Sebagai mantan mahasiswa di salah satu kampus swasta di Bandung, kini aku bekerja di gudang perusahaan penjualan buku di kawasan Antapani. Suatu waktu di jam istirahat, ketika aku sedang seduhan kopi dan sebatang rokok, tiba-tiba aku tertawa dan membuat seulas senyuman. Mendadak pikiranku mencoba membandingkan dua dunia yang sedang kujalani. Di satu sisi, ada organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), tempatku belajar berdialektika tentang materi kemahasiswaan, keislaman, dan keindonesiaan. Di sisi lain, ada budaya kerja perusahaan, tempatku mencari nafkah untuk menyambung kehidupan.
Dua dunia ini memiliki budaya yang bertolak belakang bagai air dan api, terutama jika dibedah dari tiga hal: sifat, struktur, dan komunikasi.
Sifat: Idealisme Perubahan vs Realisme Pemasukan
Berdasarkan pengalamanku dari tingkat rayon, komisariat, hingga cabang, PMII memiliki budaya idealisme-perubahan. Semua hal harus bergerak di atas nilai: Aswaja, AD/ART organisasi, dan pembelaan kaum tertindas (mustad’afin). Saat membuat kegiatan—baik formal, non-formal, maupun informal—modal utamanya adalah “Semangat Pergerakan” dan “Solidaritas Kebersamaan”. Uang seringkali menjadi urusan nomor sekian, karena bisa ditutupi lewat iuran atau dana usaha mandiri, jika memang ada.
Sementara di perusahaan, budayanya adalah realisme-pemasukan, orientasinya jelas: berapa pemasukan dan pengeluaran. Kita tidak bisa bekerja hanya bermodalkan jargon atau kebersamaan; semua wajib menghasilkan output yang jelas. Hubungannya bersifat transaksional yang terukur—pekerja memberikan keahlian dan waktu, sedangkan perusahaan memberikan gaji serta fasilitas demi menunjang profit bisnis.
Struktur: Senioritas Egaliter vs Hierarki Absolut
Struktur di PMII sangat unik; formal tetapi santai karena dibalut budaya kekeluargaan. Secara formal, strukturnya berjenjang dari Pengurus Besar hingga Pengurus Rayon. Namun, relasi di dalamnya sangat egaliter. Anggota baru di tingkat rayon bisa saja mengkritik pengurus pusat sambil berdiskusi di sekretariat. Tokoh yang paling dihormati pun bukan cuma yang punya jabatan, melainkan senior atau “Tum” yang memiliki karisma serta kaya pengalaman lapangan.
Di perusahaan, strukturnya menganut hierarki-absolut yang ketat, mulai dari Associate, Manager, Director, hingga CEO. Jalur koordinasinya sangat kaku. Mustahil bagi karyawan baru untuk langsung mengkritik Direktur tanpa terkena teguran etika birokrasi. Di dunia kerja, jabatan adalah otoritas yang harus ditaati, bukan sekadar formalitas.
Komunikasi: Dialektika Pemikiran vs Instruksi Peraturan
Budaya komunikasi PMII bersifat dialektis dan puitis, bahkan sering kali mengabaikan manajemen waktu. Rapat yang diumumkan mulai pagi hari, bisa baru berkumpul sore, dimulai malam, dan baru berakhir subuh. Rapat panjang itu ditemani kopi dan kepulan rokok, sambil memperdebatkan istilah berat seperti hegemoni, dialektika, kontemplasi, hingga manifestasi.
Di perusahaan, jika Anda menggunakan cara tersebut, Anda siap-siap menerima “surat cinta” berupa Surat Peringatan (SP) dari HRD. Komunikasi korporat wajib efisien, taktis, dan serba tertulis. Tidak ada waktu untuk bahasa tinggi dari kutipan buku filsafat atau bahasa puitis dari seorang tokoh pergerakan. Semua komunikasi sudah berpola (template) demi efisiensi bisnis.
Titik Temu
Sebenarnya aku tidak ingin–bahkan mungkin tidak bisa–untuk menilai mana yang lebih baik. Keduanya punya porsi berbeda dalam membentuk mental kita. PMII adalah laboratorium terbaik untuk mengasah empati, kepemimpinan organik, dan berpikir kritis. Sedangkan bekerja adalah tempat terbaik untuk belajar disiplin, efisiensi waktu, tanggung jawab profesional, dan kemandirian finansial.
Bagi sahabat sekalian yang sedang atau akan memasuki dunia kerja, sesuaikan diri dengan tempat kalian berada. Gunakan profesionalisme perusahaan untuk mencapai tujuan hidup, tanpa harus kehilangan jati diri. Jadilah pekerja yang profesional di dalam sistem, namun tetap miliki jiwa sosial yang peduli pada sesama. Bukan begitu, Sahabat?





