Hidup di dunia ini kadang mirip kayak main game RPG. Kita sibuk leveling lewat rutinitas harian: bangun pagi, terjebak macet, kerja demi angka di rekening, lalu tidur lagi. Di tengah kepungan aktivitas yang super padat itu, ada sebuah “tabir” bernama ritualitas ibadah.
Masalahnya, bagi sebagian dari kita, ritual ibadah ini sering kali berubah fungsi menjadi sekadar absensi harian. Yang penting gugur kewajiban, yang penting jidat ada bekasnya (meski itu mungkin karena keseringan sujud di atas karpet kasar), atau yang penting status di medsos sudah kelihatan religius. Padahal, ritualitas itu adalah jembatan, sebuah fast track menuju level tertinggi dalam kehidupan: Ketaqwaan.
Mari kita bedah rahasia di balik tabir hidup ini dengan bahasa yang halus, sedikit menyentil, tapi bikin kita mikir sambil ngopi.
1. Ritual: Antara “Gerakan Senam” dan “Koneksi Wifi Jiwa”
Pernah enggak kita salat atau berdoa, tapi otak kita malah lagi sibuk mikirin jemuran di rumah, cicilan bulan depan, atau kenapa kuah bakso tadi siang kurang asin atau hal yang lainnya?
Kalau iya, selamat! Kita sedang melakukan gerakan senam ritmik berkedok ibadah. Tapi setidaknya kita shalat dari pada tidak sama sekali.
Ritual tanpa penghayatan itu hambar. Jiwanya enggak ada. Kita mengira sudah mengetuk pintu langit, padahal kita cuma numpang lewat di depan pagarnya doang. Ketaqwaan itu bukan hasil dari seberapa cepat kita menyelesaikan rakaat, melainkan seberapa dalam kita “log-in” dan menyambungkan wifi jiwa kita langsung ke pusat semesta tanpa interupsi ego.
2. Menyibak Tabir Bersama Imam Al-Ghazali: “Kamu Kira Hati Itu Pajangan?”
Kalau kita bingung kenapa rajin ibadah tapi kelakuan masih sering bikin elus dada, mari kita sowan ke pemikiran Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali.
Dalam kitab monumentalnya, Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali membagi ibadah (khususnya salat) ke dalam beberapa tingkatan. Beliau menekankan konsep Khusyu’ dan Hudhurul Qolb (hadirnya hati).
Menurut Al-Ghazali, kalau badanmu sujud tapi hatimu masih sibuk jualan di pasar, maka kamu sedang mempersembahkan “bangkai” ibadah. Kasarannya: jasadnya ada, tapi nyawanya kagak dapet.
Al-Ghazali melihat ritualitas sebagai obat. Nah, namanya obat, kalau cuma dilihatin, dibaca resepnya, atau cuma diemut doang terus dilepeh, ya penyakitnya enggak bakal sembuh. Ritualitas menuju ketaqwaan itu harus meresap sampai ke pembuluh darah spiritual kita. Ketaqwaan sejati menurut beliau adalah ketika ritual luar (gerakan tubuh) berhasil menjinakkan keliaran batin (hawa nafsu). Jadi, kalau habis ibadah kita masih rajin nge-gosip atau dengki sama tetangga, mungkin dosis “obat” dari Al-Ghazali belum kita minum dengan benar.
3. Senggolan Filsafat Eksistensialisme: Menjadi Manusia yang “Otentik”
Biar makin seru, kita bawa pandangan ini ke ranah filsafat barat, tepatnya ke pemikiran Søren Kierkegaard. Seorang filsuf yang hobi mikirin makna hidup ini pernah bilang kalau level tertinggi manusia itu adalah Tahap Religius.
Sebelum sampai ke sana, manusia biasanya terjebak di tahap estetis (cuma nyari kesenangan duniawi yang fana) dan tahap etis (sok taat aturan moral biar dianggap orang baik). Menurut Kierkegaard, melangkah ke tahap religius itu butuh yang namanya leap of faith (lompatan keimanan).
Hubungannya apa sama judul artikel ini? Ritualitas itu adalah cara kita melompat melampaui tabir logika duniawi. Taqwa itu bentuk keimanan yang otentik. Kamu beribadah bukan karena takut dinilai jelek oleh mertua atau netizen (itu namanya tahap etis pencitraan), tapi karena kamu sadar bahwa di hadapan Tuhan, kamu itu bukan siapa-siapa tanpa petunjuk-Nya.
Jangan Cuma Jadi “Petugas Upacara” Life
Menembus tabir hidup menuju ketaqwaan itu memang butuh modal konsistensi. Ritualitas mulai dari doa bangun tidur sampai ibadah tengah malam adalah cara kita menjaga agar kompas batin kita enggak korslet tertutup debu-debu duniawi.
- Tips Al-Ghazali-an: Sebelum mulai ibadah, “kondisikan” hati dulu. Anggap itu adalah pertemuan paling privat antara kamu dan Pencipta, di mana handphone dan segala urusan dunia wajib di-silent.
- Tips Humor-an: Jangan sampai malaikat bosan mencatat amal kita karena isinya cuma ibadah copy-paste yang tanpa rasa.
Yuk, mari ubah ritualitas kita dari yang tadinya “gugur kewajiban” menjadi “kebutuhan harian”. Karena ketaqwaan itu bukan piala yang dipajang di lemari ruang tamu, melainkan ketenangan yang memancar dari dalam hati, bahkan saat dunia di sekitar kita lagi chaos-chaos-nya.
Wallohu ‘alamu bisshowwab.




