IKA PMII dan Jaringan Kerakyatan: Dari Alumni untuk Menguatkan Basis Masyarakat

Ada satu pertanyaan yang barangkali perlu diajukan kepada Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) hari ini: untuk siapa sebenarnya jaringan alumni dibangun?

Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi yang cukup serius. Sebab, organisasi alumni bukan sekadar ruang untuk mengumpulkan orang-orang yang pernah berada dalam ruang kaderisasi yang sama. Lebih dari itu, organisasi alumni semestinya menjadi ruang untuk mengembalikan pengalaman, pengetahuan, relasi, dan posisi sosial para alumni kepada masyarakat.

Di sinilah gagasan tentang arus bawah dan ruang-ruang pinggiran menjadi relevan.

Sejarah gerakan sosial menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari pusat. Tidak jarang perubahan justru tumbuh dari ruang-ruang pinggiran: kampung, pesantren, desa, komunitas, kelompok tani, kaum muda, dan berbagai kelompok masyarakat yang selama ini tidak menjadi pusat perhatian kekuasaan.

PMII sendiri lahir dari tradisi semacam itu: tradisi intelektual dan gerakan yang tidak sepenuhnya memisahkan mahasiswa dari denyut persoalan rakyat.

Karena itu, menjadi alumni PMII semestinya bukan akhir dari pergerakan. Justru sebaliknya, ia dapat menjadi fase baru untuk memperluas medan pengabdian.

Dari Pusat ke Pinggiran

Dalam banyak organisasi, keberhasilan sering kali diukur dari seberapa dekat seseorang dengan pusat kekuasaan. Semakin dekat dengan pusat, semakin dianggap strategis.

Namun, perspektif kerakyatan mengajukan pertanyaan yang berbeda: seberapa kuat hubungan kita dengan mereka yang berada di pinggiran?

Antonio Gramsci menunjukkan pentingnya masyarakat sipil dalam pertarungan gagasan dan pembentukan kepemimpinan sosial.

Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui negara, tetapi juga melalui kebudayaan, pengetahuan, organisasi, dan cara masyarakat memahami realitas.

Dalam konteks ini, IKA PMII memiliki ruang yang cukup besar.

Para alumni tersebar di berbagai sektor kehidupan. Ada yang berada di birokrasi, pendidikan, politik, dunia usaha, pesantren, media, organisasi masyarakat, hingga berbagai profesi lainnya.

Jika seluruh posisi tersebut hanya menjadi jalan bagi mobilitas individual, maka jaringan alumni berhenti sebagai jaringan profesional.

Tetapi jika posisi tersebut digunakan untuk membuka akses bagi masyarakat, maka ia dapat berubah menjadi modal sosial kerakyatan.

Modal Sosial Alumni

Pierre Bourdieu memperkenalkan gagasan tentang berbagai bentuk modal yang dimiliki seseorang, termasuk modal sosial dan modal budaya.

Dalam konteks IKA PMII, modal sosial tersebut sebenarnya sangat besar.

Seorang alumni membawa pengalaman kaderisasi. Alumni lainnya memiliki pengetahuan akademik. Ada yang memiliki jaringan

birokrasi, jaringan usaha, jaringan pesantren, jaringan media, jaringan pendidikan, bahkan jaringan politik.

Persoalannya bukan apakah modal tersebut tersedia.

Persoalannya adalah ke mana modal tersebut diarahkan?

Jika jaringan alumni hanya berputar di antara sesama alumni, maka manfaatnya cenderung bersifat internal.

Namun, apabila jaringan tersebut digunakan untuk membuka akses masyarakat terhadap pendidikan, ekonomi, hukum, teknologi, pasar, dan kebijakan publik, maka modal sosial tersebut mengalami transformasi: dari modal personal menjadi modal kolektif, Di sinilah IKA PMII dapat mengambil posisi yang strategis.

Masyarakat Bukan Objek Pemberdayaan

Gagasan ini juga perlu ditempatkan dalam perspektif Paulo Freire

Freire mengkritik pola pendidikan yang menempatkan masyarakat sebagai objek yang hanya menerima pengetahuan dari pihak yang merasa lebih tahu.

Dalam konteks jaringan kerakyatan, pendekatan semacam itu harus dihindari.

IKA PMII tidak datang ke desa dengan asumsi bahwa masyarakat tidak mengetahui apa-apa.

Petani memiliki pengetahuan tentang tanah dan musim. Pedagang kecil memahami karakter pasar di lingkungannya. Guru mengetahui persoalan pendidikan anak-anaknya.

Pesantren memiliki modal sosial dan kultural yang panjang. Pemuda desa memiliki kreativitas dan energi sosial.

Mereka bukan objek yang harus diselamatkan. Mereka adalah subjek yang harus ditemani untuk memperbesar kekuatannya.

Karena itu, kerja kerakyatan bukan sekadar memberikan bantuan. Kerja kerakyatan adalah membangun kemampuan masyarakat untuk memiliki akses, pengetahuan, organisasi, dan daya tawar.

Membangun Kekuatan dari Pinggiran

James C. Scott, dalam berbagai kajiannya, banyak memberi perhatian terhadap kehidupan masyarakat yang berada di bawah struktur kekuasaan serta bagaimana kelompok-kelompok tersebut membangun ruang-ruang otonomi dalam kehidupan sehari-hari.

Perspektif ini menarik jika digunakan untuk membaca gerakan alumni.

Tidak semua perubahan harus dimulai dari pusat. Tidak semua persoalan harus menunggu kebijakan besar.

Perubahan dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan masyarakat:

pendampingan petani; penguatan UMKM; pengembangan madrasah; pendidikan politik warga; literasi hukum; penguatan koperasi; pengembangan ekonomi pesantren; pengorganisasian pemuda; dan penguatan komunitas Masyarakat, Semua itu mungkin terlihat kecil jika dilihat dari pusat.

Namun, jika dilakukan secara konsisten dan terhubung dalam sebuah jaringan, berbagai inisiatif tersebut dapat tumbuh menjadi kekuatan sosial yang besar.

Inilah logika arus bawah: kecil di satu titik, tetapi kuat ketika terhubung.

IKA PMII sebagai Infrastruktur Sosial

Karena itu, masa depan IKA PMII tidak semestinya hanya ditentukan oleh seberapa sering para alumni berkumpul, Yang lebih penting adalah seberapa kuat alumni mampu membangun koneksi dengan basis masyarakat.

IKA PMII dapat menjadi semacam infrastruktur sosial yang menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan, jaringan dengan akses, serta alumni dengan masyarakat.

Alumni yang memiliki kapasitas ekonomi dapat membuka akses bagi UMKM.

Alumni di dunia pendidikan dapat memperkuat sekolah dan madrasah.

Alumni yang memiliki kompetensi hukum dapat membantu meningkatkan literasi hukum masyarakat.

Alumni yang berada di pemerintahan dapat menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan kebijakan.

Alumni yang berada di dunia politik dapat membawa aspirasi masyarakat ke ruang-ruang pengambilan keputusan.

Dengan demikian, posisi sosial alumni tidak berhenti sebagai pencapaian individual.

Ia dikembalikan menjadi energi kolektif.

Dari Alumni untuk Menguatkan Basis

Pada akhirnya, IKA PMII perlu membangun orientasi baru: bukan sekadar memperbesar jaringan alumni, tetapi memperluas basis kerakyatan.

Sebab, jaringan tanpa basis mudah berubah menjadi sekadar koneksi.

Sebaliknya, basis tanpa jaringan akan sulit memperbesar daya tawarnya.

Keduanya harus dipertemukan.

Jaringan alumni memberikan akses dan sumber daya. Basis masyarakat memberikan realitas, kebutuhan, dan arah perjuangan.

Di antara keduanya, IKA PMII dapat mengambil posisi sebagai jembatan.

Bukan menjadi elite yang berbicara atas nama masyarakat, tetapi menjadi bagian dari masyarakat yang ikut memperkuat suara mereka.

Sebab, pada akhirnya, ruh pergerakan tidak diukur dari seberapa dekat seseorang dengan pusat kekuasaan.

Ia diukur dari seberapa kuat seseorang tetap terhubung dengan mereka yang berada di bawah.

IKA PMII memiliki pilihan: menjadi rumah nostalgia para alumni, atau menjadi jaringan sosial yang mampu menghidupkan kembali semangat pergerakan dalam bentuk yang lebih luas.

Jika pilihan kedua yang diambil, maka jaringan alumni tidak berhenti sebagai jaringan.

Ia berubah menjadi kekuatan.

Dari pusat menuju pinggiran. Dari alumni menuju masyarakat.

Dari jaringan menuju pengorganisasian.