Cukup kasihan rasanya melihat masa-masa perkuliahan filologi, terkadang calon filolog yang semangat nan membara terkendala dengan berbagai macam problematika naskah yang cukup kompleks. Mulai dari naskah yang tidak selera dengan peneliti atau peneliti yang tak selera dengan naskahnya. Cukup rumit dan unik.
Makanya, pertama kali yang harus dilihat filolog untuk memilih naskah: fisik. Bukan perihal memandang fisik, tapi betulan kita harus melirik fisik naskah atau manuskrip yang tersedia. Memilih manuskrip itu seperti memilih pasangan. Bibit, bebet, dan bobot mesti jelas. Setiap manuskrip punya aspek kodikologi yang memuat daftar isi dari manuskrip. Biasanya ada keterangan kondisi fisik naskah, ukuran naskah, jenis aksara, jenis kertas, dan lain sebagainya.
Jika sudah dirasa cukup, maka peneliti melanjutkan ke tahap berikutnya: apakah bahasanya bisa dipahami atau tidak? Jangan sampai sudah memiliki naskah yang bagus dan rapi, ternyata bahasanya tak dimengerti. Karena percuma saja memiliki fisik naskah yang bagus kalau tidak bisa dipahami oleh peneliti. Untuk apa diteliti? Paham juga enggak.
Filolog dan manuskrip adalah dialog yang tak sadar, manuskrip/naskah itu memang tidak hidup, namun mereka bisa berbicara. Tidak dengan suara, melainkan dengan tulisan yang tergurat rapi sedemikian rupa. Estetika sebuah manuskrip dikandung oleh informasi yang terletak di dalamnya. Dijamin sangat dijamin, penelitian rumit bin sulit berjalan tatkala peneliti tidak paham dengan bahasanya. Aksara bisa ditranskripsi dengan bentuk dan ciri serupa, namun rasa mendalaminya saya rasa nol.
Bahasa adalah kunci memahami manuskrip, betapa banyak manuskrip yang tidak bisa terbaca walau usahanya wis tekan pasrah.
Sebuah anugerah yang besar jika filolog paham berbagai macam aksara dan bahasa, dan itu rasa-rasanya sebuah keharusan bagi seorang filolog. Maka tatkala filolog mencapai derajat yang cukup andal, dalam artian memahami banyak bahasa, sepertinya dia mencapai derajat haza min fadl rabbi.
Selain itu, filolog pemula pasti terkendala bagaimana cara menemukan naskah yang dapat diteliti, jika ada di laman-laman tertentu, syukurlah. Namun jika harus menemukan manuskrip baru yang belum terdigitalisasi sebelumnya? Waduh ini namanya masalah. Seorang filolog harusnya memiliki kekayaan yang cukup untuk penelitian, karena penelitian filologi kayaknya cukup memakan biaya yang tidak sedikit. Semoga para filolog diberikan kekayaan yang datangnya dari arah tak terduga. Aamiin.





