Sirr al-Asrar karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, pembahasan tentang tasawuf ternyata nggak cuma soal dzikir, suluk, atau pengalaman batin. Tulisan ini justru mulai dengan satu penegasan penting : “nggak semua orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf otomatis berada di jalan yang sama” Camkan itu Kisanak!
Pada bab ke-23 disebutkan ahli tasawuf terbagi menjadi dua belas kelompok. Ada yang dianggap Sunni, yaitu orang-orang yang ucapan dan perbuatannya sesuai dengan syariat dan tarekat. Mereka disebut sebagai Ahlussunnah wal Jamaah.
واحدهم سنيون وهم الذين أفعالهم وأقوالهم موافقة للشريعة والطريقة، وهم أهل السنة والجماعة
“Di antara mereka ada golongan Sunni, yaitu mereka yang perbuatan dan perkataannya sesuai dengan syariat dan tarekat.”
Setelah itu, tulisan ini menyebut beberapa kelompok yang dinilai menyimpang, seperti Hulwiyyah, Haliyyah, Awliya’iyyah, Tsumrakhiyyah, Hubbiyyah, Huriyyah, Ibahiyyah, Mutakasilah, Mutajahilah, Waqifiyyah, dan Ilhamiyyah. Kritiknya cukup keras karena beberapa kelompok dianggap memakai pengalaman spiritual sebagai alasan untuk meninggalkan batas-batas syariat.
Misalnya Hulwiyyah dikisahkan menghalalkan memandang perempuan cantik dan pemuda amrad, bahkan membolehkan ciuman, pelukan, dan tarian. Haliyyah juga dianggap membolehkan tarian dan mengatakan seorang syekh bisa punya keadaan spiritual yang nggak bisa dijelaskan oleh syariat.
Yang paling serius adalah Awliya’iyyah. Mereka dikisahkan berkeyakinan bahwa ketika seseorang sudah sampai tingkat wali, kewajiban syariat menjadi gugur. Bahkan ada klaim bahwa wali lebih utama daripada nabi karena wali memperoleh ilmu tanpa perantara Jibril. Tulisan ini menolak keyakinan tersebut dengan sangat keras.
Hal yang sama muncul pada Hubbiyyah. Mereka menganggap kalau seseorang sudah mencapai derajat cinta kepada Allah, kewajiban syariat bisa gugur. Ada juga Huriyyah yang mengklaim pengalaman tertentu dengan bidadari ketika mengalami keadaan spiritual. Sementara Ibahiyyah dianggap menghalalkan perkara yang haram.
Kemudian ada Mutakasilah. Mereka meninggalkan pekerjaan dan meminta-minta dengan alasan meninggalkan dunia. Tulisan ini justru mengkritik sikap tersebut. Jadi, meninggalkan kecintaan berlebihan kepada dunia nggak sama dengan meninggalkan usaha.
Ada juga Waqifiyyah yang mengatakan bahwa nggak ada yang bisa mengenal Allah selain Allah sendiri, sehingga mereka meninggalkan usaha mencari ma‘rifat. Lalu Ilhamiyyah bahkan disebut meninggalkan ilmu, melarang pengajaran, meninggalkan Al-Qur’an, dan mengatakan:
ويقولون القرآن حجاب، والأشعار قرآن الطريقة
“Al-Qur’an adalah hijab, sedangkan syair-syair adalah Al-Qur’an-nya tarekat.”
Setelah semua kritik itu, tulisan ini kemudian memberikan ukuran tasawuf yang dianggap benar. Ahlul haq, katanya, bisa dikenali lewat dua tanda: lahir dan batin. Tanda lahirnya adalah kuat berpegang pada syariat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Sedangkan tanda batinnya adalah perjalanan spiritual dengan basirah, yaitu kesadaran batin, sambil menjadikan Nabi sebagai teladan.





