Israel Sebagai Contoh Entitas Karya Seni “Rhythm 0” Marina Abramovic

Jika menapaki jejak perjalanan Israel, tampaknya sejarah Israel tidak pernah lepas dari perjalanan peperangan. Eskalasi keterlibatan Israel dalam perang di Timur Tengah selalu meningkat dalam setiap periodenya. Mulai dari level bertahan pada perang Israel-Arab tahun 1948-1956, lalu mulai berani melakukan serangan dan intervensi terhadap Irak, Lebanon, pada tahun 1967-1982, hingga pada tahun 1980 an – sekarang Israel mulai memasuki periode serangan inisiatif lintas batas. 

Negara yang sebagian besar didiami oleh bangsa Yahudi tersebut, bangsa yang sebelumnya terbuang dari Eropa itu, kini setelah melewati kemenangan demi kemenangan dalam perang telah menjelma menjadi bangsa yang angkuh dan merasa tak terkalahkan. Mereka semakin jumawa, arogan, bahkan melampaui batas-batas kemanusiaan. 

Israel Kehilangan Rasa Kemanusiaan

Sejak perang Israel-Hamas yang di mulai pada Oktober 2023 kebengisan Israel pada rakyat sipil di Palestina tampak sudah tidak malu-malu lagi. Video kematian wanita dan anak-anak di Gaza dilegitimasi oleh mereka sebagai konsekuensi perang, bahkan lebih menakutkan lagi para tentara Israel Defense Forces (IDF) menjadikan kematian anak-anak di Gaza sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan. 

Tampaknya kebengisan Israel terhadap kemanusiaan tidak hanya merasuki tentara IDF saja, bahkan telah meracuni sipil orang dewasa bahkan paling ekstrim anak-anak Israel. Di era keterbukaan sosial media seperti hari ini, kita bisa menyaksikan langsung bagaimana warga Israel menyikapi kematian sipil dalam perang sebagai sebuah kepuasan (psikopat).

Misalnya di akun TikTok Hamzah Saadah seorang palestina yang coba berkomunikasi dengan orang Israel melalui aplikasi Ome TV, banyak sekali kebencian warga Israel kepada Palestina dalam taraf yang keterlaluan. Umpatan-umpatan seperti “i kill you” atau “fuck you” bertebaran seperti nyanyian mars nasional dan membanggakan bangsa mereka atas kematian warga sipil Palestina.

Seorang tentara IDF ketika ditanya oleh Hamzah “apakah kamu akan membunuh anak-anak Palestina di Gaza?” Ia menjawab dengan mantap “I want to bomb Gaza, i don’t care about the kids, i don’t care about civilians, i don’t care about them. I will distroyed Gaza”. Ada pula seorang pria sipil yang ditanya “kamu bilang tidak apa-apa membunuh anak-anak?” Pria itu kembali menjawab dengan mantap pula “If they’re Palestinian they’re terroris (okay)”. Sementara lainnya seperti pelajar bahkan anak-anak bertaburan umpatan kata-kata kotor setelah mengetahui Hamzah seorang Palestina.

Militer Israel yang dipersenjatai oleh Amerika telah membangun kekuatan yang harus diperhitungkan di kawasan Timur Tengah. Semakin tinggi tingkat kemenangan Israel atas perang melawan proksi-proksi di negara tetangganya, maka semakin bengis dan keterlaluan pula Israel dalam menyikapi perang. Begitu pula warganya semakin negaranya di atas angin dalam perang, maka semakin jumawa dan arogan mereka. Paling baru adalah mereka tidak melawan proksi-proksi lagi, tetapi sudah berani mengancam eksistensi kedaulatan sebuah negara yaitu Iran, meski Iran tidak tinggal diam.

Sikap keterlaluan Israel sebagai negara maupun sebagai individu manusia merupakan sebuah contoh dari sisi tergelap pada diri manusia. Semakin manusia memiliki kuasa atas ketidakberdayaan seseorang, maka kebengisan manusia akan semakin tampak. Fenomena Israel ini dapat dikatakan sebagai sebuah contoh entitas dari seni “Rhythm 0” karya Marina Abramovic tahun 1974. Bagaimana bisa?

“Rhythm 0” Marina Abramovic 1974

Rhythm 0 merupakan nama dari sebuah karya seni pertunjukkan dari Marina Abramovic pada tahun 1974 di Naples, Italia. Sebuah seni pertunjukan yang amat provokatif dan bahkan kontroversi. Bagaimana tidak, karya ini secara tidak langsung mempertontonkan sisi tergelap yang ada dalam diri manusia secara vulgar dengan mempertaruhkan nyawa sang performer.

Pertunjukkan berlangsung selama 6 jam dimulai ketika para penonton mulai memasuki ruangan pada jam 20.00 dan berkumpul di sekitar meja yang di atasnya terdapat berbagai benda mulai dari coklat, bunga, apel, anggur, hingga berbagai benda yang cukup gila: alkohol, jarum, rantai, pecut, peluru, dan pistol.

Tiga jam pertama dalam pertunjukkan penonton tampak malu-malu atau mungkin juga kebingungan karena diantara benda-benda di atas meja aneh itu ada seorang gadis muda yang diam tak bergeming. Orang-orang mulai bergerak memberikannya bunga, melingkarkan syal, atau juga mencium nya.

Ketika tiga jam pertama berlalu reaksi penonton menjadi semakin gila, sebuah jarum mulai ditancapkan ke tubuh Marina namun ia tetap pasif. Semakin malam kerumunan penonton mulai didominasi oleh pria, atmosfer seksualitas dari penonton pria tak dapat dibendung lagi, pakaian Marina digunting dan merobek pakaiannya. Ia tetap diam tak bergeming. Ketidakberdayaan Marina atas perlakuan para penonton membuat suasana ruangan semakin mengerikan. 

Pada dini hari saat keadaan semakin intens, Marina di gotong oleh penonton dan di letakkan di atas meja, lalu sebuah pisau di sayatkan ke leher Marina hingga meneteskan darah yang langsung dihisap oleh seorang penonton pria. Hingga puncak klimaksnya ada pria membawa pistol yang telah diisi peluru di letakkan di tangan Marina lalu ujung pistolnya di arahkan ke lehernya.

Suara semakin riuh, mereka para penonton telah melampaui kepribadian dari kehidupan sehari-harinya dan menjadi individu yang tak pernah terbayangkan oleh mereka sendiri. Apa yang telah merubah mereka? Kekuatan terhadap ketidakberdayaan seseorang!

Israel dalam Rhythm 0

Sebelumnya saya ingin katakan bahwa interpretasi terhadap karya seni berbeda dengan disiplin lain yang kaku, formalistik, dan terbatas. Seni memiliki kebebasan dan fleksibilitas dalam interpretasi, sebab seni berangkat dari pengalaman pribadi yang sangat personal, subjektif, dan egois. Maka interpretasi seni pun harus personal dan boleh untuk tidak sama dengan sang pencipta atau kata sang ahli. Sekali lagi alasannya karena personal. Semakin banyak dan variatif interpretasi sebuah seni, maka semakin kaya pula nilai karya tersebut.

Rhythm 0 bukan hanya tentang sebuah pertunjukkan seni tetapi juga sebuah atraksi kegilaan dalam diri manusia yang tak pernah terekspos secara vulgar sebelumnya. Kekuatan terhadap entitas tak berdaya telah mendorong manusia menjadi pribadi yang lebih setan dari setan meski itu berasal dari pribadi yang religius sekalipun. 

Penonton pertunjukkan Rhythm 0 berasal dari Italia selatan di mana gereja katolik begitu kuat dan memegang dikotomi sikap terhadap perempuan. Namun fakta tersebut tidak menutup kemungkinan kegilaan dalam diri manusia muncul dalam momentum tersebut. Betapa gilanya, bukan.

Kekuatan militer Israel atas invasi mereka di wilayah Gaza Palestina, membuat warga di sana tak punya pilihan selain bertahan. Kekuatan Hamas sama sekali tak dapat mengimbangi senjata mutakhir Israel yang disokong oleh Amerika, sementara dalih melawan terorisme yang digaungkan Israel membungkam begitu saja forum perdamaian internasional untuk melakukan upaya penghentian. Sia-sia. Benar-benar begitu berkuasanya Israel atas ketidakberdayaan rakyat Gaza.

Ketidakberdayaan Gaza dihadapan Israel tampaknya telah melahirkan sisi tergelap dalam diri manusia-manusia Israel. Apa misalnya? Adegan penghancuran gedung-gedung di Gaza menjadi tontonan menarik bagi warga Israel yang layak dinikmati bersama semangkuk popcorn, kelaparan dan kehausan jadi olok-olokkan lucu yang menghibur, hingga kematian anak-anak menjadi prestasi yang layak dirayakan bersama-sama. Gelap. Benar-benar gelap.

Itu baru warganya, tentaranya bahkan lebih setan dari setan lagi. Membunuh warga Palestina ibarat sedang berburu babi hutan di belantara reruntuhan puing, mereka menghitung berapa banyak tangkapan yang didapat hari ini. Sebuah laporan PBB yang dirilis pada 13 Maret 2025 yang diberi judul “More than a human can bear” (Lebih dari yang Dapat ditanggung Manusia) menemukan fakta bahwa tentara Israel menggunakan metode kekerasan seksual berbasis gender terhadap tahanan Palestina. Masih banyak lagi sebenarnya kekejaman yang dilakukan oleh manusia Israel, namun semua kekejaman tersebut bermuara pada satu tujuan. Genosida.

Israel Harus Disadarkan

Kegilaan Israel harus segera dihentikan, setidaknya di sadarkan. Mereka seolah tidak ada yang bisa menyentuh sehingga boleh dan bisa melakukan apapun sesukanya, bahkan kepada kedaulatan sebuah negara sekalipun, Iran misalnya.

Bukan barang baru Israel melakukan gerakan senyap untuk membunuh ilmuwan-ilmuwan, jendral terbaik, hingga pemimpin tertinggi Iran. Mereka menggila seolah tak ada yang bisa menghentikan. Namun ketika kegilaannya sedang menjadi, Israel secara vulgar menyerang fasilitas nuklir Iran yang sedang dalam pengembangan. Iran tak terima, ia punya alasan untuk menyerang balik karena kevulgaran Israel. Serangan rudal tiada henti menghantam Tel Aviv, dan Haifa sebagai pusat kekuatan Israel.

Meski perang rudal Israel-Iran berujung damai secara diplomatik dengan klaim kemenangan atas keduanya, tapi setidaknya serangan Iran ke pusat kekuatan Israel telah sedikit memberi sentilan bahwa mereka masih bisa dijangkau, kekuasaan mereka bisa dilawan. Sebagaimana dalam pertunjukkan Rhythm 0 kekuasaan penonton atas tubuh Marina bisa selesai ketika kuasanya hilang karena waktu pertunjukan sudah habis. Begitu pula Israel. Semoga.