Ada satu hal yang agak bikin garuk-garuk kepala ketika kita membaca sejarah Abdul Qadir al-Jailani. Hari ini namanya begitu besar. Mau bicara tasawuf, tarekat, wali, karamah, manaqib, bahkan tradisi Sunni secara umum, nama al-Jailani hampir selalu muncul. Ia dihormati dari Baghdad sampai Nusantara. Banyak orang mengenalnya sebagai Ghauts al-Adzom, wali besar, bahkan pusat kewalian. Seolah-olah sejak awal memang begitulah posisinya. Padahal, tunggu dulu. Coba kita mundur ke Baghdad ketika al-Jailani masih hidup. Gambarnya ternyata tidak sesederhana itu.
Al-Jailani lahir sekitar 470 H/1077 M di Jilan, lalu berangkat ke Baghdad. Di sana ia belajar, berguru, berdakwah, sampai akhirnya menjadi salah satu ulama yang cukup dikenal. Ia belajar kepada Abu Sa‘id al-Mukharrimi, seorang ulama Hambali, kemudian mengambil alih madrasah tempatnya belajar. Jadi dari awal saja identitasnya sudah cukup jelas: al-Jailani adalah ulama Hambali.¹
Nah, masalahnya, Baghdad waktu itu bukan tempat di mana semua orang Sunni duduk rukun sambil ngopi dan membahas kitab. Jauh dari itu, Hanbali dan Asy‘ari punya sejarah ketegangan yang panjang. Bahkan sebelum al-Jailani datang ke Baghdad, konflik itu sudah pernah meledak. Pada 469 H/1076–1077 M, kedatangan Abu Nasr al-Qushayri, seorang tokoh Asy‘ari, memicu ketegangan dengan kelompok Hambali Baghdad². Konfliknya tidak berhenti pada perdebatan kitab. Kerusuhan pecah, terjadi kekerasan, bahkan pemerintah harus turun tangan.
Ketika al-Jailani datang ia sebenarnya masuk ke arena yang sudah panas. kita sering membaca kata “Sunni” seolah-olah sejak awal semuanya sudah berada dalam satu paket yang rapi yakni Hambali, Asy‘ari, Maturidi, sufi, ahli hadis, semuanya tinggal disebut Ahlussunnah, beres. Padahal tidak semudah itu , bujang!!.
Pada masa al-Jailani, batas-batas Sunni sendiri sedang diperebutkan. Siapa yang benar? Siapa yang menyimpang? Bagaimana sifat Tuhan dipahami? Sampai sejauh mana akal boleh dipakai dalam akidah? Bahkan persoalan takfir ikut masuk dalam pertarungan itu. Al-Ghazali sendiri dalam Faisholl Tafriqoh membicarakan problem saling menyesatkan dan mengkafirkan di antara Hambali dengan Asy’ari. Artinya, konflik teologi saat itu bukan sekadar debat istilah. Ada persoalan otoritas di belakangnya seperti siapa yang berhak menentukan batas “Islam yang benar”? Di tengah situasi seperti itu, al-Jailani justru berdiri dengan identitas Hambalinya bukan cuma identitas di kartu nama.
Al-Ghunyah yang dinisbatkan kepadanya memperlihatkan kuatnya orientasi Hambali tersebut (bagi yang ingin menyimak kesahihan semua isi penisbatannya, simak berikut ini: https://diskursus.id/penyusupan-terhadap-al-gunyah-bukti-historis-vs-doktrin-teologis/ ). Dalam beberapa persoalan teologi, al-Jailani menghajar pandangan tradisi kalam, termasuk posisi Asy‘ari. secara historis, agak aneh bila al-Jailani langsung dibayangkan sebagai figur yang sejak awal berdiri di tengah-tengah semua kelompok Sunni tanpa persoalan. “Sunni” pada zamannya belum tentu sama dengan konstruksi Sunni yang kita kenal sekarang.
al-Jailani kemudian menjadi sangat besar. Pertanyaannya: kok bisa?
Jawabannya ternyata bukan karena ia berhasil membuat semua orang sepakat dengan teologinya. No, no yaa!! Al-Jailani menjadi besar karena ia didengar. Ia punya mimbar. Ia punya majelis. Ia punya kemampuan bicara. Ia punya bahasa dakwah yang bisa menyentuh orang biasa. Ia tidak hanya membicarakan persoalan akidah yang njelimet. Ia berbicara tentang dosa, kematian, taubat, dunia, kemiskinan, keserakahan, kesabaran, tawakal, serta bagaimana manusia menghadapi hidup.
Khutbah-khutbahnya kemudian dikenal melalui al-Fath al-Rabbani. Di sana kita bisa melihat al-Jailani bukan sebagai sosok yang duduk diam di ruang perpustakaan, tetapi sebagai pendakwah yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
Nnnnnaahhh, di sinilah faktor sosial mulai masuk. Al-Jailani hidup dalam suasana politik yang tidak stabil. Kekuasaan Seljuk mengalami berbagai pergolakan. Masyarakat menghadapi ketidakpastian, persoalan ekonomi, kemiskinan, serta tekanan kehidupan. Kondisi seperti itu lantas muncul seorang pendakwah yang mengatakan jangan diperbudak dunia, jangan terlalu mengejar harta, sabar, tawakal, kembali kepada Tuhan, perbaiki hati. Bahasa seperti itu tentu punya daya tarik. Popularitas al-Jailani tidak harus langsung dilempar ke wilayah karamah.
Sebelum orang menganggapnya wali luar biasa, orang terlebih dahulu datang karena ceramahnya. Ia didengar, diikuti, dipercaya, kemudian dihormati, endgame otoritas mulai terbentuk. Setelah ia meninggal, justru ceritanya semakin menyala yang mana fase glorifikasi dimulai.
AL-JAILANI YANG HIDUP BERUBAH MENJADI AL-JAILANI YANG DICERITAKAN
Cerita tentang karamah bermunculan. Gelar-gelar kewalian semakin kuat. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai ulama Hanbali dan pendakwah Baghdad. Ia mulai ditempatkan sebagai Ghauts al-Adzhom, Qutb, bahkan sebagai pusat dari jaringan kewalian³.
Nah, ini bukan perubahan kecil. Bayangin saja. Ketika hidup “Ini Syekh Abdul Qadir, ulama Hambali Baghdad.” Beberapa generasi kemudian “Ini wali besar.” Lalu berkembang lagi “Ini Ghauts al-Adzom.” Kemudian pasca wafatnya satu abad dikenal “Ini pusat kewalian⁴.”
Lho, kok bisa? Ya ndaa tau kok tanya saya hmm!!
Hehe becanda, yuk bareng tengok. Ingat! manusia tidak cuma mewarisi sejarah. Manusia juga mewarisi cerita. Salah satu contoh paling jelas adalah Bahjat al-Asrar karya al-Shattanufi. Kitab ini muncul lebih dari satu abad setelah al-Jailani wafat. Di dalamnya, al-Jailani tampil jauh lebih luar biasa dibanding gambaran seorang ulama yang hidup di Baghdad. Karamah, kemampuan luar biasa, kedudukan sebagai wali, sampai gambaran kosmik tentang dirinya semakin menebal.
Di sinilah jarak waktu justru bekerja secara aneh. Semakin jauh manusia dari al-Jailani historis, semakin besar al-Jailani dalam ingatan mereka. Ketika hidup, ia manusia yang mengajar. Setelah wafat, ia wali. Beberapa generasi kemudian, ia menjadi pusat kewalian⁵.
Lalu nama itu menyebar melalui murid⁶, keturunan, Qadiriyah, manaqib, makam, ziarah, dan cerita karamah. Orang menghormati al-Jailani bukan cuma karena satu alasan. Ada reputasi dakwahnya ketika hidup. Ada identitas Hambalinya. Ada kemampuan retorikanya. Ada bahasa tasawuf yang menyentuh kehidupan masyarakat. Ada jaringan murid. Ada keturunan. Ada makam. Ada tarekat. Ada kitab manaqib. Ada cerita karamah. Semua lapisan itu menumpuk. Akhirnya terbentuklah sesuatu yang jauh lebih besar daripada sosok awalnya.
KENANGAN JAELANI
Memori itu bahkan mampu melewati konflik Hambali-Asy‘ari yang dahulu mengitari kehidupannya. Nah, di sinilah paradoks paling menarik muncul. Al-Jailani secara historis punya identitas Hambali yang kuat. Ia hidup dalam masa konflik Hambali VS Asy‘ari. Ia tidak begitu saja menerima sejumlah doktrin Asy‘ari. Tetapi beberapa generasi setelahnya, ia justru menjadi figur yang bisa diterima jauh lebih luas dalam dunia Sunni.
Ini bukan berarti tiba-tiba ada rapat besar para ulama Asy‘ari lalu mereka berkata
“ Bro, mulai hari ini Abdul Qadir kita masukkan ke keluarga besar Sunni.” Sejarah tidak bekerja sesederhana itu kalii!!. Yang berubah bukan teologi al-Jailani, yang berubah adalah cara orang mengingat al-Jailani.
PIYEE?? WIS SIMPELNYA GINIII LOH
Identitas Hambali tetap ada. Namun di atas identitas itu tumbuh lapisan tasawuf, karamah, kewalian, manaqib, Qadiriyah, makam, ziarah, serta penghormatan masyarakat. Lapisan-lapisan tersebut membuat al-Jailani bisa ditempatkan dalam ruang Sunni yang jauh lebih luas.
Kesentralan al-Jailani bukan sesuatu yang langsung jadi ketika ia hidup. Ia diproduksi secara bertahap. Pertama, ia punya otoritas sebagai ulama, kemudian punya otoritas sebagai pendakwah lalu punya otoritas sebagai guru spiritual. Setelah wafat, otoritas itu berubah menjadi kewalian, terus kisah karamah berkembang, kewalian berubah menjadi kesakralan.
Setelah Qadiriyah menyebar, kesakralan berubah menjadi jaringan sosial serta keagamaan yang jauh lebih luas. Kira-kira dari sinilah al-Jailani bergerak dari guru Baghdad menjadi simbol Sunni serta di sini juga kita bisa melihat sesuatu yang agak mengganggu kesimpulan sederhana tentang sejarah Sunni.
DENISSS!! KAMU BAYANGIN!! (Baca dengan nada Adit, Sopo Jarwo)
Seorang tokoh tidak selalu menjadi sentral karena sejak awal semua orang sepakat dengannya. Kadang, kesentralan justru lahir dari generasi setelahnya, saat berbagai kelompok mulai menemukan kepentingannya sendiri dalam satu figur. Kesentralan al-Jailani bukan cuma soal apa yang ia lakukan ketika hidup, melainkan bagaimana generasi sesudahnya mengolah, memperluas, dan menyebarkan namanya. Beranjak manusia historis menjadi simbol spiritual, otoritasnya terus diproduksi ulang. Mungkin Mama Ghufron pun bisa sekeren al-Jaelani cukup langkah pertama beliau meninggoy terus pengikut nya mengglorifikasi nya sedemikian rupa, dan jadilah Mama Ghufron Quthub aqthob di zaman nya, anjayyy hehe. Hereuy duhh…
Referensi:
- Lawrence, Bruce B. “ʿAbd al-Qādir al-Jīlānī.” Oxford Bibliographies in Islamic Studies. Oxford University Press. Oxford Bibliographies – ʿAbd al-Qadir al-Jilani
- Ibnu Katsir. Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, tahqīq Syairi, jil. 12, hlm. 140. “Kitāb Tārīkh al-Islām al-Awwal: Ṡumma Dakhalaṭ Sanah Tis‘in wa Sittīn wa Arba‘imi’ah.” Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Held, Pascal. “Baghdad during the Time of ʿAbd al-Qādir al-Jīlānī.” Journal of Islamic Studies 35, no. 2 (2024): 257–286.
- Allen, Jonathan dan Ahmet T. Karamustafa. “ʿAbd al-Qadir al-Jilani (Gilani).” Oxford Bibliographies in Islamic Studies. Oxford University Press, 29 Mei 2014. Oxford Academic.
- Lawrence, Bruce B.. “ʿABD-AL-QĀDER JĪLĀNĪ.” Encyclopaedia Iranica. Published December 15, 1982. https://doi.org/10.1163/2330-4804_EIRO_COM_4330
- Cook, David dan M. Dawood, “On the History of Sufism in Australia: A Manuscript from the Broken Hill Mosque,” Journal of Sufi Studies 11, no. 1 (2022): 115–135.







