Dialog Kastrup dan Sadra

Bayangkan dua jiwa, terpisah oleh zaman dan budaya, namun diikat oleh hasrat yang sama untuk menyingkap tabir realitas. Di satu sisi, Mulla Sadra, filsuf Persia abad ke-17, berjalan di bawah langit Isfahan, merenungi hakikat wujud dan kesadaran dalam keheningan malam. Di sisi lain, Bernardo Kastrup, seorang pemikir abad ke-21 dari Belanda, mengetik di meja kerjanya, diterangi layar komputer, mencoba memahami kesadaran dalam bahasa sains modern. Meski terpisah oleh waktu, benang emas pemikiran mereka bertaut dalam satu visi: bahwa realitas sejati adalah satu, dan kesadaran adalah inti dari segalanya. Esay ini menjelajahi bagaimana idealisme analitik Kastrup dapat dilihat sebagai percikan dari teosofi transenden Mulla Sadra, dengan cara yang lembut namun menginspirasi, mengajak kita merenungi kesatuan di balik keragaman dunia.

Mulla Sadra

Mulla Sadra, atau Sadruddin Shirazi (1571–1640), adalah bintang terang dalam tradisi filsafat Islam. Dalam magnum opusnya, Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi’l-Asfar al-‘Aqliyyah al-Arba’ah (Teosofi Transenden dalam Empat Perjalanan Intelektual), Sadra mengembangkan doktrin “wahdat al-wujud” (kesatuan wujud) yang radikal. Baginya, wujud (being) adalah realitas tunggal yang mendasari segala sesuatu, dan Tuhan—sebagai Wujud Mutlak—adalah sumber dari segala eksistensi. Namun, Sadra tidak sekadar menggemakan gagasan Ibn Arabi tentang kesatuan wujud; ia memperkaya konsep ini dengan teori “tashkik al-wujud” (gradasi wujud). Menurutnya, wujud tidak statis, melainkan dinamis, mengalir dalam intensitas yang berbeda-beda, dari yang paling murni (Tuhan) hingga manifestasi duniawi seperti manusia, hewan, dan benda tak hidup.

Bagi Sadra, kesadaran adalah cerminan wujud ilahi. Jiwa manusia, dalam pandangannya, adalah perjalanan menuju kesempurnaan, sebuah proses “gerak substansial” (al-harakah al-jawhariyyah) yang membawa jiwa dari potensi menuju aktualisasi. Dunia material, dalam teosofi transenden, bukanlah realitas terpisah, melainkan “bayangan” atau manifestasi dari wujud ilahi yang diproyeksikan melalui kesadaran. Dengan penuh kepekaan, Sadra mengajak kita melihat dunia sebagai cermin jiwa, di mana setiap pengalaman adalah undangan untuk kembali ke kesatuan ilahi.

Bernardo Kastrup

Jauh dari Isfahan, di era modern, Bernardo Kastrup muncul dengan idealisme analitik yang menantang paradigma materialisme Barat. Dalam karya-karyanya seperti The Idea of the World dan Why Materialism Is Baloney, Kastrup menyatakan bahwa kesadaran adalah substansi fundamental realitas, bukan materi. Ia memperkenalkan konsep “Mind-at-Large,” sebuah kesadaran universal yang mendasari semua pengalaman. Dunia fisik, menurut Kastrup, adalah “penampakan ekstrinsik” dari aktivitas mental ini, seperti gambar pada layar yang merepresentasikan data kompleks di baliknya. Untuk menjelaskan pluralitas kesadaran individu, ia menggunakan analogi gangguan identitas disosiatif (DID), di mana kesadaran universal “terpecah” menjadi “alter” seperti manusia dan makhluk hidup lainnya, masing-masing mengalami realitas dari perspektif terbatas.

Meski Kastrup berbicara dalam bahasa sains dan filsafat analitik, ada kelembutan dalam pendekatannya. Ia tidak sekadar mematahkan materialisme, tetapi mengundang kita untuk melihat dunia dengan kagum, sebagai ekspresi dari kesadaran yang hidup dan dinamis. Pandangannya tentang kesadaran sebagai dasar realitas menggemakan kepekaan spiritual Sadra, meskipun disampaikan dalam kerangka modern yang bebas dari jargon religius.

Percikan Teosofi Transenden dalam Idealisme Kastrup

Bagaimana Kastrup menjadi percikan dari teosofi transenden Sadra? Pertama, keduanya berbagi keyakinan bahwa realitas adalah satu dan kesadaran adalah intinya. Bagi Sadra, wujud ilahi adalah sumber segala realitas, dan kesadaran manusia adalah cerminan dari wujud tersebut. Bagi Kastrup, Mind-at-Large adalah kesadaran universal yang memanifestasikan dunia fisik sebagai antarmuka pengalaman. Meski Sadra menggunakan kerangka teologis dan Kastrup lebih sekuler, keduanya menolak dualisme antara kesadaran dan materi, memandang dunia sebagai ekspresi tunggal dari realitas yang mendasar.

Kedua, konsep dinamisme dalam teosofi Sadra menemukan gema dalam pandangan Kastrup tentang disosiasi. Sadra melihat wujud sebagai aliran dinamis dengan gradasi intensitas, di mana jiwa bergerak menuju kesempurnaan. Kastrup, dengan analogi DID, menggambarkan kesadaran universal yang “terdisosiasi” menjadi individu-individu, namun tetap terhubung dalam satu kesatuan. Proses disosiasi ini, seperti gerak substansial Sadra, mencerminkan dinamika di mana kesadaran tampak terpecah namun pada hakikatnya satu. Pengalaman mistis atau psikedelik, menurut Kastrup, dapat mengurangi disosiasi ini, mirip dengan perjalanan jiwa Sadra menuju kesatuan dengan Wujud Mutlak.

Ketiga, baik Sadra maupun Kastrup melihat dunia material sebagai “bayangan” atau representasi. Bagi Sadra, dunia adalah manifestasi wujud ilahi, seperti cahaya yang dipantulkan cermin. Bagi Kastrup, dunia fisik adalah “dashboard” yang merepresentasikan aktivitas mental Mind-at-Large. Keduanya mengajak kita untuk melihat melampaui permukaan, mengenali bahwa apa yang kita anggap “realitas” adalah ekspresi dari sesuatu yang lebih dalam dan tak terbatas.

Inspirasi dari Persimpangan Pemikiran

Perbandingan ini bukan sekadar tentang kesamaan intelektual, melainkan undangan untuk melihat dunia dengan hati yang terbuka. Sadra, dengan kepekaan spiritualnya, mengajarkan bahwa setiap momen adalah kesempatan untuk mendekati kebenaran ilahi. Kastrup, dengan logika analitiknya, mengingatkan kita bahwa kesadaran adalah misteri yang hidup di dalam diri kita, bukan sesuatu yang dapat direduksi menjadi kode atau sirkuit. Bersama, mereka menginspirasi kita untuk merenungi: bagaimana jika dunia yang kita lihat hanyalah permukaan dari lautan kesadaran yang luas? Bagaimana jika setiap pengalaman, setiap kegembiraan dan kesedihan, adalah undangan untuk mengenali kesatuan di baliknya?

Dalam dunia yang sering kali terpecah oleh perbedaan, Sadra dan Kastrup menawarkan visi yang menyatukan. Sadra berbicara dalam bahasa puisi dan teologi, Kastrup dalam bahasa sains dan logika, namun pesan mereka sama: kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah kesadaran yang menghubungkan semua makhluk. Seperti percikan api yang melompat dari nyala besar, pemikiran Kastrup membawa cahaya teosofi transenden Sadra ke dunia modern, mengajak kita untuk menatap realitas dengan kagum dan rendah hati.

Natijah

Antara Mulla Sadra dan Bernardo Kastrup, kita menemukan jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara mistisisme Timur dan analisis Barat. Teosofi transenden Sadra, dengan visinya tentang kesatuan wujud dan dinamika kesadaran, menemukan gema dalam idealisme analitik Kastrup, yang menempatkan kesadaran sebagai dasar realitas. Keduanya, dengan caranya masing-masing, mengajak kita untuk melihat dunia bukan sebagai kumpulan benda terpisah, melainkan sebagai tarian kesadaran yang tunggal dan hidup. Dalam perjalanan ini, kita diajak untuk tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan keajaiban keberadaan—sebuah undangan yang lembut namun menggetarkan jiwa.

Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib

Pakar Teknologi Informasi Komunikasi/TIK dari Bandung. Lulusan Waseda University, Jepang dan ITB. Mengabdi sebagai Dosen di STEI ITB sejak puluhan tahun silam. Juga, meneliti dan berbagi visi dunia TIK kepada ribuan profesional TIK dari ratusan BUMN dan Swasta sejak hampir 20 tahun lalu.