Dibalik Penyebaran Agama di Nusantara

Ada semacam kelelahan intelektual yang kerap dirasakan oleh sebagian pemikir Muslim Cibiru ketika membaca narasi arus utama mengenai masuknya Islam ke Nusantara (atau Indonesia). Terutama karena kalimat klise yang sering kita dengar berulang-ulang di berbagai forum, khususnya forum-forum NU (Nahdlatul Ulama): “Islam di Indonesia disebarkan secara damai, mempertahankan budaya lokal, ramah, rahmatan lil ‘alamin, dan bla bla bla.”

Pertanyaan mendasarnya adalah budaya apa yang sebenarnya dipertahankan? Tradisi mana yang benar-benar dilestarikan? Tentu saja pertanyaan ini tidak bisa dijawab: “Budaya wayang, tahlilan, ziarah kubur, dan lain-lain.” Itu bukan kebudayaan dalam arti substansial. Sekali lagi, bukan itu yang dimaksud.

Jika ditarik pada pertanyaan yang lebih radikal, kita dipaksa merenung “sebenarnya, apa bakat peradaban bangsa kita?”

Untuk mengukur hal ini, mari kita bandingkan dengan Persia. Selama berabad-abad, Persia adalah pusat peradaban agung yang melahirkan ribuan capaian intelektual dan kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika jatuh ke tangan Islam, Persia tidak kehilangan DNA peradabannya, mereka tetap menjadi raksasa intelektual. Bahkan kalau kita pinjam teori Barat, Era Keemasan Islam (menurut Barat) terjadi antara abad ke-8 hingga ke-12 Masehi, dengan ditandai pilar-pilar sains yang kokoh yang sebagian besar didominasi oleh para ulama dan ilmuwan asal Persia.

Namun, pertanyaannya kemudian mengapa kemajuan sains dunia Islam yang megah itu seolah tidak berbekas di Nusantara? Apakah para pendakwah kita dahulu berada di luar garis edar ekosistem peradaban Islam global, ataukah ada rantai transmisi intelektual yang terputus sejak awal?

Perlu saya katakan, meskipun Baghdad jatuh ke tangan Mongol pada tahun 1258 Masehi, peristiwa itu tidak lantas membuat dunia Islam mendadak amnesia berjamaah dalam bidang sains. Bakat sains tetap bertahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia Islam hingga hari ini. Jika kamu melihat dunia Islam hari ini seolah-olah tertinggal soal sains, itu semua karena dua faktor utama, ketidakstabilan politik dan ketiadaan surplus ekonomi.

Namun, secara bakat dan DNA, dunia Islam secara global tidak pernah berubah. Sebab, jika kita melihat era Abbasiyah yang diagung-agungkan oleh sejarawan romantik sebagai puncak kejayaan sains dan filsafat, itu semua terjadi karena adanya kestabilan politik dan surplus ekonomi di sana. Terlepas dari dinamika itu, irisan antara dunia Islam dan tradisi sains selalu melekat sampai kapan pun. (Bab ini butuh tulisan khusus terpisah)

Akan tetapi, begitu lanskap dunia Islam kita zoom in ke lingkup Indonesia, semuanya berubah drastis seolah-olah kita terlepas dari bakat dunia Islam secara global. Terlebih jika kita menengok figur-figur yang dianggap sebagai arsitek utama Islamisasi di tanah Jawa, yakni para Walisongo. Apa yang kita temukan dalam memori kolektif masyarakat bukanlah naskah-naskah filosofis, risalah astronomi, atau manuskrip kedokteran, melainkan kisah-kisah di luar nalar, kolang-kaling jadi emas, menghilang, salat sambil terbang, hingga kisah pembuatan goa bawah tanah yang bisa menembus langsung ke Makkah. Setidaknya itu yang saya tahu.

Namun demikian, saya menduga bahwa para wali itu sejatinya adalah intelektual ulung yang berdakwah tidak melulu lewat tontonan wayang, melainkan juga menerapkan penemuan baru mereka untuk menyelesaikan masalah, mungkin di bidang pertanian, perdagangan, ekonomi, atau teknologi. Namun, dugaan saya itu sebenarnya cuma mengarang saja karena tidak ada bukti empirisnya.

Oleh karena itu, kelompok-kelompok yang suka mengagung-agungkan teori bahwa Islam datang secara murni lewat interaksi dagang yang santun, akulturasi budaya yang lembut, pameran karomah, sembari melantunkan syiir Lir-Ilir, sudah tidak bisa diterima, khususnya oleh saya. Lagi pula tidak perlu menjadi sejarawan bergelar profesor doktor untuk sekadar menolak sebuah teori. Dan rasanya tidak logis jika ketika seorang wali terbang, orang-orang yang menyaksikannya langsung bersyahadat secara serentak, “Asyhadu…”. Kalaupun memang ada orang sakti, kesaktian semacam itu tidak memonopoli agama tertentu agar bisa eksis.

Realitas yang saya lihat (dan harus kita akui serta telan mentah-mentah) terkait teori masifnya Islam di Indonesia adalah bahwa Islam menjadi masif karena instrumen kekuasaan. Selesai.

Jika ada yang berargumen bahwa dominasi Islam berakar dari era Kesultanan Demak atau Mataram, argumen tersebut memang ada benarnya, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan keseluruhan fenomena. Ketika kita menilik demografi modern di mana populasi Muslim di Indonesia mencapai angka fantastis sekitar 87 persen dan menjadi kawasan dengan populasi Muslim terbesar di dunia, angka tersebut secara statistik terasa tidak masuk akal jika hanya disandarkan pada dakwah kultural para wali atau ekspansi kerajaan-kerajaan Islam masa lalu.

Lonjakan statistik yang masif itu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari intervensi kebijakan politik modern pasca kemerdekaan mengenai kependudukan. Negara, melalui mekanisme administratifnya pada masa-masa tertentu, mewajibkan setiap warga negara untuk memeluk salah satu agama resmi yang diakui. Akibatnya, kelompok-kelompok masyarakat adat atau aliran kepercayaan yang tidak terafiliasi dengan agama formal dipaksa oleh keadaan untuk memilih kotak agama yang tersedia. Dan secara sosiologis-demografis, kebanyakan dari mereka (mungkin) menjatuhkan pilihan pada Islam. Orang-orang tua yang awalnya memilih Islam sekadar sebagai syarat memiliki KTP itu akhirnya beregenerasi, bertambah keturunannya, dan menjelma menjadi ledakan populasi Muslim secara data statistik hari ini.

Namun, tidaklah perlu mengira bahwa saya adalah orang yang anti-politik sehingga bersikap sinis dengan model Islam yang diterima karena jalur kekuasaan. Tentu saja bukan. Justru, saya hanya ingin mengajak utk merubah cara berpikir romantis agar bergeser menjadi sedikit lebih realistis dalam melihat cara dunia bekerja. Dan itu adalah cara berpikir yang sehat. Jika cara berpikir kita sudah sehat, kita bisa melihat sejarah apa adanya, tanpa ada “sopan santun” yang berlebihan dan tanpa romantisme kosong dalam membaca masa lalu.

Pada akhirnya, semua uraian ini bukan untuk menjawab pertanyaan di awal melainkan untuk menjelaskan alasan mengapa pertanyaan di awal diajukan: “Sebenarnya, bakat bangsa kita apa?”

Abdi Negara | Peretas Narasi Arus Utama | Pengagum opening caro kann defense