PANJANG UMUR PERJUANGAN

Membicarakan kondisi Indonesia hari ini nggak bisa cuma melihat satu sisi. Ekonomi, politik, dan kondisi sosial masyarakat saling berkaitan. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5,11% pada 2025 memang sering dianggap sebagai tanda keberhasilan, tapi angka tersebut belum otomatis berarti semua masyarakat hidup lebih sejahtera. Di lapangan, daya beli masih menghadapi tekanan inflasi, kenaikan harga BBM, pelemahan rupiah terhadap dolar, dan distribusi ekonomi yang belum merata. Jadi, ekonomi tumbuh, tapi pertanyaannya: tumbuh untuk siapa?

Di sisi lain, negara juga menjalankan berbagai program seperti pendidikan gratis, Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi desa, pemerataan teknologi, dan pembangunan infrastruktur. Program-program ini tentu punya tujuan baik, tetapi tetap perlu dikritisi dari sisi efektivitas, keberlanjutan anggaran, dan skala prioritas. Jangan sampai APBN dibebani terlalu banyak program, sementara sektor kesehatan, termasuk pembiayaan BPJS, masih menghadapi persoalan defisit dan utang.

Masalahnya makin rumit ketika ekonomi bertemu politik. Regulasi yang tumpang tindih, persoalan rangkap jabatan, sampai kebijakan yang lebih mengedepankan loyalitas daripada kompetensi dan moralitas bisa membuat birokrasi nggak efektif. Pengangguran, ketimpangan, korupsi, kolusi, dan nepotisme akhirnya menunjukkan bahwa persoalan Indonesia bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan struktural dan moral.

Dalam perspektif ekonomi klasik, Ibn Khaldun menekankan pentingnya spesialisasi kerja sesuai keahlian, sementara Adam Smith melihat kualitas kerja dan produktivitas sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi. Ini relevan dengan persoalan pengangguran hari ini. Masalahnya bukan hanya lapangan kerja yang kurang, tetapi juga adanya mismatch antara kemampuan tenaga kerja dan kebutuhan pasar. Karena itu, pendidikan berkualitas mestinya mendapat perhatian serius, bahkan jangan sampai kalah oleh pembangunan infrastruktur.

ISLAM HANYA BICARA SURGA NERAKA?

Kemudian muncul pemikiran Ali Shari’ati yang membuat persoalan ini bisa dibaca lebih dalam. Bagi Shari’ati, Islam bukan cuma agama ritual, tetapi juga kekuatan pembebasan dari ketidakadilan, penindasan, dan ketimpangan. Tauhid bukan berhenti sebagai konsep tentang keesaan Allah, tetapi harus punya konsekuensi sosial. Ketika kekuasaan, modal, atau kepentingan elite ditempatkan di atas keadilan, di situlah muncul apa yang bisa dibaca sebagai bentuk syirik sosial.

Shari’ati juga membaca sejarah melalui pertarungan Habil dan Qabil. Habil menjadi simbol keadilan, persamaan, dan solidaritas, sedangkan Qabil menggambarkan monopoli, eksploitasi, dan penindasan. Dalam konteks Indonesia, pertarungan semacam ini bisa terlihat dari tarik-menarik antara kepentingan rakyat dan kepentingan elite. Maka, perubahan nggak cukup ditunggu dari atas. Bagi Shari’ati, al-nas atau massa rakyat justru menjadi motor perubahan sejarah. Prinsip ini sejalan dengan Al-Qur’an bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah keadaan mereka.

Mahasiswa punya posisi penting. Mahasiswa bukan cuma orang yang belajar teori ekonomi makro di kelas, lalu selesai. Mereka punya akses terhadap ilmu, data, teori, dan kemampuan berpikir kritis. Karena itu, mahasiswa seharusnya mampu bertanya: kenapa pertumbuhan belum merata? Kenapa pengangguran masih muncul? Kenapa kebijakan publik kadang nggak efektif? Dan yang paling penting, apa solusi yang bisa ditawarkan?

Semangat kritik ini juga punya landasan dalam pemikiran Imam Nawawi tentang amar ma’ruf nahi munkar. Beliau menjelaskan:

فإن لم يمكن الوعظ سرا والإنكار فليفعله علانية لئلا يضيع أصل

“Jika nasihat dan kritik tidak bisa disampaikan secara sembunyi-sembunyi, maka lakukan secara terang-terangan agar prinsip kebenaran tidak hilang.”

Artinya kritik terhadap penguasa atau kebijakan yang keliru bukan sesuatu yang otomatis salah. Kritik bisa menjadi bentuk tanggung jawab sosial, selama tujuannya menegakkan kebenaran dan kemaslahatan, bukan sekadar melampiaskan emosi atau menciptakan kekacauan.

Maka demonstrasi mahasiswa jangan berhenti pada slogan. Mahasiswa harus menjadi intelektual tercerahkan seperti gagasan Ali Shari’ati: sadar terhadap realitas, memahami akar persoalan, lalu mendorong perubahan yang konstruktif. Kritik harus punya data, argumentasi, dan arah yang jelas. Sebab demonstrasi tanpa ilmu gampang berubah menjadi keramaian tanpa tujuan.

Ujung-ujungnya Indonesia membutuhkan generasi muda yang gak apatis, tapi juga gak reaktif tanpa dasar. Mahasiswa ideal adalah mereka yang mampu menggabungkan kecerdasan intelektual, kepekaan sosial, dan integritas moral. Mereka bukan cuma berani bertanya “ada apa?”, tetapi juga sanggup menawarkan “harus bagaimana?”.


WILUJENG MAPAG SEPTEMBER HITAM 🔥✨