual dari pembacaan seorang penulis. Kebenaran, ia membayangkan essai sebagai kebenaran yang memberikan dampak positif terhadap orang lain. Penulis juga mesti memahami dibuatnya tulisan untuk siapa. Interest, penekanan terpenting yang disampaikan, “bahwa essai mesti menggugah pembaca untuk membaca dan memahami situasinya.”

Pemilihan diksi, menjadi pemaparan teknis dalam essai. “Tulislah essai dengan bahasa yang mencukupi, maksud dari mencukupi ialah diksi yang dipakai dapat dipahami penulis juga pembaca, sebab tulisan ibarat makanan yang disajikan di meja makan, tulisan merupakan presentasi, pembaca tak perlu memahami prosesnya,” tegasnya.

Kemudian, ia menjelaskan mengenai pertanyaan klise, “mengapa tulisan tidak beres-beres”, sebab suatu gagasan yang diberikan belum beres, ataupun ia menulis sembari mengedit, itulah yang menyebabkan tulisan tak kunjung rampung. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa menulis essai mesti sederhana dan jelas, tak perlu panjang namun terasa oleh pembaca.

Pelatihan, menjadi momen terpenting untuk membiasakan diri dalam menulis. “Untuk menulis baik, penulis memerlukan latihan di sela-sela waktunya. Kalau nulis hanya satu kali setiap bulan, bagaimana tulisan kita bisa dikategorikan baik?” Sembari tersenyum.

Senja datang, perhelatan kelas Larap Jurnalistik resmi berakhir. Sertifikat kelulusan peserta dibagikan satu persatu, mereka bersemangat untuk mengambilnya. Seraya sertifikat dibagikan, foto bersama menjadi tanda akhir kegiatan tersebut resmi ditutup. Mereka bernapas lega, dan masing-masing kembali ke rumahnya, seraya senyum lebar yang terpancar di mukanya.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.