Banyak orang mendeskripsikan konversi Muhammad Asad dari seorang intelektual Yahudi terkemuka—menuju agama Islam sebagai upaya membangun jembatan antara Islam dan Barat. Bahkan tidak jarang orang juga melabeli Muhammad Asad sebagai sosok yang datang ke Islam dengan misi liberalisasi. Namun, benarkah demikian? Menurut Talal Asad (putra dari Muhammad Asad), pandangan ini sangatlah keliru. Ketika Muhammad Asad memeluk Islam, ia tidak sedang membangun jembatan untuk pihak luar, melainkan membenamkan dirinya secara kritis ke dalam tradisi Islam yang kaya dan kompleks selama lebih dari satu milenium (Talal Asad, 2012). Mayoritas karya-karya awalnya ditujukan bukan untuk pembaca Barat, melainkan untuk sesama Muslim agar mereka kembali pada esensi agama yang sesungguhnya.
Rasionalitas Sebagai Fondasi Iman
Bagi Muhammad Asad, Islam bukanlah agama dogmatis yang menuntut ketaatan buta. Sebaliknya, akses menuju Islam haruslah didasarkan pada akal budi (reason) dan argumentasi yang logis. Muhammad Asad meyakini bahwa Tuhan dalam Al-Qur’an selalu menyapa manusia dengan pendekatan rasional, menggunakan pertanyaan-pertanyaan provokatif yang menuntut pendengarnya untuk berpikir. Berangkat dari prinsip ini, Asad menolak segala bentuk paksaan dalam beragama (Talal Asad, 2012).
Tradisi Islam yang diyakini Asad tidak membagi dunia secara hitam-putih menjadi kawan dan lawan. Asad mengajarkan rasa hormat yang setara terhadap sesama, yang berarti kemampuan untuk mendengarkan dengan penuh empati terhadap harapan dan komitmen terdalam orang lain. Meskipun sejarah Islam umumnya menaruh hormat pada agama-agama monoteistik, Asad melangkah lebih jauh dengan menekankan bahwa keyakinan dan ritual semua agama berhak untuk dihormati all religions should be respected.
Di kalangan umat Islam sendiri, Asad sangat menjunjung tinggi debat dan wacana publik. Ia membenci fanatisme agama, sikap ekstrem, serta kekejaman yang mengatasnamakan keyakinan. Asad mengingatkan agar ketidaksepakatan di antara umat Islam jangan sampai berujung pada pengkafiran (takfir), melainkan harus diselesaikan melalui persuasi dan rasa saling menghargai.
Kritik terhadap Negara Islam Modern
Salah satu pergulatan intelektual terbesar Muhammad Asad adalah tentang konsep “Negara Islam”. Awalnya, Asad percaya bahwa etika dan hukum tidak dapat dipisahkan. Asad meyakini bahwa negara perlu dibangun di atas fondasi agama agar hukum Tuhan yang menjadi sumber moralitas dan kebahagiaan memiliki kekuatan yang mengikat di masyarakat. Ia bahkan sempat merumuskan konsep konstitusi untuk Pakistan pada masa-masa awal berdirinya negara tersebut. Namun, pandangan ini perlahan memudar seiring berjalannya waktu (Talal Asad, 2012).
Talal Asad memberikan otokritik yang tajam terhadap gagasan awal ayahnya ini (Talal Asad, 2012). Masalah utamanya terletak pada karakter mutlak dari negara bangsa (nation-state) modern. Berbeda dengan pemerintahan prakolonial di mana penguasa tidak mencampuri seluruh aspek kehidupan rakyatnya, negara modern menuntut loyalitas tanpa syarat dari warga negaranya demi kelangsungan hidup negara itu sendiri. Bagi Muslim yang bertauhid, loyalitas absolut semacam ini seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan, bukan kepada institusi buatan manusia yang kerap menjadi sumber kekejaman dan penindasan. Jika negara memonopoli kebenaran, hal ini bisa berujung pada tirani yang justru mengkhianati nilai-nilai Islam itu sendiri.
Oleh karena itu, Talal mengusulkan sebuah pergeseran paradigma. Alih-alih mengejar kekuasaan negara untuk memaksakan hukum syariat, masa depan “politik Islam” sebaiknya berakar pada praktik pengelolaan kepentingan publik dan advokasi moral. Ini bukan tentang politik partai yang kompetitif, melainkan politik kemanusian: gerakan akar rumput yang berani melawan kesewenang-wenangan negara modern (baik sekuler maupun berlabel Islam) melalui pembangkangan sipil (civil disobedience) dan aliansi etis antaragama (moral alliances).
Melawan Kerakusan Sistemik
Visi politik Muhammad Asad bermuara pada perlawanan terhadap budaya konsumerisme yang merusak tatanan global. Merujuk pada surat At-Takatsur, Asad mengecam sifat rakus yang telah menjadi cara hidup kolektif manusia modern. Ia menyadari bahwa obsesi pada akumulasi materi (kapitalisme global) telah menghasilkan militerisasi masyarakat, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta perusakan lingkungan hidup (Talal Asad, 2012).
Inilah tantangan sesungguhnya bagi politik Islam masa kini: bagaimana membentuk sebuah perjuangan bersama—yang melampaui sekat-sekat batas negara dan sekat kebangsaan—untuk menyelamatkan umat manusia dan alam semesta dari kehancuran, berbekal komitmen religius yang otentik. Perjuangan ini bukanlah demi meraih kekuasaan, melainkan demi memanusiakan kembali kehidupan kita yang perlahan-lahan kehilangan maknanya.
Daftar Referensi:
Asad, T. (2012). Muhammad Asad: Between Religion and Politics. Islam & Science, 10(1), 77-88.







