Resolusi Tahun Baru dan Pemaknaan Kehidupan yang Absurd

Pergantian tahun selalu hadir dengan ritual yang hampir universal: refleksi dan resolusi. Kalender berganti, harapan diperbarui, dan manusia kembali menyusun daftar target: lebih sehat, lebih produktif, lebih sukses, lebih bermakna. Namun, tidak jarang resolusi tersebut kandas di tengah jalan, terkikis oleh rutinitas, kelelahan, dan realitas hidup. Bahkan tak jarang semangat kobaran resolusi menjadi pribadi yang lebih lain ini hanya bertahan beberapa hari di tahun yang baru, sisanya menjalani hidup seadanya yang tak jarang juga menjalani kehidupan yang jauh tanpa arah lagi.

Setiap pergantian tahun, manusia melakukan ritual yang hampir selalu sama: menoleh ke belakang, menilai kegagalan dan keberhasilan, lalu menyusun resolusi baru. Namun ironisnya, resolusi-resolusi itu sering kali berulang dari tahun ke tahun—seolah tidak pernah benar-benar tuntas. Pola inilah yang membuat mitos Sisifus terasa begitu relevan dalam membaca kehidupan manusia modern.

Tahun ke tahun sesungguhnya yang kita alami adalah proses pengulangan kehidupan, pengulangan kebiasaan-kebiasaan. Entah bagaimana setiap akhir tahun rasanya muncul dalam benak untuk menyusun ulang harapan dan pemaknaan dari kehidupan yang di Jalani. Dalam perspektif Eksistensial, membuat resolusi bukanlah tindakan naif, melainkan bentuk perlawanan terhadap absurditas hidup. Saat dunia tidak menjanjikan kepastian, manusia justru menciptakan makna melalui komitmen pribadi. Resolusi menjadi pernyataan eksistensial:

Aku tetap memilih bertumbuh, meski sadar akan kemungkinan jatuh.

Menurut Camus, absurditas muncul ketika kesadaran manusia bertemu dengan realitas yang tidak kooperatif. Resolusi kehidupan mencerminkan konflik ini secara telanjang. Di satu sisi, manusia berambisi menjadi versi diri yang lebih baik; di sisi lain, pengalaman hidup mengajarkan bahwa kegagalan, kemunduran, dan pengulangan adalah keniscayaan. Dunia ini, dalam pandangan Camus, lebih sering menampilkan sisi “sampah”-nya ketimbang “keindahannya”. Ia mengajak kita untuk melihat realitas sebagaimana adanya: hidup ini penuh hal yang “nggak enak”, jauh lebih sering menyakitkan daripada menyenangkan.

Pemikiran Camus tentang absurditas kehidupan diejawantahkan secara paling kuat dalam esainya yang berjudul The Myth of Sisyphus. Dalam esai tersebut, Sisyphus digambarkan sebagai seorang raja yang dikutuk oleh Dewa Zeus untuk menjalani hukuman abadi: terus mendaki, namun ketika ia hendak sampai ke puncak, ia terguling lagi, begitu seterusnya.

Alegory mitos Sisifus merupakan cara pandang yang baik dari Camus dalam menghadapi absurditas. Sisifus sesungguhnya adalah simbol manusia yang memberontak dari absurditas.  Hidup kita dan hukuman Sisifus  sama sekali tidak berbeda, keduanya tidak berarti dan sia-sia. Keduanya adalah kutukan dan hukuman. Batu besar yang didorong ke atas gunung adalah metafora dari kecenderungan manusia, kerinduan manusia akan sesuatu yang ideal. Dan batu besar yang terus menerus menggelinding ke bawah adalah kenyataan pahit yang disajikan dunia.

Manusia modern saat ini sepertinya juga dikutuk menjadi “Neo Sisifus”. Kita dituntut untuk menjalani rutinitas mekanis: rutinitas kerja, tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan ekspektasi personal menciptakan siklus hidup yang berulang. Setiap hari adalah dorongan batu baru; setiap tahun adalah pendakian ulang menuju puncak yang sama.

Resolusi adalah metafora dari batu yang di dorong dan digelindingkan oleh Neo Sisifus hari ini. Resoulusi tahunan itu  hadir sebagai simbol harapan akan “puncak” itu—titik di mana hidup menjadi lebih baik, lebih teratur, dan lebih bermakna. Namun realitas sering berkata lain. Banyak resolusi gagal, tertunda, atau hanya berubah bentuk, lalu di setiap akhir tahun (di puncak waktu) kita menggelendingkan kembali batuan harapan itu untuk kembali mendorong batuan harapan tersebut kepuncak, dan begitulah seterusnya dari tahun ketahun.

Menghadapi situasi semacam ini, absurdisme menemukan kembali relevansinya. Untuk siapa pun yang berpikir bahwa hidup ini tidak berarti, begitu-begitu saja dan menuntut kita untuk bunuh diri. Absurdisme layak untuk dijadikan bahan refleksi. Melalui Absurdisme, kita diajak untuk memberontak, menolak menyerah pada kehidupan yang tak terarah. Di depan dunia yang tak bertujuan, di hadapan kehidupan yang mengandaikan kematian, absurdisme mengajak kita untuk melawan kehidupan dengan terus-menerus hidup. Bagaikan Sisifus yang tanpa lelah, mendorong batu besar sampai ke puncak gunung meski pada akhirnya batu itu akan terus menerus tergelincir. Kita juga harus terus-menerus berusaha mendorong beban-beban kita, menyelesaikan masalah-masalah yang menghampiri. Meski, pada akhirnya beban dan masalah akan terus-menerus berdatangan silih berganti. Dan, kata Camus, segala upaya kita yang tampak sia-sia itu, cukup untuk mengisi kekosongan hidup kita, harus dibayangkan diri kita bahagia.

Pada akhir paragraf ini, ingin saya samapaikan selamat tahun baru 2026 untuk para Neo Sisifus. Sudahkah kita dapat memahami bahwa tahun baru ke tahun baru adalah bagian dari absurditas kehidupan; jalan yang tak membawa kita ke mana-mana selain ke tempat berangkat. Resolusi yang dibawa dari tahun baru yang lama sampai ke tahun baru yang paling baru tapi tidak juga merubah hidup. Ya, selamat tahun baru; jalan yang terus melebar ke mana-mana dan membawa kita tidak ke mana-mana selain ke tempat berangkat.

Selalu ke semula, jalan melempang dan melenglang.


Bahan Bacaan:

Camus, Albert. (1999) Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Seorang ASN Progresif yang tidak mau hidup Cuma begitu-begitu saja. Penulis Adalah pemerhati isu politik, hukum, serta dinamika sosial di Indonesia. Dengan latar belakang minat yang kuat pada filsafat politik dan kajian kritis, ia kerap menyoroti relasi antara negara, masyarakat, dan kekuasaan, khususnya dalam konteks demokrasi yang sedang mengalami tantangan serius. Bagi Husni, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan juga bentuk perlawanan simbolik terhadap praktik kekuasaan yang tidak adil