Ontologi Politik Islam, Kuasa, dan Jerit Eksistensial Manusia

Kubah langit modernitas yang benderang namun senyap oleh alienasi, politik telah kehilangan ruh transendentalnya. Politik tidak lagi bersemayam sebagai seni merawat polis, melainkan menjelma menjadi mesin penindas berwajah ganda yang bersembunyi di balik algoritma digital yang membungkam nurani, jubah birokrasi yang mematikan akal budi, hingga reruntuhan beton di Gaza yang bersimbah darah.

Mari menguliti realitas dan mempertanyakan ulang hakikat manusia politik (homo politicus), struktur kekuasaan (power), otoritas (authority), hukum (shari’a), hingga keadilan (justice) yang kian kehilangan makna.

Ketika kerangka Social Ontology dipinjam melalui lanskap pemikiran Gerhard Bowering, seorang sarjana studi Islam kontemporer abad ke-20 hingga ke-21 asal Jerman-Amerika, dunia sosial bukanlah realitas yang jatuh dari langit begitu saja. Dunia sosial merupakan bentukan dari kesadaran kolektif, konvensi, dan relasi kuasa yang terus-menerus dinegosiasikan. Namun, bagaimana bangunan wujud tersebut merosot sekaligus bangkit di tengah turbulensi zaman? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penjelajahan merentang melalui jalinan benang merah dari pemikiran para tokoh pemikir yang masing-masing meretakkan cermin kemapanan, merajut kontinuitas gagasan dari ontologi murni menuju perlawanan empiris di bumi nyata.

Zainab Al-Ghazali dan Pertarungan Ummah

Perjalanan ontologis bermula dari rahim penderitaan eksistensial. Ketika negara modern berubah menjadi monster totaliter yang mencabut legitimasi moral rakyat, di mana letak kedaulatan manusia? Pertanyaan tersebut dijawab secara radikal oleh Zainab al-Ghazali (tokoh Islam perempuan terkemuka asal Mesir abad ke-20) dalam karyanya Ayyam min Hayati. Di dalam terali besi penjara Mesir, Zainab al-Ghazali merumuskan otonomi masyarakat sipil yang terlepas dari belenggu negara (stateless resistance).

Pemikiran Zainab al-Ghazali menemukan cerminan paling autentik di Gaza hari ini. Ketika struktur negara-negara berdaulat bertekuk lutut di bawah geopolitik imperialisme dan Perserikatan Bangsa-Bangsa berubah menjadi panggung sandiwara yang bisu, ummah tidak mati. Ummah bermutasi menjadi jaringan solidaritas akar rumput yang merawat luka mereka sendiri. Perlawanan hari ini tidak lagi menunggu restu istana; perlawanan adalah napas harian dari manusia-manusia yang menolak tunduk pada mesin pemusnah kolonial, membuktikan bahwa legitimasi kekuasaan runtuh seketika kekuasaan berkhianat pada kemanusiaan.

Hamid Enayat dan Hamid Dabashi Tentang Dialektika yang Membatu dan Penjara Epistemik

Namun, ketika perlawanan berhasil merebut ruang, bahaya baru mengintai; pembekuan dogma. Di sinilah Hamid Enayat (sejarawan serta pemikir politik Islam asal Iran abad ke-20) masuk membawa kritik dialektika politik modern dalam Islam. Hamid Enayat mengingatkan bahwa benturan antara tradisi dan modernitas tidak bisa diselesaikan melalui romantisme masa lalu atau teokrasi yang menutup diri dari kritik. Ketika agama diletakkan sebagai legitimasi tunggal kekuasaan tanpa ruang dialektika rasional, seperti yang tampak dalam paradoks teokrasi di kawasan Timur Tengah kontemporer, kondisi tersebut melahirkan alienasi mendalam. Otoritas agama yang menolak kebebasan subjektif warganya hanya memproduksi tirani baru yang mengawasi kamar tidur serta pikiran rakyat.

Perluasan atas kritik struktural tersebut disempurnakan oleh Hamid Dabashi (filsuf budaya serta kritikus pascakolonial asal Iran-Amerika abad ke-20 hingga ke-21) melalui konsep Post-Orientalisme dan Theology of Discontent. Hamid Dabashi membongkar fakta bahwa kolonialisme tidak pernah mati; kolonialisme bermutasi menjadi surveillance capitalism yang berkolusi dengan kekuasaan global dan hegemoni epistemik tatkala narasi Dunia Ketiga terus-menerus disensor serta dilabeli secara algoritmik oleh pusat-pusat kekuasaan global. Otonomi intelektual menjadi harga mati; menolak terus-menerus membeo pada standar Barat, sekaligus melawan teologi penindasan lokal yang berkonklusi dengan kekuasaan global.

Maxime Rodinson dan Ahmad Wahib Tentang Materialisme Sejarah dan Dekonstruksi Tabu

Di balik wacana teologis dan politik tersebut, terdapat struktur material yang sering kali sengaja disembunyikan. Di sinilah Maxime Rodinson (sosiolog, sejarawan, sekaligus orientalis Marxis asal Prancis abad ke-20) menelanjangi realitas melalui pisau bedah materialisme historis. Maxime Rodinson membongkar mitos bahwa masyarakat Islam awal merupakan entitas anti-pasar, sekaligus menunjukkan bagaimana Nabi Muhammad mengelola tatanan serta keadilan distributif secara strategis di tengah dinamika kapitalisme dini Mekkah. Namun, kritik Maxime Rodinson menohok tajam realitas hari ini; ketika kapitalisme dini tersebut kini telah dibajak oleh oligarki rente yang bersembunyi di balik simbol-simbol kesalehan formal demi merampas tanah serta mengeksploitasi buruh. Agama direduksi menjadi komoditas moral, sementara ketimpangan struktural dibiarkan menganga.

Untuk membongkar kemunafikan struktural tersebut, manusia membutuhkan kebebasan radikal. Di ruang perenungan catatan harian, Ahmad Wahib (pemikir pembaruan Islam progresif asal Indonesia abad ke-20) menyalakan api teologi kebebasan mutlak. Ahmad Wahib mendekonstruksi segala tabu intelektual yang mengurung akal budi. Bagi Ahmad Wahib, manusia politik sejati adalah agen bebas (free agent) yang memegang kedaulatan moral mutlak di hadapan Tuhan, menolak tunduk pada sakralitas palsu yang dipelihara kaum konservatif. Di tengah gelombang sensor serta cancel culture hari ini, roh Ahmad Wahib mendesak setiap individu untuk berani mempertanyakan sinergi busuk antara kekuasaan dan mayoritarianisme yang menindas kaum marginal.

Deliar Noer tentang Tragedi Panggung Elektoral

Akhirnya, seluruh pergulatan teoretis dan eksistensial tersebut bermuara di panggung praktis kekuasaan. Melalui audit kritis Deliar Noer (ilmuwan politik serta sejarawan terkemuka gerakan Islam asal Indonesia abad ke-20) atas gerakan modernis Islam di Indonesia, pengamat dihadapkan pada dilema abadi; tragedi pragmatisme politik. Deliar Noer menelanjangi bagaimana cita-cita purifikasi dan pencerahan sosial kerap luntur begitu saja ketika gerakan Islam memasuki arena kekuasaan formal serta birokrasi elektoral.

Cermin Deliar Noer terpampang sangat telanjang di Indonesia hari ini. Ketika kaum beragama larut dalam transaksi koalisi, bagi-bagi kekuasaan, dan kompromi terhadap pelemahan hukum serta perusakan ekologi atas nama “maslahat kekuasaan”, gerakan tersebut kehilangan daya profetik. Politik Islam tereduksi menjadi sekadar kendaraan transaksional, bukan lagi mercusuar keadilan.

Memilih Berpihak di Simpang Jalan Sejarah

Merajut pemikiran para tokoh membawa peradaban pada satu hipotesis ontologis yang utuh, bahwa politik Islam bukanlah benteng dogma yang statis, melainkan medan pergulatan hidup dan mati antara manusia yang merdeka dan struktur kuasa yang menindas. Dari perlawanan tanpa negara ala Zainab al-Ghazali, dialektika Hamid Enayat, perlawanan epistemik Hamid Dabashi, pembongkaran material Maxime Rodinson, kebebasan radikal Ahmad Wahib, hingga kritik tajam Deliar Noer atas pragmatisme elektoral, seluruh pemikiran menuntut satu hal mutlak yaitu kesadaran organik-reflektif.

Di persimpangan jalan zaman yang babak belur tersebut, cermin retak telah memantulkan ulang wajah kemanusiaan kita sendiri. Pertanyaan mendasar kini bukan lagi perihal apa yang dikatakan oleh teks-teks usang, melainkan; di sisi mana sejarah akan mencatat keberpihakan kita?


Daftar Pustaka

Bowering, Gerhard, ed. 2015. Islamic Political Thought: An Introduction. Princeton: Princeton University Press.

Dabashi, Hamid. 2008. Islamic Liberation Theology: Resisting the Empire. London: Routledge.

Dabashi, Hamid. 2009. Post-Orientalism: Knowledge and Power in Time of Terror. New Brunswick: Transaction Publishers.

Dabashi, Hamid. 2011. Theology of Discontent: The Ideological Foundation of the Islamic Revolution in Iran. New Brunswick: Transaction Publishers.

al-Ghazali, Zainab. 2006. Ayyam min Hayati (Hari-Hari dalam Hidupku). Diterjemahkan oleh Salafuddin Abu Sayyid. Jakarta: Gema Insani Press.

Enayat, Hamid. 1982. Modern Islamic Political Thought: The Response of the Shi’i and Sunni Muslims to the Twentieth Century. Austin: University of Texas Press.

Noer, Deliar. 1973. The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900–1942. Ithaca: Cornell University Press.

Rodinson, Maxime. 1973. Islam and Capitalism. Diterjemahkan oleh Brian Pearce. London: Paul Watts.

Rodinson, Maxime. 1971. Mohammed. Diterjemahkan oleh Anne Carter. London: Allen Lane The Penguin Press.

Stanford Encyclopedia of Philosophy (SEP). “Social Ontology.” Stanford University.

Wahib, Ahmad. 1981. Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Diedit oleh Djohan Effendi dan Ismet N Hakim. Jakarta: LP3ES.

CEO Madzhab Cipta Kondisi & Ketua DKM (Dewan Kemakmuran Mushola) An-nahdoh Al-Islamiyyah