Kanal Alternatif, “Mens Rea” Adalah Salah Satunya

Aktivis pendidikan mulai dari penulis, pemikir, pengamat, pemerhati, peneliti, praktisi atau apapun itu nampaknya sudah terlalu banyak membicarakan tentang bagaimana pendidikan itu dalam aspek teknis, sistem, metode atau konten-konten lain yang bau-baunya seperti obat. Polanya sama yaitu menang-menangan dalam efektivitas suatu implementasi untuk pengendalian mutu dengan dalih penilaian atau memuaskan pelanggan.

Metode lama sakit, diobati degan metode baru. Kurikulum lama sakit, diobati dengan pengembangan kurikulum yang baru dan terus saja begitu dalam segala aspeknya dengan fokus pendidikan tersebut hanya kepada patokan standar demi standar baku pada ujungnya. Pendidikan jadi hanya bicara tentang prestasi akademik dan penghargaan, kualitas lulusan dan serapanya di dunia kerja yang bergengsi, bla-bla-bla. Sementara aktivis pendidikan jarang mengungkap pentingnya tindakan sekolah dalam mendidik dan melatih jenis warga negara yang dibutuhkan oleh bangsanya.

Pada akhirnya pendidikan jadi mengungkung masyarakat bahkan dengan membiarkan mereka tidak mengetahui dinding dan jeruji besi penjaranya itu sendiri. Orang-orang seakan menjadi teralienasi, Jonatan Kazol mengumpamakan seperti orang-orang di tengah gelap malam dan jauh dari rumah. Sadar tidak sadar isi pendidikan seratus tahun terakhir ini penuh dengan racun dan kita tidak diperbolehkan untuk mengutuk fakta tersebut atau kita menerima cap buruk karena akan mendobrak kemapanan, berpotensi merusak mereka yang berkepentingan baik itu urusan pelanggan atau kekuasaan.

Dalam sebuah kisah nyata seorang saksi persidangan perkara kejahatan perang My Lai pernah menjelaskan kepada pengadilan bahwa seorang serdadu di pembantaian My Lai mengaku tak mampu untuk merasakan tindakannya sendiri. Dia menembaki orang tanpa alasan, dia kehilangan dirinya, dia kehilangan kemampuan untuk merasa, karena menganggap dia dilatih untuk tak peduli, untuk membunuh dan untuk patuh.

Mungkin juga kita dalam konteks yang berbeda sering kali berpikir bahwa kita sebenarnya terpental jauh dari rasa, dari hati, dari pikiran dari realita. Kesusahan menangkap apa yang ada, terlena dan pasrah dengan pembodohan-pembodohan dari permainan sebuah kuasa. Pendidikan dengan kurikulumnya tak mengajarkan kita untuk sadar menjawab persoalan kehidupan kita sendiri, atau bahasa halusnya terdapat butir-butir kesadaran yang tak didapatkan dilembaga pendidikan.

Melihat itu, apa salahnya ketika masyarakat ini mencoba membuka kanal-kanal lain di luar lembaga pendidikan yang membicarakan butir-butir yang tidak ditangani negara sebagai persoalan mendasar dalam pendidikan. Kanal-kanal untuk melatih warga negara agar sadar terhadap persoalan bangsanya.

Itu yang barangkali saya lihat sebagai maksud dari program Mens Rea Stand Up komedi milik Pandji. Jelas dalam ungkapannya sasaran dari konten-konten program tersebut adalah masyarakat yang goblok yang mudah dibodohi. Upaya pencerdasan melalui gaya baru yang menarik agar masyarakat sadar terhadap kondisi dirinya, orang sekitar, dan negaranya.

Ruang-ruang seperti itu seharusnya diperlukan juga oleh negara, bukan malah menganggapnya sebagai sebuah ancaman karena masyarakat memang membutuhkan alternatif persekolahan untuk berkembang. Lembaga pendidikan juga perlu mengakui bahwa pengajaran kehidupan tidak sebatas kurikulum, buku paket, seragam dan kehadiran saja. Tatkala adanya kealfaan dari lembaga pendidikan di sana maka sudah sewajarnya pendidikan itu perlu dimasyarakatkan.

Utopis memang bagi kita mewujudkan cita-citanya Deschooling Society secara total karena telah mengakarnya monopoli legitimasi yang ada. Namun dengan kiat alternatif persekolahan dari masyarakat bagaimanapun bentuknya itu dapat mengaburkan kejahatan-perjuangan hidup-mati yang sedang berlangsung, tentang peperangan politik yang menyangkut kepentingan-kepentingan, ideologi-ideologi, persaingan-persaingan yang cukup realistis dan membahayakan, tanpa embel-embel kurikulum.

Selain itu, kanal-kanal pencerdasan di luar lembaga pendidikan juga dapat mengantisipasi persilangan pendapat di arena sempit sekolah. Itu tidak akan mencampuri urusan birokrasi yang pelik, tidak terkungkung struktur korporasi yang angin-anginan masyarakat menjadi leluasa menjalankan proyek-proyek kebajikan tanpa embel-embel penilaian. Maka negara harus mendukung segala bentuk pencerdasan kehidupan bangsa baik terlembagakan atau tidak dan mewujudkan pendidikan yang ilmiah, mengabdi pada rakyat.