Kopi hingga Rudal yang Bertumbuk

Duduk di samping jalan, beserta hamparan debu di pelupuk kaki. Matahari menyengat ubun-ubunmu yang sedang menengok alur-lintas jalan. Sambil bercengkrama dengan buku usang mu, kau menemani kopi hitam yang kesepian. Lembar demi lembar kau baca, dan tak terasa waktu begitu cepat meninggalkanmu. Mengambil pemantik api di saku baju, lalu menghisap sebatang rokok yang murah.

Meneliti setiap jejak asap yang ditinggalkan, terbesit kembali arti dari kopi. Kopi yang kita konsumsi sehari-hari, mungkin tak pernah terpikirkan dibahas secara seksama. Tapi beda hal dengan satu orang ini, sebut saja dia dukun alam semesta. Manusia yang lahir dari tetumbuhan, mengenali jejak dunia melalui tumbuhan dan menggali intisari tetumbuhan.

Ia menuliskan sebuah artikel yang cukup unik, Kopi dan Sunda. Kopi yang dulunya menjadi tanaman hias dapat merubah watak kebudayaan suatu daerah. Lebih dari itu, masyarakat adat yang dulu menyayangi alam serta menyakralkan bagian alam, berubah ketika ia mengetahui nilai tukar alam. Dilema antara kehuluan, dan nilai ekonomi, menjadikan bias antar kepentingan, diperparah dengan kondisi menekan dan pemaksaan para kolonial. Mengubah sudut pandang alam, dulu ia dianggap kerabat dekat manusia. Setelah mengenal nilai tukar, ia berubah menjadi sesuatu yang dapat diperlakukan secara bebas.

Dahulu, kita mengenalnya sebagai tanam paksa, ketika kolonial membabat dan memaksa para penduduk jajahan untuk menanam sesuatu yang bernilai di pasar. Sekarang, mungkin kita mengenalnya dengan sawiti secara paksa, caranya lebih halus, mengatasnamakan kemajuan ekonomi dan pembangunan daerah. Tapi, tak jauh berbeda dalam praktiknya sama-sama dipaksa.

Setelah membaca dan mengulas artikel, kau kembali pada lingkungan yang membosankan dipenuhi para dedengkot kebajikan, melanjutkan perjalanan pada satu titik berkumpulnya manusia aneh. Tempat itu, mungkin akan menjadi tapak tilas kau mendengungkan beberapa puisimu. Bergema dengan toa letih, setelahnya bercakap-cakap bersama. Sinar mendidih berlanjut menjadi senja yang terselimuti polusi udara, membicarakan tentang situasi elit global sadunia. Bertepatan dengan suatu kejadian seorang pelajar yang dibunuh oleh orang gila bersenjata.
Seorang pelajar yang baru saja memasuki usia remaja, harus meninggalkan bumi secara cepat. Tanpa basa-basi, tangan besi mendidih mengokang kepalanya hingga ia terkujur pada aspal jalanan yang retak. Secara cemas, orang gila bersenjata, mengangkat tubuh pelajar yang sudah lemas tak berdaya seperti hewan sembelihan. Pemandangan tak manusiawi, tak perlu dilanjutkan secara detail. Mari ke obrolan tadi, setelah membicarakan kejadian pelajar itu, kau menapaki jalan terjal menuju area gedung hantu. Gedung hantu disusupi oleh mu, di dalamnya terdapat berbagai macam pemandangan yang mengerikan, mulai dari manusia membawa arit yang tabu di tembok, hingga buku-buku yang dibakar oleh kepentingan.

Di gedung itu, diadakan suatu pertemuan rahasia, seperti agen mossad. Membahas pengalaman di lapis jeruji, mulai dari fakta hingga realita semua dibahas. Pembahasan itu berlanjut pada proses sosialisasi tentang pentingnya solidaritas, solidaritas dari agen sosial yang tercampakan dunia. Benih solidaritas yang wajib ditebar pada permukaan, berbicara tentang kemanusiaan dan haknya. Oh indahnya solidaritas itu. “Solidaritas merupakan bentuk perlindungan dari segelintir tikus rengkik beruang, menjadi hal yang perlu dilakukan ketika dunia dipenuhi sampah-sampah tak bertulang. Solidaritas demi menjaga, menyampaikan, mendaulatkan, memanusiakan” sependeknya yang kau tangkap pada rapat agen mossad itu.

Setelah rapat agen mossad di gedung hantu, tak lupa kau memotret beberapa pameran seni yang telah digelontarkan. Seni yang sangat indah, mungkin Van Gogh pun akan menyesal ia dilahirkan di Belanda. Seni yang pedih untuk dilihat dunia, seni yang memuat kutukan lebih dari animasi jujutsu kaisen yang terkenal. Seni yang paling menyeni menurut mu saat itu, yang dipaparkan oleh gedung hantu itu.

Beranjak dari senja terselimuti polusi menuju malam tak ada bintang. Kau berjalan kembali, pada jalan lurus penuh bolong seperti infrastruktur publik. Menemukan sebuah titik terang di antara lingkungan dedengkot kebajikan. Sinar dari cover-cover buku ketinggalan jaman menyilaukan matamu layaknya percikan emas. Mendatangi tempat itu, dan berbincang untuk menghutang buku. Kebiasaan yang tak buruk sepenuhnya, sistem kredit buku. Toko buku tak pernah lengkap yang sering dijumpai di status seorang penaksir buku. Seorang sufi dan pendakwah yang menyamar menjadi penjaga gerbang intelektual. Seiring waktu berjalan, bercakap-cakap tentang dunia, kau melanjutkan kembali perjalanan. Tak luput juga mari kita bicarakan tentang sufi yang menyamar menjadi tukang buku ini. Ia sudah bergelut dengan literasi puluhan tahun, juga menulis beberapa buku. Salah satu bukunya, trilogi perpustakaan kelamin, banyak diminati kalangan pembaca. Sang sufi menuturkan, ia menulis buku-bukunya di sela-sela waktu menjaga toko, dengan harapan sang sufi menjadi waroq yang terkenal. Waroq sendiri, sebutan bagi penjaga toko abad lalu, tapi di sela-sela waktunya, waroq sering menyalin beberapa naskah dan juga menulis naskah. Mungkin, itu juga yang menjadi cita-cita terbesar sufi yang menyamar jadi tukang buku.

Hari mulai terlelap pada waktu tidur. Serigala di hutan-hutan melolong, dan suara itu tak pernah sampai. Tepat pada tengah malam, kau membaca berita-berita yang berseliweran di internet. Selang waktu, kau mendapati berita perihal perang yang berkecamuk di belahan dunia lain. Perang itu, melibatkan dua negara besar, dan membuat posisi ekonomi dunia terancam runtuh. Rudal saling bertumpukan dan menghantam satu sama lain, hingga drone kamikaze yang canggih menghantam gedung-gedung simbol kegemilangan. Penjahat yang menyamar jadi pahlawan, mengatasnamakan perdamaian dunia, membentuk musuh bersama, kali ini bukan komunisme seperti dahulu. Perang dingin kedua, sebut saja begitu.

Kau menganggap perang itu, seperti perang dingin kedua dunia. Di balik cercahan rudal yang tercecer di jalanan kota, ada tangan dingin untuk meraup keuntungan. Sedanau darah dijadikan alasan untuk mendorong tingkat jual-beli. Pengorbanan untuk mencapai kemajuan jual-beli. Harga baku naik secara ekstrim, dan beberapa industri mulai menaikkan harga, akibat perang yang berkecamuk. Tentu saja, perang bukan hanya menimbulkan darah yang dibiarkan mengalir di jalanan kota, juga ia melahirkan keruntuhan stabilitas ekonomi dunia yang memicu kerusakan di penjuru dunia.

Seiring dengan berita itu, kau mulai menghela nafas. Mengambil bongkahan besi usang untuk menulis, dan mulai mendekatkan otak dan hati ke tangan. Usulan hati dan otak mulai bergejolak pada tangan, dan kau menulis;
“Hari ini, rudal menghantam gedung-gedung dan rumah-rumah yang mengakibatkan darah berceceran di samping pintu mereka. Perlu diingat, bahwa perang selalu melahirkan ketegangan dan kehancuran. Mengorbankan nyawa banyak orang yang tak bersalah, mengakibatkan kelaparan dan musim paceklik di segala penjuru dunia. Di balik puing-puing reruntuhan dan bau amis darah yang berseliweran, ada mereka yang memanfaatkan situasi demi tujuan gila. Segelintir itu, tertawa terbahak-bahak sembari menari dengan jamuan vodka emas, dihiasi bulu-bulu kemewahan simbol dari keangkuhan. Layaknya mereka berselebrasi, merayakan kemenangannya di atas darah manusia tak berdosa dan anak kecil yang kehilangan rumah serta orang tuanya di balik puing-puing reruntuhan, sungguh derita itu mereka rasakan…”