Secara bahasa, Rajab adalah nama bulan ke 7 dari bulan hijriyah, dan berada di antara bulan Jumadi al-Akhir, dan bulan Sya’ban. Al-Rajabu dalam bahasa Arab berarti al-Iffah, (Prof. Karim Muhammad Mahmud, Mu’jamu al-Thullab al-Wasith, Beirut: Daru al-Kutub al Ilmiyah, 2009,293). Al-Iffah, menjaga kehormatan, dan kesucian diri. Bulan Rajab merupakan bagian dari bulan hurum atau bulan yang dimulyakan Allah, setelah tiga bulan sebelumnya, yaitu Muharram, Dzu al-Qa’dah, dan Dzu al-Hijah, (QS: 9, 36). Bulan Rajab Adalah bulan momentum diwajibkannya shalat lima waktu oleh Allah Swt, kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw, dan umatnya. Kewajiban perintah shalat itu, bersamaan dengan rihlah suci Nabi Muhammad Saw, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, dari masjidi al-Haram Mekah, ke masjidi al Aqsha Palestina, pada 27 Rajab, satu tahun sebelum pelaksanaan hijrah. Dengan demikian, Isra’ Mi’raj tidak saja sebagai upaya pemulihan, terhadap duka yang dialami Nabi Muhammad Saw, terkait dengan wafatnya dua pelindung utamanya, yaitu Sayyidah Khadijah, istri setianya, dan Abu Thalib, paman dan melindunginya, pada setiap ada ancaman dari kafir Qurasy. Syaikhul Islam, Muhyi al-Din, Abi Zakaria Yahya al-Nawawi.
Mengutip sebuah hadits Rasulullah Saw, yang diriwayatkan Imam Bukhari, dan Imam Muslim, berasal dari sahabat Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa, suatu ketika Nabi Muhammad Saw, bertanya kepada para sahabat. Bagaimana menurut kalian, andaikan ada sungai di depan rumah kalian, lalu kalian mandi lima kali setiap harinya, masih tersisakah kotoran di badan? Para sahabat menawab, tentu tidak ada sedikitpun kotoran yang akan tersisa di badan. Atas jawaban para sahabat tersebut, Nabi Muhammad Saw, berkomentar. Demikianlah shalat lima waktu, Allah akan membersihkan segala dosa yang pernah dilakukannya, (Riyadu al-Shalihin, Indonesia: Daru al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah, tth, 444).
Dengan shalat lima kali dalam sehari semalam, aktifitas raga dan jasad, serta gerak gerik tubuh, akan menjadi bersih, tertuntun oleh kelurusan aktifitas fikir, dengan ketajaman nalar fathanahnya, dan terbimbing oleh kesucian aktifitas jiwa dan ruh, dengan kewaskitaan nalar amanahnya. Tidak heran, bila Allah Swt, melalui lidah Nabi Muhammad Saw, yang mulya, memastikan bahwa bila segala aktifitas raga dan jasad, serta gerik gerik tubuh yang tidak lurus dan tidak bersih pada masa lampau, dengan shalat lima kali sehari semalam, semuanya akan diampuni oleh Allah Swt. Bagaimana tidak, karena pada setiap perubahan gerakan shalat, mushalli atau pelaku shalat, selalu bersama Allah, melalui sapaan Rabbun yang berarti Allah sebagai pengatur, dan pemelihara semesta ciptaan-Nya. Menurut M. Qurash Shihab, kata Rabbun seakar dengan kata tarbiyah yang berarti mengarahkan sesuatu, tahap demi tahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya. Bisa juga berarti memiliki, sehingga rububiyah berarti kependidikan atau kepemeliharaan yang mencakup pemberian rizki, pengampunan, dan kasih sayang, (Tafsir al-Misbah, Vol. I, Jakarta: Lentera Hati, 2005,30 31).
Ketika berdiri dalam shalat, Allah disapa oleh mushalli atau pelaku shalat dengan sapaan Rabbun (Alhamdulillahi Rabbil Alamin) pada setiap membaca surat al-Fatiha. Dalam ruku’, Allah disapa dengan Rabbun (Subhana Rabbiya al-Adhim). Dalam i’tidal, Allah disapa dengan Rabbun (Rabbana Laka al-Hamdu), Dalam sujud, Allah disapa dengan Rabbun (Subhana Rabbiya al-A’la). Dalam duduk di antara dua sujud, Allah disapa dengan Rabbun (Rabbighfirly War Hamny).
Basahnya bibir dengan sapaan Rabbun untuk Allah, yang mengakar pada kedalaman palung hati terdalam pada setiap melakukan shalat, maka raga dan jasad, serta gerak gerik mushalli, menjadi segar bugar, bersama keperkasaan al-Jabbar, Allah yang Maha Perkasa. Jiwa dan roh mushalli akan menebarkan kesuci wangian, bersama belas kasih ar-Rahman, ar-Rahim, Allah yang Maha Kasih, dan Maha Penyayang. Tentu shalat yang demikian, bukanlah shalat yang hanya sekedar untuk keluar dari sebuah kewajiban, tetapi merupakan kebutuhan untuk selalu taqarrub atau bermesra ria bersama Allah Swt, dengan sapaan Rabbun. Mereka yang rampok uang rakyat, lakukan korupsi, dan mereka yang tidak empati kepada penderitaan sesama, dengan penebangan hutan secara ilegal, serta mereka yang senang memecah belah umat, dipastikan, shalat yang dilakukan, hanya untuk menutupi kesalahannya. Semoga momentum Rajab Allah akan membimbing kita, untuk selalu taqarrub dengan terus menyapa-Nya, dengan sapaan Rabbun dalam shalat yang dilakukan, Amin Ya Mujiibas Saailiin.







