Mengingat bencana yang terjadi di Indonesia hari ini, terbesit dalam pikiran untuk menuliskan “Bagaimana sastra berperan dalam pelestarian alam”. Alam, bukan sebuah benda mati, ia melahirkan dan menciptakan. Alam, bukan hanya komoditi, ia bagian dari kehidupan. Alam perhari ini dipandang sebagai pelengkap dari kebutuhan. Alam merupakan objek, dan manusia adalah subjek, bagaimana jika paradigma ini dirubah? Ketika Alam disandarkan menjadi subjek dan manusia merupakan objek “Apa yang akan terjadi?”. Ketika alam dipandang sebagai entitas yang melampaui kengerian. Di samping itu, manusia terlihat sebagai “hama yang menggangu”.
Zaman yang ambigu, mulai dari percepatan dan kebahagiaan yang semu, manusia mendaku jabatan sebagai raja terakhir—puncak segala-galanya. Zaman ini, risiko menjadi kata kosong dalam kehancuran kertas. Risiko ternisbatkan menjadi sesuatu yang lumrah untuk dilarang. Sama halnya dengan efek samping—demi mencapainya tujuan dengan cepat, dan keuntungan yang banyak— kata itu seakan menjadi pemanis dalam suatu bahasa. Begitu pula, dengan alam, ia dikesampingkan.
Risiko dan efek samping menjadi hal tabu untuk dibicarakan dalam pergulatan ekonomi, berbasis data dan proyek pembangunan yang dianggap sebagai kebenaran absolut, mereka menghapus kata risiko. Ketika Alam dan risiko dipisahkan dalam dua kata berbeda, apa yang akan terjadi? Hari ini mereka membuktikan kebenaran. Bencana katanya, nasib katanya, kehendak Tuhan katanya, pada akhirnya mereka hanya menyalahkan pada suatu kata—Bencana, Nasib, Tuhan—seakan-akan sakralisasi kata menjadi juru penyelamat mereka atas penghakiman.
Lalu, bagaimana sastra dapat memasuki arena ini? Biarlah alam menjadi alam, batu menjadi batu, dan hewan menjadi hewan. Kata-kata yang mungkin dapat menjadi petunjuk untuk menentukan posisi sastra pada alam. “Biar alam menjadi alam…” sepintas, kata-kata itu tak bermakna apa pun bagi saya ketika membacanya. Setelah lama saya duduk diam melihat kata itu, dan pikiran saya mulai menginsafi kata-kata yang dapat saya jadikan rujukan utama untuk memosisikan sastra dalam wacana ekokritik.
Setelah berjibaku dengan celotehan awal yang penuh kedengkian terhadap spesies saya sendiri, mari kita beranjak pada wacana yang dihadirkan dalam tulisan ini.
Regionalisasi dan Risiko
Regionalisasi suatu daerah dengan sebutan daerah industri, daerah pabrik, daerah besi, dsb. Membuat sentralisasi perusakan semakin masif, ketika suatu daerah dimaktub dalam telinga masyarakat sebagai daerah industri, maka hal yang terjadi adalah pemakluman perusakan sektor. Suatu sektor yang dulunya tempat berkembang biak hewan-hewan dan rimbunnya pepohonan, rusak seketika. Sebab, pengenalan dan pencetusan daerah sebagai sektor industri dan lainnya, menjadi pemakluman akan perusakan dan penghancuran ekosistem alam.
Berawal dari regionalisasi sektor, Murray Bookchin hadir sebagai manusia hijau yang radikal. Ia dikenal sebagai sosiolog abiotik, menjadikan keunikan pada dirinya tersebut. Dengan pamungkasnya “Dominasi manusia atas alam lahir dari dominasi manusia oleh manusia”, cerminan ketika suatu sapi perah yang telah kehabisan masa aktifnya diperlakukan sebagai sampah. Selain itu, masyarakat risiko di zaman industri tak dapat memperhitungkan secara utuh dan empatik, terhadap perilakunya sendiri. Penggalan kata yang saya ambil dari Ulrich Beck tentang masyarakat risiko.
Berawal dari pergeseran paradigma atas alam, manusia menunjukkan dirinya sebagai entitas penguasa dunia. Alam dahulu, tak dapat ditaklukan oleh manusia karena kurangnya pewarnaan teknologi dalam kehidupan. Sehingga, memaksa manusia untuk mengorganisir dirinya menjadi sebuah komunal, dengan menunjuk seorang alpha dari bagiannya, mereka mulai menaklukan alam satu persatu. Ketika pewarnaan teknologi semakin berkembang kian hari, alam tak dapat menyesuaikan kehadirannya saat ini. Ia terpaksa terjerumus dalam intuitif liar manusia, hasrat manusia yang eksploitatif, memandang alam sebagai objek yang dapat diperah secara habis-habisan, naluri ini kian hari membentuk sel kanker stadium empat pada manusia zaman industri. Di zaman yang tegas mengisyaratkan sesuatu rasional sebagai kebenaran alamiah, Bookchin menentangnya dengan punggungan moralitas. Moralitas sangat penting hari ini, menurutnya moralitas merupakan sesuatu yang dapat menyelamatkan manusia dari sifat eksploitatif. Moralitas dipakai untuk cara memilih jalan, begitu pun definisi egaliter yang ia gunakan.
Keberagaman dan kebebasan dua hal yang tak dapat dipisahkan, keberagaman menciptakan sebuah kebebasan yang dapat disandingkan dengan keutuhan kerangka. Keberagaman merupakan solusi efektif untuk menyangkal keseragaman dan pembatasan hari ini. menurut Bookchin, keberagaman merupakan sifat alami manusia yang tak dapat diubah, ketika keberagaman diubah maka manusia tak dapat lagi disebut sebagai spesies manusia. Melalui diskursif keberagaman, lebih jauh Bookchin menjelaskan tentang regionalisasi ‘penyeragaman’ yang terjadi pada ekosistem global hari ini. Ia mengutuk keras terkait penyeragaman suatu sektor, menurutnya keseragaman sektor memicu konflik keberlanjutan dan perang antar spesies.
Beralih dari regionalisasi Bookchin, masyarakat risiko Beck patut dibahas sebagai pengikat dari regionalisasi. Seperti definisi kejahatan mutlak yang dicetuskan oleh Baudrillard sebagai kebaikan yang terus-menerus berproduksi sehingga menghasilkan suatu bahaya atau teror. Maka masyarakat risiko pun dapat dikatakan demikian, Beck melihat bahwa zaman ini spesies manusia berada dalam modernitas tahap kedua. Ketika perkembangan teknologi dan kearifan manusia menjadi soal yang patut dipertanyakan sebagai penghasil bahaya hari ini. Beck menginsafi perkembangan teknologi yang semakin cepat tanpa pengawasan yang ketat dapat memicu gelombang kerusakan yang masif di Bumi. Tak hanya alam yang selama ini dipandang sebagai objek, juga manusia yang terimbas dari permasalahan ini. Pewarnaan teknologi pada kehidupan hari ini memicu efek butterfly terhadap dunia. Risiko yang tak terukur dan tak pasti, menyulitkan manusia untuk menghitung dampak negatif dari perkembangan. Kurangnya institusi sebagai lembaga yang diakui untuk pengawasan, menjadi fatal ketika risiko bahaya muncul secara tiba-tiba.
Titik kesimpulan yang dapat diambil, ketika perkembangan teknologi dan regionalisasi sektor memicu bahaya yang tak terlihat dan tak dapat diperhitungkan. Berawal dari kemajuan yang tak terukur, dan penyeragaman daerah, memicu konflik dan kerusakan yang berkelanjutan. Tak hanya berdampak pada alam, tetapi manusia pun terjerumus di dalamnya. Alam sebagai penanggung risiko terbesar selalu dijadikan sebagai umpatan kerusakan yang diakibatkan manusia, ketika bahaya muncul dan merusak manusia sebagai imbas kelalaian diri, alam selalu tergiring sebagai penjahat utama di dunia.
Perisai Mistis bagi Alam
Ketika pencegahan tak dapat dilakukan dengan cara rasional, maka jalan utama yang patut dicoba adalah Perisai mistis. Keangkuhan manusia yang semakin menjadi karena perkembangan teknologi dan absolutisasi rasional, menyudutkan penalaran mistis sebagai suatu hal yang dapat dicoba kembali. Mistisme hari ini layak diperhitungkan sebagai metode pelestarian alam, maka sastra merupakan barang yang cocok untuk dikombinasikan dengan mistisme hari ini.
Dengan pemakaian mistisme untuk pelestarian, suatu daerah tempat berkembangnya ekosistem alam dapat terjaga. Daerah perisai mistis, dapat terlindungi dari regionalisasi sektoral, karena suatu daerah yang sudah terlindung perisai mistis menanamkan rasa penghormatan ataupun rasa mencekam pada telinga masyarakat. Hal ini menjadi jalan terakhir yang patut dicoba untuk pelestarian alam, ketika suatu yang rasional dijadikan bahan perusak, maka mistisme haruslah menjadi bahan pemulih.
Selain mistisme, ekokritik sastra dapat menjadi jalan juang yang patut dilirik para sastrawan. Melalui dentuman emosi dalam penyaluran kata juga pembentuk emosi umum, sastra dapat berjibaku dalam perjuangan pelestarian alam hari ini.
Pada titik akhir tulisan ini, ekokritik sastra dapat ditelaah lebih jauh melalui sintesis Bookchin dan Beck. Ketika sesuatu yang rasional menimbulkan ledakan berbahaya, maka ekokritik sastra haruslah menjadi perisai mistis dan obat pemulih keadaan. Sebelum mengakhiri tulisan, sedikit puisi untuk tahapan praksis ekokritik sastra:
Berwisata ke Neraka
Kata orang, negeri kita banyak sumber daya
Pulau dijual, oh betapa indahnya
Sungai kuning, oh betapa uniknya
Hutan kering, oh betapa ajaibnya
Katanya, dulu kita dijuluki macan asia
Rakyat sengasara, dibiarkan saja
Bencana turun, sebab tuhan saja
Solidaritas global, berdikari katanya
Wisata ke neraka memang perlu dicoba
Matahari saja kalah, dengan pencitraanya
Malam saja kalah, dengan suasana gelapnya
Keadilan saja kalah, dengan ketimpanganya
Neraka unik memang,
Memang mereka lah neraka
Neraka bisa dijangkau
Di negara seperti neraka







