Kemarin saya berdiskusi dengan saudara saya, bukan saudara sedarah, tapi rasanya sudah seperti saudara sendiri ; Sayyid Tubagus Dafa Ad-Diba’i. Dari obrolan itu, kami sampai pada satu pertanyaan yang lumayan menggelitik : benarkah selama ini kita terlalu gampang menyimpulkan bahwa Ibn Taimiyah adalah musuh tasawuf? Beliau pula yang mengenalkan saya pada tulisan George Makdisi, “Ibn Taimiyya: A Sufi of the Qadiriya Order”. Dari sinilah diskusi kami jadi makin asyik.
Nah, yang menarik buat saya, Makdisi sejak awal memang sedang menguji kebenaran anggapan umum tentang permusuhan Ibn Taimiyah terhadap tasawuf. Menurutnya, citra Ibn Taimiyah sebagai “sworn enemy of Sufism” sudah terbentuk cukup lama dalam kajian modern. Bahkan gambaran tersebut dipengaruhi oleh tradisi penulisan yang banyak bertumpu pada sumber-sumber yang memiliki bias terhadap Hambalisme. Wal hasil, methodos-nya bukan sekadar bertanya, “Ibn Taimiyah pro atau kontra tasawuf?” tetapi bagaimana gambaran tentang Ibn Taimiyah itu sendiri dibentuk.
Makdisi kemudian menunjukkan sesuatu yang kayak nya sepele tapi kalau dicermati justru penting bagi saya mah : Hambali tidak otomatis berarti anti-sufi. Ia menghadirkan tokoh-tokoh Hambali yang juga hidup sebagai sufi. Ada Anshari al-Harawi seorang Hambali yang sangat kuat identitas tasawufnya, bahkan ia pernah mendorong kaum Muslim agar menjadi Hanbali. Ada pula Tuan Syaikh Abdul Qadir Jailani tokoh Hambali sekaligus sufi yang kemudian menjadi nama besar dalam sejarah Qadiriyah. Kayak nya sejak titik ini saja anggapan “Hambali versus tasawuf” sudah mulai oyag barudak.
Lalu masuklah celotehan yang paling menariiiik seperti hubungan spiritual Ibn Taimiyah dengan tradisi Qadiriyah. Makdisi menyebut adanya rantai transmisi sufi atau silsilah khirqah yang menghubungkan sejumlah ulama Hambali. Dalam rantai sanad tersebut Ibn Abi Umar Ibn Qudamah disebut sebagai orang yang memberikan jubah sufi kepada Ibn Taimiyah. Setelah Ibn Taimiyah, rantai tersebut berlanjut kepada Ibn Qayyim al-Jawziyyah dan kemudian Ibn Rajab.
Bukan cuma itu. Makdisi menemukan manuskrip yang memuat pernyataan yang dinisbatkan kepada Ibn Taimiyah sendiri. Ia disebut mengatakan bahwa dirinya pernah mengenakan khirqah ( jubah sufi sebagai bentuk baiat guru-murid ) dari Tuan Syaikh Abdul Qadir Jailani dan ia pernah menerima jubah sufi dari sejumlah syaikh berbagai tarekat. Bahkan Qadiriyah di sebutnya sebagai salah satu tarekat terbesar. Jika data ini kita terima sebagaimana yang dipaparkan Makdisi, kira-kira masih pantaskah kita mengatakan secara polos “Ibn Taimiyah anti-tasawuf” ?
Tapi di sini kita harus hati-hati. Jangan sampai karena menemukan sisi sufi Ibn Taimiyah, kita malah membalik kesalahan sama dengan membuat klaim baru: seolah-olah Ibn Taimiyah menerima seluruh tasawuf. Gak gitu juga Ferguso !! Justru tulisan Makdisi menunjukkan bahwa Ibn Taimiyah melakukan pembedaan yang cukup tegas. Ia menerima tasawuf yang menurutnya berjalan bersama wahyu, syariat, dan konsensus umat. Sebaliknya ia menyerang tasawuf yang dianggap menyimpang, terutama tasawuf filosofis dan antinomian. Mungkin andai Mama Ghufron al-Maqoli sezaman dengan beliau bisa jadi vilan utama.
Kritik Ibn Taimiyah kepada sebagian sufi tidak harus dibaca sebagai penolakan terhadap tasawuf sebagai disiplin spiritual. Bisa jadi hal ini dibaca sebagai kritik internal terhadap bentuk tertentu dari tasawuf. Makdisi bahkan menunjukkan bahwa Ibn Taimiyah menggunakan banyak kosakata tasawuf: ilham, dzauq, wajd, mahabbah, kasyf, haqiqah, khasyiah, dan kamalu nafs. Bahkan ilham dibahas sebagai sesuatu yang tidak boleh ditolak secara mutlak.
Problemnya gak sesederhana “Ibn Taimiyah suka sufi” atau “Ibn Taimiyah benci sufi”. Demikian pula bukan berarti semua kritiknya kepada Ibn Arabi, al-Hallaj, atau tokoh tertentu harus dianggap sebagai penolakan total terhadap tasawuf. Makdisi justru memperlihatkan bahwa Ibn Taimiyah bisa memuji Tuan Syaikh Abdul Qadir Jailani dan Hammad al-Dabbas, sementara pada saat yang sama mengkritik al-Harawi atau al-Hallaj. Artinya, standar penerimaannya bukan sekadar label “sufi” tapi isi ajaran dan praktik yang ia anggap sesuai atau bertentangan dengan syariat.
Yang lebih asyik dalam diskusi kami juga adalah posisi Ibn Taimiyah tentang kesempurnaan jiwa. Ia tidak menerima gagasan bahwa kesempurnaan manusia cukup dicapai melalui pengetahuan metafisis. Menurut pembacaan Makdisi pengetahuan tentang Tuhan harus berjalan bersama mahabbah, ibadah, taubat, dan ketaatan terhadap perintah-Nya. Jadi spiritualitas tidak boleh dipisahkan dari syariat. Tawakkal tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan perintah Tuhan. Mencintai Tuhan juga tidak boleh menjadi tiket bebas dari hukum.
Simpelnya gini kira-kira bang Messi ; Ibn Taimiyah bukan musuh tasawuf secara mutlak. Ia menerima bentuk tasawuf yang ia anggap ortodoks, berbasis wahyu dan syariat, sambil menyerang bentuk tasawuf filosofis dan antinomian.





