Tulisan sahabat saya Dedi Sahara tentang “Burnout, Keseimbangan Jiwa, dan Pembebasan dalam Islam” adalah sebuah keberanian—sekaligus kegelisahan intelektual yang cukup menantang. Sebagai kaum ayah—dan barangkali orang yang sudah lama hidup di bawah tekanan “produktivitas”—Dedi, dan mungkin saya pribadi yang sering terlalu “hoream” namun tetap terseret arus capaian, tidak bisa puas menjelaskan kelelahan mental hanya sebagai gangguan individual. Narasi yang ia bangun dari hasil pembacaannya secara sadar membawa “burnout” keluar dari ruang konsultasi psikologi, menggesernya ke lanskap ekonomi-politik neoliberal, lalu mencoba mengaitkannya dengan khazanah Islam sebagai tradisi yang membebaskan. Ini bukan kerja ringan, dan jelas lahir dari kegelisahan yang tulus. Justru karena proyeknya ambisius—menggeser sudut pandang dan mempertemukan banyak horizon—artikelnya menyimpan sejumlah problem konseptual yang perlu disoroti secara jujur agar argumennya tidak, disadari atau tidak, terperosok dalam kontradiksi yang samar.
Pemilihan Byung-Chul Han sebagai pintu masuk analisis terasa tepat dan sezaman. The Burnout Society yang pernah saya baca edisi Inggrisnya memang seperti cermin yang tidak memantulkan wajah kita seutuhnya, namun cukup memperlihatkan retakan kecil yang selama ini kita abaikan. Han membantu kita memahami bahwa kelelahan hari ini tidak lagi datang dari teriakan mandor atau disiplin ala Michel Foucault, melainkan dari suara internal yang berbisik lirih: “kamu bisa lebih”, “kamu harus”, “ayo, sedikit lagi.” Kita lelah bukan karena dipaksa secara kasar, tetapi karena merasa sedang mengaktualisasikan diri.
Sebagai orang yang terjebak dalam rutinitas seolah-olah “akademisi” misalnya, saya menyadari kerja dari logika itu. Tidak ada atasan yang secara eksplisit memaksa menulis lebih banyak, mengajar lebih inovatif, meneliti lebih produktif, atau hadir di lebih banyak forum ilmiah. Semua hadir dalam bahasa pengembangan diri: kesempatan, rekognisi, reputasi. Bagaimana dengan saya yang sering “hoream”? Tentu kita tahu dan sudah pasti jawabannya.
Logika ini alih-alih membawa manfaat, ia malah terperosok pada hal-hal yang bagi saya kurang substantif. Publikasi bukan lagi sekadar menyumbang pengetahuan, melainkan “banyak-banyakan”. Pengabdian bukan lagi perjumpaan dengan masyarakat, melainkan kewajiban beban kerja yang terus berkutat. Bahkan jeda membaca atau berpikir terasa bersalah jika tidak segera “dikonversi” menjadi luaran dan terbit di jurnal terakreditasi. Di sini, kata “bisa” sebagai pilihan kebebasan perlahan berubah menjadi “harus” tanpa pernah diucapkan. Capaian-capaian diri menjadi tuntutan yang bergerak dalam ruang senyap. Lantas bukankah target-target itu bentukan dari sistem?
Dedi, di ruang yang lain, tentu mengalami versi berbeda dari logika yang nyaris hampir sama. Target tidak selalu hadir sebagai ancaman eksternal, melainkan sebagai tantangan yang terinternalisasi. Dalam ruang seperti ini, nyaris mustahil membedakan antara kehendak diri dan tuntutan sistem; antara siapa yang mengeksploitasi dan siapa yang dieksploitasi. Inilah yang oleh Han disebut auto-exploitation: subjek menjadi manajer sekaligus buruh bagi dirinya sendiri.
Namun persoalannya, Han berhenti pada diagnosis yang cenderung “melankolis”—meski analisisnya tajam dan menjadi pengembangan dari warisan Foucauldian. Mengapa demikian? Menurut hemat saya, Han memindahkan pusat masalah ke “interior subjek”, lalu menawarkan kontemplasi sebagai jalan keluar. Dedi tentu menyadari itu, tetapi pembacaan atas tawaran Han perlu kehati-hatian ekstra. Kontemplasi terdengar membebaskan dari jebakan “eksploitasi diri”, tetapi dalam masyarakat hari ini ia bisa berubah menjadi jeda fungsional: istirahat secukupnya agar tidak “burnout”, lalu kembali produktif. Sebab, dalam logika sekarang, “tidak produktif” tanpa luaran konkret hampir dianggap dosa bukan?
Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana kita berhenti sejenak, melainkan siapa yang benar-benar memiliki hak untuk berhenti? Di sini barangkali kritik kelas tak terhindarkan. Buruh kontrak, pekerja prekariat—meminjam istilah Guy Standing—atau mereka yang hidup dari upah harian, bahkan saya hingga Dedi sekalipun tidak hidup dalam ritme kontemplatif ala Han. Kita, mereka, hidup dalam kecemasan yang kontinu. Jeda bukan pilihan eksistensial, melainkan risiko ekonomi. Tanpa pembacaan ini, kontemplasi—baik versi Han maupun versi psikologi Islam yang dihadirkan Dedi—rawan menjadi privilese yang jauh dari pembebasan.
Munculnya khazanah Islam klasik melalui Al-Balkhi dan Ar-Razi jelas memperkaya diskusi. Dunia Islam sejak lama memahami relasi jiwa dan tubuh, tekanan batin dan gejala fisik. Namun penyepadanan “burnout” modern dengan “futur” perlu kehati-hatian. Futur berakar pada dinamika spiritualitas individu, sementara burnout lahir dari dunia kerja modern yang materialis dengan memuja performa dan achievement. Menyamakan keduanya terlalu cepat berisiko memindahkan masalah struktural ke wilayah moral—seolah kelelahan diri dan “burnout” menjadi tanda kurang seimbang. bahkan kurang beriman, bukan sinyal bahwa sistem kehidupan kita memang problematis.
Tawaran konsep “keseimbangan” tentu saya amini dan sangat penting dalam ruang religiusitas, tetapi justru perlu dicurigai di ruang sosial. Dalam tatanan bentukan masyarakat yang memuja performa itu—ranking, rating, scoring—keseimbangan sering dimaknai sebagai kemampuan individu beradaptasi dengan ritme cepat zaman. Seimbang berarti tetap produktif tanpa mengeluh untuk mengejar pencapaian angka-angka itu. Padahal, mungkin yang tidak seimbang justru masyarakatnya, pola kerjanya, logika ekonominya—bukan jiwanya.
Saya adalah orang yang mengakui ilmu positivistik khususnya peran ilmu jiwa. Sekaligus saya sepakat dengan pembacaannya atas Cognitive Behavioral Therapy dan Mindfulness yang kerap gagal menjawab kebutuhan makna hidup. Tren mental health memang cenderung dan perlu diselesaikan secara psikologis-individual. Namun psikologi Islam pun tidak otomatis lolos dari jebakan serupa. Mengganti istilah tidak selalu berarti mengganti logika. Jika keseimbangan dimaknai sekadar sebagai pengelolaan diri agar tetap fungsional dalam sistem yang sama, ia tak lebih dari spiritualized self-management.
Mark Fisher yang dinukil dalam tulisan Dedi cukup tajam mengaitkan bahwa dalam Capitalist Realism, kegagalan selalu dipersonalisasi. Ironisnya, solusi yang terlalu menekankan keseimbangan internal bisa tanpa sadar memperkuat mekanisme itu. Neoliberalisme dikritik, tetapi penyembuhan tetap dibebankan pada “subjek”. Walhasil, Dedi mengusulkan radikalisasi melalui teologi pembebasan Asghar Ali Engineer sebagai jalan keluar. Tauhid, jika dibaca secara radikal, bukan hanya persoalan ketenangan batin, tetapi penolakan terhadap segala bentuk peng-Tuhan-an pencapaian. Dalam masyarakat ala Han, produktivitas menjadi entitas sakral bukan? Tauhid semestinya bekerja sebagai kritik sosial: membongkar ilusi bahwa nilai manusia ditentukan oleh capaian.
Sayangnya tulisan Dedi terasa belum sepenuhnya tuntas. Ia telah menunjukkan arah radikalisasi, tetapi belum cukup jauh menguraikan bagaimana praksis sosial-politiknya bekerja. Jika tauhid dimaknai sebagai kritik atas peng-Tuhan-an hal-hal yang bersifat materialistik, bagaimana ia diterjemahkan dalam perjuangan konkret atas beban kerja, upah layak, atau kebijakan institusional? Tanpa elaborasi praksis, teologi pembebasan berisiko berhenti sebagai retorika moral yang juga saya gaungkan (dulu), tetapi tidak mengubah relasi kuasa yang melahirkan burnout itu sendiri.
Selain itu, terdapat kecenderungan dalam tulisan Dedi untuk bergerak cepat dari diagnosis menuju sintesis—dari Han ke Islam, dari kritik neoliberal ke tauhid—tanpa sepenuhnya membedah ketegangan di antara keduanya. Sejak awal memang ia sudah menyatakan akan membedah dalam perspektif Islam, namun memang hal ini sering menjebak atas “penyederhanaan-penyederhanaan”. Saya akui itu, dan memang sulit melakukannya.
Ketergesaan konseptual ini membuat beberapa istilah kunci seperti “keseimbangan”, “pembebasan”, dan “radikalisasi” belum dipertajam batas-batasnya. Akibatnya, pembaca bisa saja terjebak pada pemahaman bahwa solusi spiritual cukup untuk menandingi problem struktural, “burnout” harus diselesaikan dengan “Tauhid yang membebaskan”, padahal keduanya bekerja pada level yang berbeda dan memerlukan strategi yang berbeda pula.
Jika konsisten, burnout tidak cukup direspons dengan kontemplasi (vita contemplativa) dan keseimbangan jiwa, tetapi dengan perjuangan atas makna hidup, waktu hidup, martabat kerja, pergeseran paradigma dan relasi sosial yang tidak menjadikan manusia sekadar alat pencapaian. Tanpa itu, Islam berisiko hanya menjadi tempat pelarian untuk istirahat sejenak—sebelum kembali ke ritme dunia yang sama, esok hari, dengan target yang diperbarui. Lagi dan lagi.
Tulisan Dedi penting karena berani membuka pintu ke arah itu. Tetapi pintu tersebut memang perlu didorong lebih keras sekeras-kerasnya. Sebab, “burnout” bukan hanya tanda jiwa yang lelah, melainkan sinyal bahwa masyarakat pencapaian telah gagal memahami apa artinya hidup secara manusiawi.







