Bahasan Buya Maliki Terhadap Maulid Nabi

BAHASAN BUYA MALIKI TERHADAP MAULID NABI 

Banyak orang ternyata masih suka salah nangkep soal Maulid Nabi. Baru dengar kata “Maulid”, pikirannya langsung ke acara ibadah khusus, harus begini, harus begitu, mesti di malam tertentu, bahkan sampai muncul perdebatan panjang yang kadang ujung-ujungnya malah bikin waktu habis percuma. So kumaha atuh, sebelum debat panjang, pahami dulu sebenarnya yang dimaksud dengan Maulid itu apa.

Dawuh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, berkumpul untuk memperingati Maulid Nabi pada dasarnya merupakan perkara biasa, masuk wilayah adat, bukan ibadah khusus. Gituh brodi, ini penting banget dibedain. Sebab antara adat dan ibadah tuh punya posisi yang beda. Dalam ibadah, kita perlu dalil. Ada tuntunan, ada ketentuannya. Tapi dalam urusan adat, manusia punya ruang yang lebih luas untuk melakukan sesuatu selama tidak bertentangan dengan syariat.

Nah, masalahnya muncul ketika sesuatu yang sebenarnya cuma bentuk kebiasaan atau kegiatan manusia kemudian dianggap sebagai ibadah khusus yang punya tata cara tertentu. Ini yang justru dikhawatirkan. Jangan sampai kegiatan hasil ijtihad manusia diberi label sebagai ibadah yang wajib atau sunnah dengan tata cara tertentu, padahal dalil khususnya tidak ada. 

Pada kenyataannya, berkumpul dalam rangka Maulid bisa diisi dengan banyak hal yang memang dianjurkan dalam agama. Orang berkumpul, lalu mengingat Nabi, membaca kisah kehidupan beliau, membahas akhlaknya, mengenalkan perjuangannya, mengingat ibadahnya, dan mengajak orang supaya semakin dekat kepada kebaikan. Jadi bukan sekadar kumpul, makan-makan, atau bikin acara yang ramai doang. Ada tujuan yang lebih jauh dari sekadar keramaian.

Yang juga menarik menurut saya, ada anggapan bahwa peringatan Maulid hanya dilakukan pada satu malam tertentu dalam setahun. Padahal menurut uraian tadi, majelis Maulid di Makkah dan Madinah berlangsung dalam berbagai kesempatan sepanjang tahun. Jadi bukan konsepnya setahun sekali terus selama ratusan malam lainnya Nabi dilupakan. Justru mengingat Nabi semestinya tidak dibatasi oleh satu tanggal atau satu malam saja. 

Tuh kan, dari sini kelihatan bahwa bulan kelahiran Nabi punya momentum tersendiri. Saat bulan kelahiran beliau tiba, perhatian masyarakat biasanya lebih besar. Orang lebih mudah diajak berkumpul, suasana hati lebih tersentuh, dan ingatan kepada rasulullah terasa lebih kuat. Masa lalu seperti di sambungkan lagi dengan kehidupan sekarang. Kisah Nabi yang dulu terjadi seakan dibawa kembali ke tengah-tengah kehidupan kita.

Dan justru di sinilah kesempatan dakwahnya. Para ulama dan dai bisa memanfaatkan momen itu buat mengingatkan umat tentang akhlak Nabi, adab beliau, perjalanan hidup beliau, cara beliau bermuamalah, sampai ibadah beliau. Orang yang datang jangan sampai pulang cuma membawa kenyang dan suasana meriah. Harus ada sesuatu yang masuk ke hati. Ada ilmu yang didapat, ada nasihat yang nempel, ada semangat untuk memperbaiki diri. 

So, Maulid bukan berhenti pada bentuk acaranya. Pertemuan itu dipandang sebagai sarana menuju tujuan yang lebih mulia. Bentuknya boleh berupa majelis, pertemuan, pembacaan sirah, nasihat, dan berbagai kegiatan lain yang membawa orang untuk mengenal Rasulullah. Yang paling penting adalah jangan sampai sarana dianggap sebagai tujuan utama.

KAFIR SAJA DAPAT SYAFA’AT, APALAGI HAMBA-NYA YANG BERSYAHADAT

Kemudian pembahasan masuk ke kisah Tsuwaibah. Diceritakan bahwa Abu Lahab membebaskan budaknya, Tsuwaibah, setelah mendapat kabar tentang kelahiran Nabi Muhammad. Setelah Abu Lahab meninggal, Abbas bin Abdul Muthalib disebut pernah melihatnya dalam mimpi dan bertanya tentang keadaannya. Abu Lahab menjawab bahwa dirinya tidak mendapatkan kebaikan setelah meninggalkan mereka, kecuali ia mendapatkan keringanan pada hari Senin karena pembebasan Tsuwaibah. 

Kisah ini kemudian dibahas panjang oleh sejumlah ulama. Ada yang menjelaskan status riwayatnya, ada yang membahas kemungkinan riwayat tersebut bersambung atau tidak, dan ada pula yang menyoroti bahwa kisah tersebut berkaitan dengan mimpi. Bagian ini memang tidak sesederhana sekadar “Abu Lahab senang lalu pasti mendapat pahala”.

Sebagian ulama juga menjelaskan kemungkinan bahwa keringanan tersebut merupakan bentuk karunia Allah atau penghormatan yang berkaitan dengan Nabi , bukan berarti amal orang kafir otomatis diterima sebagai ibadah. Bahkan dijelaskan pula bahwa persoalan keringanan azab dan diterimanya amal merupakan dua perkara yang perlu dibedakan. 

Ujung pembahasannya balik lagi ke satu hal: jangan buru-buru menyamakan semua bentuk pertemuan dengan ibadah khusus. Pahami dulu maksudnya. Maulid bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah, mengenal akhlaknya, mempelajari sirahnya, dan mengajak orang kepada kebaikan.