“Kota yang ramah,” begitu katanya. Kota yang kalau bicara pelan, kalau menegur halus, dan kalau marah pun katanya masih pakai senyum. Kota yang sering dijadikan tempat pulang oleh orang-orang yang lelah dengan kota asalnya. Termasuk saya. Tapi entah sejak kapan, ada satu wilayah kecil yang terasa seperti salah alamat. Sebuah kawasan yang denyutnya lebih cepat, nadanya lebih tinggi, dan emosinya gampang meletup. Kita sebut saja daerah yang marah. Atau, biar agak dramatis, Gotham City di kota yang ramah.
Di daerah yang marah ini, marah bukan lagi sekadar perasaan. Ia sudah berubah jadi pesan. Ia dikirim lewat klakson, tatapan tajam, motor yang melaju setengah sentimeter dari kaki orang, dan suara “Mas!” yang nadanya tak pernah netral. Dialognya singkat, padat, dan penuh keyakinan tanpa wasit, tanpa VAR. Semua merasa pesannya paling jelas, padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Ironisnya, semua ini berlangsung di kota yang selama ini kita bayangkan santai dan penuh tenggang rasa. Tapi di Gotham City versi lokal ini, komunikasi tidak pernah benar-benar sempat bernapas. Semua serba cepat. Pesan belum selesai dikirim, respons sudah datang lebih dulu. Seolah-olah kawasan ini hidup dalam logika komunikasi instan: tidak ada waktu untuk klarifikasi, apalagi empati.
Daerah yang marah ini bukan sekadar jalan. Ia adalah ruang komunikasi publik yang paling jujur. Di sinilah berbagai pesan bertabrakan: pesan dari mahasiswa rantau yang sedang dikejar waktu, pesan dari warga lama yang ingin hidup tenang, pesan dari pengemudi daring yang bergantung pada rating, pesan dari kurir yang hidup dari kecepatan, dan pesan dari pejalan kaki yang berharap dibaca sebagai manusia. Semua berbicara. Masalahnya, tidak semua didengar.
Kalau meminjam cara berpikir interaksionisme simbolik, orang bertindak bukan karena rambu, tapi karena makna yang ia tangkap dari situasi. Masalahnya, di daerah yang marah, makna itu sering salah tangkap. Jalan yang sama dibaca dengan kamus berbeda. Bagi sebagian orang, klakson adalah peringatan. Bagi yang lain, ia adalah serangan. Dari sinilah konflik kecil berubah jadi drama besar.
Marah lalu menjelma jadi bahasa paling efektif atau setidaknya paling cepat. Dalam teori komunikasi nonverbal, ekspresi, intonasi, dan gestur sering kali lebih kuat dari kata-kata. Di Gotham City ini, klakson menggantikan kalimat, tatapan menggantikan argumen, dan nada suara menggantikan niat baik. Semua serba implisit, tapi dampaknya eksplisit.
Yang menarik, setelah berbincang dengan penduduk lama, ada satu hal yang terasa kontras. Mereka terbiasa dengan komunikasi berlapis: tidak semua pesan harus diucapkan. Nada dijaga, konflik dihindari, dan emosi disimpan rapi. Ini kota dengan budaya konteks tinggi meminjam istilah Edward T. Hall di mana makna sering disampaikan lewat isyarat halus, bukan ledakan suara.
Masalahnya, daerah yang marah dipenuhi pendatang dari budaya komunikasi yang lebih langsung. Di tempat asal, bicara keras bukan masalah. Tegas dianggap jujur. Klakson panjang adalah cara cepat menyampaikan pesan. Ketika dua budaya komunikasi ini bertemu tanpa kesepakatan makna, yang lahir bukan dialog, tapi salah paham kolektif.
Di sinilah Gotham City berubah jadi ruang komunikasi yang bising. Dalam model komunikasi paling dasar sekalipun, kita diajari soal noise. Di daerah yang marah, noise itu bukan cuma suara mesin, tapi juga emosi, prasangka, dan asumsi. Pesan tersampaikan, tapi maknanya bocor di jalan.
Keramahan penduduk lama lalu sering dibaca sebagai tidak tegas. Diam dianggap setuju. Mengalah dianggap kalah. Padahal, dalam logika komunikasi lokal, mengalah justru cara menjaga hubungan tetap utuh. Sayangnya, pesan ini jarang diterjemahkan dengan benar oleh pendatang yang terbiasa dengan komunikasi frontal.
Akhirnya, Gotham City di kota yang ramah ini terasa seperti ruang publik tanpa moderator. Semua boleh bicara, semua merasa punya mimbar, tapi tidak ada mekanisme untuk saling memahami. Jalanan menjadi forum komunikasi paling gaduh, sekaligus paling jujur. Di sinilah kita melihat bagaimana pesan gagal bertemu makna.
Maka mungkin masalahnya bukan kota yang ramah kehilangan karakternya. Mungkin kita saja yang datang tanpa belajar bahasa emosional kota ini. Karena kota, seperti manusia, punya cara bicara sendiri. Dan tidak semua pesan bisa disampaikan dengan klakson.
Saat mengingat tentang daerah yang marah, saya sering bertanya: apakah kita benar-benar sedang berkomunikasi, atau hanya saling mengirim emosi? Pertanyaan itu jarang sempat dijawab. Lampu sudah hijau. Klakson sudah berbunyi. Dan Gotham City di kota yang ramah ini, seperti biasa, kembali jadi ruang komunikasi paling riuh tempat pesan, makna, dan manusia sering kali saling salah alamat.





