Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh dengan satu pesan yang terdengar sederhana “laki-laki harus jadi pemimpin”. Menjadi kepala keluarga, menjadi pihak yang mengambil keputusan, menjadi pelindung. Laki-laki pada dasarnya bertanggung jawab, melindungi, atau memimpin. Persoalannya muncul ketika kata “memimpin” digunakan untuk membenarkan tindakan mengontrol orang lain.
Lebih jauh lagi, ketika posisi, kekuatan, status sosial, ekonomi, atau gender digunakan untuk memperoleh sesuatu yang sebenarnya tidak diberikan secara bebas oleh orang lain.
Memimpin Bukan Berarti Memiliki
Seorang pemimpin tidak menjadi pemimpin karena orang lain kehilangan hak untuk menentukan pilihan. Kepemimpinan justru seharusnya hadir bersama tanggung jawab, kemampuan mendengar, menghargai batas.
Namun, dalam relasi antara laki-laki dan perempuan, kita masih sering menemukan anggapan bahwa laki-laki memiliki posisi yang secara otomatis lebih tinggi. Laki-laki dianggap lebih rasional, laki-laki dianggap lebih kuat, laki-laki dianggap lebih pantas mengambil keputusan, laki-laki dianggap sebagai sebagai pihak yang memiliki kebutuhan seksual yang lebih besar. Dari sinilah privilege dapat bekerja.
Privilege membuat seseorang memperoleh keuntungan tertentu bukan selalu karena ia memintanya, tetapi karena lingkungan sosial sudah terbiasa memberikannya. Masalahnya bukan pada privilege itu sendiri. Masalahnya adalah apa yang dilakukan seseorang dengan privilege tersebut.
Ketika Kepemimpinan Berubah Menjadi Kontrol
Ada perbedaan besar antara mengatakan “Aku ingin melindungimu” dan “Karena aku melindungimu, maka kamu harus mengikuti keinginanku”. Yang pertama dapat menjadi bentuk kepedulian, yang kedua sudah mulai masuk ke wilayah kontrol.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan seksual. Seorang laki-laki boleh memiliki hasrat seksual terhadap pasangannya. Ia boleh menginginkan kedekatan fisik. Tapi keinginan tersebut tidak otomatis memberikan hak untuk mendapatkannya.
Hubungan romantis bukan surat kepemilikan atas tubuh pasangan. Menjadi pacar bukan berarti memiliki akses seksual tanpa batas. Menjadi suami bukan berarti setiap keinginan seksual harus dipenuhi, dan menjadi laki-laki bukan berarti memiliki hak lebih besar atas tubuh perempuan.
Persetujuan bukan sekedar tidak adanya kata “tidak”. Persetujuan seharusnya diberikan secara bebas, tanpa tekanan, ancaman, manipulasi, atau ketakutan terhadap konsekuensi tertentu. Jika seseorang menggunakan status, uang, jabatan, kekuatan fisik, atau pengaruh emosional untuk membuat orang lain sulit menolak, maka kita perlu mempertanyakan apakah hubungan tersebut benar-benar setara.
“Aku Laki-Laki, Wajar Kalau Punya Nafsu”
Kalimat seperti ini sering terdengar sebagai pembenaran. Tapi perempuan juuga memiliki hasrat seksual. Yang menjadi persoalan bukan apakah seseorang memiliki nafsu. Persoalannya adalah bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika sedang memiliki hasrat tersebut. Nafsu bukan alasan untuk kehilangan tanggung jawab.
Jika seseorang menginginkan sesuatu tetapi orang lain tidak menginginkannya, maka kedewasaan seharusnya terlihat dari kemampuan untuk menerima penolakan. Justru di situlah pengendalian diri diuji. Bukan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi ketika kita mampu menghormati seseorang meskipun ia tidak memberikan apa yang kita inginkan.
Mengapa Perempuan Sering Diminta Untuk Menjaga Batas?
Menariknya, ketika membicarakan persoalan seksual, masyarakat sering memberikan banyak aturan kepada perempuan. “Jangan pulang terlalu malam, jangan terlalu dekat dengan laki laki, jangan memberikan harapan, jangan membuat laki-laki tergoda”.
Tentu saja menjaga keamanan diri adalah hal penting. Tetapi ada pertanyaan yang sering terlupakan, mengapa tanggung jawab untuk mengendalikan perilaku seksual laki-laki sering dibebankan kepada perempuan? Seolah-olah laki-laki tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Padahal laki-laki juga memiliki tanggung jawab atas perilakunya sendiri. Laki-laki dapat tertarik tanpa menyentuh, laki-laki dapat menginginkan tanpa memaksa. Mengajarkan Perempuan untuk menjaga diri penting, Tetapi mengajarkan laki-laki tentang consent, batas tubuh, empati, dan tanggung jawab juga sama pentingnya.
Ketika “Melindungi” Menjadi Alat untuk Mendominasi
“Aku melakukan ini karena aku sayang, aku cuma ingin melindungi kamu, aku laki-laki, jadi aku lebih tahu apa yang terbaik”. Kalimat tersebut tidak selalu salah. Namun, kita perlu melihat tindakan yang mengikutinya. Apakah perlindungan tersebut memberikan rasa aman? Atau justru menghilankan kebebasan? Apakah kepemimpinan memberikan ruang untuk berbicara? Atau justru menuntut kepatuhan? Apakah hubungan tersebut dibangun atas dasar saling menghormati? Atau salah satu pihak merasa berhak menentukan tubuh dan pilihan pihak lainnya?
Karena melindungi tidak sama dengan memiliki. Memimpin tidak sama dengan mengontrol. Mencintai tidak sama dengan memiliki hak atas tubuh orang lain.
Jadi, Apakah Ini Kepemimpinan atau Penyalahgunaan Privilege?
Jika seorang laki-laki memimpin tetapi masih memberikan ruang bagi orang lain untuk berpendapat, itu adalah kepemimpinan. Jika seorang laki-laki melindungi tetapi tetap menghormati kebebasan orang lain, itu adalah kepedulian. Jika seorang laki-laki memiliki hasrat tetapi tetap menghormati batas orang lain, itu adalah kedewasaan.
Kepemimpinan yang membutuhkan ketakutan untuk dipatuhi bukanlah kepemimpinan yang sehat. Hasrat yang membutuhkan pengorbanan kehendak orang lain bukanlah sekadar persoalan nafsu.
Pada akhirnya, yang diukur bukan dari seberapa besar kekuasaan yang mampu ia gunakan atas orang lain, tetapi dari seberapa baik ia menggunakan kekuasaan yang dimilikinya tanpa merampas kebebasan orang lain.






