Urusan metropolitan membuat kepala sering berdenging keras, siang membara dipenuhi debu jalanan, kau menyusuri jalanan di kota Bandung. Sesaat kau berteduh dari langit yang berduka, mencari suaka untuk menunggu ia reda. Sampai pada satu tempat, dari sekejap matamu melihat tempat itu terlihat biasa saja, sampai kau menemukan sesuatu yang membuat hatimu goyah.
Tempat itu, menunjukkanmu banyak hal. Dari tawa anak kecil yang bermain di lapangan, hingga pos ronda penuh bisikan perut yang meradang. Sesampainya di sana, kau menapaki jalan bersih, tak terlihat satu helai sampah di ujung mata. Bertanya pada setiap orang yang kau temui, hingga menelisik area yang tak terlihat di peta kota.
Langit telah mereda, memberi kesempatan untuk mencari lorong-lorong yang tak terjamah pantauan satelit udara. Di kesempatan yang tak boleh terlewatkan, kau menyapa dan bercakap-cakap lama tentang area yang tak pernah dianggap sebagian kota itu. Daerah itu membayang di peta kota, tepat samping area perumahan umumnya, terdapat satu gang yang akan membuktikan kontras area. Gang itu diawali oleh tempat pemakaman, hingga kau mendapati tempat yang sering disebut bale warga oleh masyarakat sekitar.
Bale warga, sebuah tempat berkumpul para warga, berwarna biru lengkap dengan pajangan rencana program visioner untuk dilaksanakan. Di sana, warga berbincang-bincang program yang akan dieksekusi, mulai dari master plan hingga teknis. Kau yang pertama kalinya melihat area yang jarang dibicarakan, memiliki kecanggihan berpikir untuk direalisasikan. Sebab itu, kau semakin penasaran untuk menggali setiap program yang ada, tapi sebelum itu mari kita bicarakan keadaan area yang akan membuat tercengang kali ini.
Area itu relatif tak luas, tapi dibalik itu, daya kreatifitas canggih yang dimiliki membuatnya menjadi pembeda di antara yang lain. Area itu juga, dipadati penduduk, rumah yang masih memakai triplek untuk melindungi dari terpaan angin dan hujan, juga tiga toilet umum yang menjadi sarana kebersihan tubuh masyarakat. Rumah yang bersekat oleh triplek, memiliki luas kurang lebih tiga meter harus diisi oleh tiga kartu keluarga, bayangkan bagaimana padatnya area itu. Satu alat sibel memaksakan fungsinya secara penuh untuk memenuhi kebutuhan air di area yang ditempati tujuh puluh lima kartu keluarga itu. Tak luput, satu tong penyimpanan air perlu mencukupi masyarakat kawasan tersebut. Tapi ingat, dibalik keterbatasan, area itu sangatlah rapih dan tertata dalam kebersihan hingga swadaya masyarakat yang cakap.
Selesai kau mengetahui keterbatasan yang ada, kau mulai mengelana kawasan tersebut. Sedari awal, kau sangatlah penasaran dengan kelola kebersihan area tersebut. Kau menjajal tempat pengelolaan sampah area tersebut, terdecak kagum akan sistem yang telah dibangun. Mulai dari proses pemilahan hingga pembersihan yang teratur, matamu menyoroti area pembersihan maggot. Mungkin sedikit orang akan merasakan kegelian saat melihatnya, tapi maggot itu yang menjadi teknologi vital proses kebersihan area tersebut. Sampah-sampah domestik dikumpulkan lalu diberikan pada maggot, hingga bersih tak tersisa.
Ketika maggot telah mencakup usia perkembangan baik, ia akan dipisah untuk menelurkan kembali maggot-maggot baru. Sebagian dari maggot dikelola kembali menjadi pakan untuk hewan seperti ayam, dan lele. Hingga sirkuit pengelolaan sampah, bisa membuahkan hasil ekonomi pengepulan dapur. Dari sirkuit tersebut, kau belajar untuk memilah dan memproses sampah yang selalu berdampingan dengan manusia. Dari mulai penyadaran tipe-tipe sampah hingga tata kelola sampah, sangatlah berdampak bagi lingkungan dan kehidupan.
Disertai pengalamanmu, kau mulai menulis catatan kecil untuk dibagikan:
“Di area yang penuh keterbatasan, manusia dipaksa untuk mengembangkan daya kreatifitas. Hingga melahirkan inovasi yang menembus akal sehat, itulah yang disebut survival fittest. Dari keterbatasan manusia dipaksa untuk bertahan hidup dan mereproduksi sesuatu yang menguntungkan demi keberlangsungan hidup. Sampai pada titik itu, kau akan menyadari kontras alami dunia. Terkadang ide-ide kemajuan tak lahir di meja perundingan lembaga terkemuka, melainkan dari meja kayu rapuh yang digunakan untuk menyimpan segelas kopi sachet. Dan ide yang keluar dari kayu rapuh, memiliki daya kebermanfaatan yang lebih nyata, dari meja kayu jati yang harganya bermiliaran”
Angin berhembus kencang menggoyahkan senja hari itu, beranjak dari area sana kau mengunjungi warung kopi di pelipir jalan. Mulai menyusun laporan investigasi, tak lama kemudian, kau menghubungi kolegamu satu-persatu. Sembari menunggu, ditemani kopi hitam kapal cargo, kau membaca sekilas berita-berita di media massa. Malam itu, ada satu berita mendidihkan hatimu untuk mengacungkan jempol pada kolom komentar.
Menayangkan sebuah peristiwa sejarah yang terulang, penyiraman air keras oleh orang tak dikenal terhadap aktivis kemanusiaan. Kejadian itu terpantau secara jelas oleh kamera pengawas, seperti kejahatan terorganisir. Kejahatan yang bukan dilatari oleh motif ekonomi, melainkan dilatari motif pembungkaman. Seakan-akan memberi peringatan terhadap aktivis lainnya untuk berdiam diri atau rasakan akibatnya. Tak lama setelahnya, kolegamu datang menghampiri.
“Lihat!” sembari menunjukkan berita itu. “Bagaimana pendapatmu?” dengan suara getir melihat peristiwa itu. Dengan wajah lesunya ia berkata “Tamatlah sudah” sembari mengacuhkan keadaan. Perbincangan mulai hangat, sebab topik kali itu. Menguatkan rasa ketakutanmu, hari ini mungkin diberita, besok mungkin aku yang kena. Mengandai-andai jikalau aku yang terkena besok hari. Temanmu mulai memasuki arena diskusi itu, ia mengucap “Keberanian menyebar, begitu pula ketakutan,” sembari menghisap rokok kretek. Seakan-akan ia menunjukkan padamu untuk terus berada di jalan penuh darah itu.
Tak bisa dipungkiri, ketakutan sering meraba badanmu, tapi ajaibnya badanmu selalu otomatis untuk tetap melaju. Entah mengapa demikian, walau berita-berita menayangkan peristiwa horor terhadap seseorang yang berani bersuara. Kendati demikian, kau bersama keteguhan hati tetap berada di jalan itu, tak terbelokkan atau memutarbalikkan badan ke jalan yang lebih aman. Waktu terus berjalan, seperti memotong detik dan menit. Kesempatan pertemuan tertutup dengan waktu merenung.
Kembali ke persembunyianmu, membaca secara sekilas laporan, sembari menulis.
“Dengan munculnya berita-berita horror, kami memang merasa ketakutan, tapi kami layaknya hewan dengan sifat nalurinya. Rasa takut yang menyelimuti tak menggoyahkan tubuh ini, seperti induk hewan yang menjaga telur-telur dan anak-anaknya yang baru lahir. Kami mungkin seperti mereka, dibalik ketakutan ada suatu alasan untuk tetap bertahan. Motif itu membentuk kami untuk tetap bertahan, entah berapa lama motif itu menghilang bersamaan dengan jasad kami. Selama kami masih bernafas, kami akan tetap berjuang. Seperti petuah dari penyair bukan? Ketakutan menyebar, begitu pula keberanian. Pohon akan memperkuat akarnya, agar angin kencang tak menumbangkannya secara cepat. Walau pohon tahu, ada saatnya ia tumbang dan kekeringan. Tapi pohon-pohon baru akan tumbuh bergerombol, benih-benih pohon tumbang melahirkan pohon-pohon baru yang lebih baik. Layaknya kami, ketika suatu saat nanti kami tumbang, ada masanya benih-benih yang kami sebarkan akan menjadi tunas emas…”
Dan kata-kata yang kau tulis itu, menjadi penutup laporan investigasimu. Kembali ke kasur usang yang mengelupas, tertidur seakan-akan dunia baik-baik saja.






