Filsafat Beling Jomblowi

Manusia yang dipenuhi kejeliwetan hidup, perlu medium demi mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam dirinya. Entah mengapa, manusia itu, sering kali moodiyan untuk menjalankan hidup yang utek-utek. Maka dari itu, terlahirlah medium-medium penyalur ekspresinya, baik dari musik, novel, sajak, bahkan melamun di siang bolong. Nah, kali ini, saya akan membahas salah satu medium yang sering digunakan buat ngeluarkan unek-unek terdalam yang tak bisa diteriakan di muka umum, yaitu sajak. Sajak, sering kali dimainkan untuk mengungkap mood seindividu. Salah satunya, yang bakal kita bahas kali ini zine Beling: Sajak Nyeri Haté Aing, dihimpun dan dilukis oleh seorang pujangga dan pengusung filsafat jomblowisme, M. Akmal Firmansyah namanya.

Sajak ini, terhimpun dari keresahan-keresahan penulis, diusung oleh lingkungan sekitarnya—terkhusus mesin cetak cinta alias bucinision, ia bercerita tentang asal-muasal sajak ini. Dengan tutur kata kadang lemah lembut, ia terinspirasi dari dua karya; Puisi Mbeling Remy Sylado; dan Bogoh Ka Randa Apip Mustopa. Samping itu, tujuan penulis memanenkan tulisannya cukup nyentrik dan ajib, demi dipamerkan pada sang mantan terindah bila di tempat sampah, dengan harapan menghapus kenangan-kenangan indah yang menyamar menjadi mimpi buruk dari sang mantan terindah. Melalui judulnya, ia bercerita bahwa sajak ini terinspirasi dari Beling (pecahan kaca) yang menyimbolkan cintanya, hancur berantakan ketika disakiti si mantan.

Ya, secara semeluruhnya, mungkin sajak ini bisa dibaca secara serius bagi seindividu yang ingin memperdalam filsafat jomblowisme. Lalu, saya akan mencoba mengklaim teori trauma Cathy Caruth sebagai pengupas lempengan besi dalam kumpulan sajak ini. Lesgow.

Trauma dan Jomblowisme

Putus cinta dan diputuskan seseorang yang dicintai menanam luka tersendiri bagi seindividu, maka obatnya menjadi filsuf, karena putus cinta bukan akhir dunia, tetapi titik comeback seseorang yang paling krusial, kalo di derajatin -1000 derajat dari yang biasanya, kata Plato mah begitu kawan. Tapi ini realitas bro, putus cinta malah melahirkan trauma, angan-angan awal jadi filsuf, malah menjadi filus. Tapi, mari sedikit serius dalam masalah trauma, permasalahan ini masih menjadi perbincangan hangat—seperti gorengan—di kalangan gen zeh, mental health.

Trauma, seiiring zaman banyak terdefinisikan, dari yang banyak terdefinisikan, saya akan membawa trauma melalui definisi termasyhur Freud. Ia menyebut trauma sebagai gejala neurosis traumatis, yang disebabkan oleh ketakutan, akan peristiwa bagai mimpi buruk yang terulang. Tidak seperti kecemasan, trauma memiliki identitas tersendiri, selain terdapat dalam alam bawah sadar, trauma sering menyamar dalam kehidupan nyata. Trauma diinterpretasi dan terkristalisasi dalam Cathy Caruth, ia berpendapat bahwa trauma merupakan teror tanpa kata-kata atau kejadian tak mampu terprediksi, yang dapat mengubah identitas, persepsi seseorang terhadap dunia eksternalnya.

Lebih jauh, ia mempresentasikan trauma sebagai bentuk gangguan nonprediksi dari gangguan linguistik secara langsung. Dan efek jangka trauma, dapat terasa dalam jiwa, hingga dapat menimbulkan cacat permanen dalam jiwa seseorang, sesuai tingkat keparahan trauma. Trauma pun dapat bersifat asimilasi universal, yang ia sebut gangguan universal. Gangguan asimilasi universal trauma, dapat terlihat dalam budaya, dan tingkah laku kolektif sekitar. Secara tak langsung, trauma baik individu maupun kolektif sering terkode melalui simbol linguistik—baik alamiah, dan konvensional.

Sifat ahistoris trauma, membuatnya susah dilacak, trauma dapat muncul secara tiba-tiba dan tak dapat terprediksi. Selain ahistoris, trauma juga mempunyai disosiatif dan terkadang non-referential. Sehingga, trauma terfragmentik yang sukar untuk ditemui sumbernya, berlawanan dengan Freud yang menjelaskan trauma secara simplifikasi dari peristawa ketakutan yang terulang. Dan secara paradoks, trauma sendiri menyimpan kekuatan keterlambatan hadir saat peristiwa traumatik muncul.

Orbitisasi trauma, dalam kehidupan seindividu manusia sukar untuk jarang ditemui. Karena, manusia sebagai makhluk emosional, menyimpan rasa trauma sekecil apa-pun itu. Dan pengalaman traumatis, tidak hanya terjadi pada dimensi alam bawah sadar, melainkan menunjukkan pada kehidupan real secara fragmentik. Selain itu, gagasan trauma terus berkembang hingga tak mencapai definisi mapan secara kamus. Sampai saat ini, trauma masih menjadi perbincangan yang paling hangat untuk digali secara radikal. Tapi terkadang, trauma sendiri sering dianggap nihil, yang memperparah tingkat kerusakan jiwa sebab trauma.

Oleh sebab itu, trauma yang terfragmentik dalam kejeliwetan duniawi, perlu dicecar secara berulang, baik melalui dimensi psikologis, linguistik, dsb. Berkembang lebih lanjut, trauma menghasilkan sebuah gangguan konteks eksternal yang terobjektifikasi dalam internal kolektif. Internalisasi trauma, menghadirkan sebuah cipta budaya baru pada titik terpuncaknya. Oleh sebabnya, nilai budaya baru dapat tercipta melalui internalisasi trauma kolektif. Selain merambah pada budaya dan sosial, trauma menjajal produksi diskursif. Kelahiran diskursif dari trauma, sering kali muncul pada daerah rawan konflik. Dan berangsur-angsur, produksi diskursif ini menjadi narasi utama perkembangan zaman saat ini.

Secara ringkas, trauma belum mencapai konsepsi ideal untuk didefinisikan. Akan tetapi, trauma memiliki identitas yang general, yaitu gangguan representatif dan alam bawah sadar. Kejanggalan-kejanggalan duniawi yang tak kentara, mengembangkan lebih lanjut konsep trauma. Seperti, penggemukan trauma dari individu menjadi sosial. Melalui kejadian, trauma dapat hadir secara tiba-tiba yang berarti trauma bersifat ahistoris. Selain itu, trauma terfragmentik secara sumber, sehingga sukar untuk disembuhkan secara total. Trauma juga, dapat menghasilkan nilai budaya dan sosial baru dalam tatanan kolektif. Hal ini dapat ditelaah melalui peristiwa genosida, dsb, yang memicu kolektif trauma pada suatu kaum. Ketika trauma kolektif terbentuk dalam suatu kaum, fragmentik trauma semakin drastis seperti kasus kemiskinan struktural di Indonesia.

Beling Trauma Jomblowi

Beralih dari konseptual, mari kita beranjak pada tatanan praktik. Kumpulan sajak Beling, sangat dapat dijadikan contoh untuk mengaplikasikan konsep trauma. Melalui latar belakang penulisan yang dituturkan, zine tersebut tercipta karena kandasnya percintaan penulis. Hal itu, memicu penulis untuk menuturkan kekecewaan, kemarahan, dan ketakutan dalam konsepsi linguistik. Sebelum memasuki praktikal, mari kita telaah lebih dalam judulnya. Beling atau pecahan kaca, merepresentasikan jiwa yang hancur akibat jatuhnya emosional penulis sebab putus cinta. Selain itu, representasi lain, dimaksudkan sebagai topeng kegelisahan sebab persemayaman trauma di alam bawah sadar, juga sebagai gangguan simbolik dari kandasnya harapan.

Beranjak dalam, sajak-sajak yang terhimpun memiliki representatif trauma. Melalui diksi yang dipersepsikan sebagai kejadian traumatik, representatif traumatik dimunculkan sebagai angan-angan yang kandas. Traumatik penulis terhadap cinta, memunculkan gejala gangguan linguistik, terwakili oleh salah satu sajak yaitu Ari Kahayang mah Kawas Batur. Dalam sajak ini, jelas terepresentasi ciri-ciri traumatik, namun karena sifat fragmentik trauma, sulit untuk di gamblangkan secara detil, secara umum, traumatik terlihat dari diksi yang menunjukkan kelelahan batin. Kejadian yang memicu kekecawaan, ketakutan, dan kegelisahan, memicu traumatik sendiri bagi penulis. Kandasnya percintaan, sajak ini dihaturkan sebagai bentuk pemulihan penulis dari rasa traumatik tersebut.

Secara menyeluruh, traumatik dan sastra akan terus berhubungan. Sastra yang memicu representatif sebagai gejala trauma, menandakan trauma dan bahasa tak dapat dipisahkan. Trauma pun, tidak dapat diprediksi dan dipahami secara simplifikasi. Melalui kejadian yang memicu trauma terhadap seindividu, trauma hadir bagai bayang dalam alter ego. Trauma yang hadir pun, dapat terepresentasikan melalui gangguan linguistik dan simbolisasi. Maka dari itu, pelampiasan sekecil apa pun dari seseorang yang sedang menunjukkan gejala trauma, perlu diperhatikan. Dan, penyaluran emosi melalui alternatif lain sebagai bentuk pemulihan patut diapresiasi sebanyak mungkin, salah satunya sajak ini. Sajak ini, saya nilai sebagai bentuk pemulihan penulis akan traumatiknya. Maka, saya mengapresiasi betul apa yang dilakukan oleh Akmal dalam penyaluran emosinya. Filsafat jomblowisme yang dicetuskannya, sungguhlah epik. Saya juga ingin berguru padanya, untuk mengambil sanad yang dapat di uji labotarium.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.