Kenapa Kau Ucapkan apa yang Tidak ku Katakan?!

Ketika membahas Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, ada satu hal yang kira-kira sering banget luput dari perhatian. Banyak tuduhan yang beredar tentang beliau, mulai dari mengafirkan orang yang bertawasul, mengingkari ziarah makam Nabi, sampai dituduh ingin menghancurkan Kubah Hijau. Padahal jika kita lihat langsung pernyataan beliau dalam surat-suratnya, ceritanya ternyata nggak sesederhana itu, Ferguso ! Beliau justru berkali-kali membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah serta kedustaan yang besar.

Pada surat yang di tujukan kepada penduduk Qasim; Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa dirinya sudah mendengar surat Sulaiman bin Suhaim sampai kepada mereka dan sebagian orang yang mengaku berilmu malah membenarkan Sulaiman. Beliau (Syekh Muhammad) kemudian menegaskan:

ثم لا يخفى عليكم أنه بلغني أن رسالة سليمان بن سحيم قد وصلت إليكم وأنه قبلها وصدقها بعض المنتمين للعلم في جهتكم ، والله يعلم أن الرجل افترى على أمورا لم أقلها ولم يأت أكثرها على بالى

Intinya, beliau mengatakan bahwa Sulaiman bin Suhaim telah membuat berbagai tuduhan yang tidak pernah beliau ucapkan dan bahkan sebagian besar tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Nah, ini penting, sebab posisi beliau terhadap tuduhan tersebut bukan membenarkan, tapi justru menolaknya secara terang-terangan

 (محمد بن عبد الوهاب، مجموعة مؤلفات الشيخ، القسم الخامس، الرسالة الأولى من الرسائل الشخصية، ص. 12).

Di antara tuduhan yang beliau bantah adalah anggapan bahwa beliau mengafirkan orang yang bertawasul kepada orang-orang saleh, mengafirkan al-Bushiri, mengingkari ziarah makam Nabi, mengingkari ziarah makam orang tua, sampai tuduhan ingin menghancurkan Kubah Rasulullah. Beliau bahkan menyebut tuduhan-tuduhan tersebut dengan kalimat:

جوابي عن هذه المسائل أن أقول سبحانك هذا بهتان عظيم

“Jawabanku mengenai persoalan-persoalan ini adalah: Mahasuci Engkau, ini adalah kedustaan yang sangat besar.”

Kalimat ini sebenarnya sudah cukup jelas. Beliau tidak mengatakan, “iya, saya pernah mengatakan semuanya.” Justru beliau menegaskan bahwa itu adalah buhtan, yaitu tuduhan dusta yang sangat besar. Beliau juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad pernah mendapatkan tuduhan dusta dari orang-orang yang menisbatkan kepada beliau perkataan yang tidak pernah beliau ucapkan.

 (محمد بن عبد الوهاب، مجموعة مؤلفات الشيخ، القسم الخامس، ص. 12–24).

Lalu ada surat lain yang beliau kirim kepada al-Suwaidi seorang ulama dari Irak. Ketika di tanya tentang berbagai perkataan yang beredar mengenai dirinya, beliau memberikan jawaban yang cukup keras:

إن إشاعة البهتان بما يستحى العاقل أن يحكيه فضلا عن أن يفتريه مما قلتم أنني أكفر جميع الناس إلا من اتبعني ، وياعجبا كيف يدخل هذا في عقل عاقل ، وهل يقول هذا مسلم ؟

“Sesungguhnya menyebarkan kedustaan yang membuat orang berakal malu untuk menceritakannya, apalagi mengada-adakannya, termasuk di antara apa yang kalian katakan bahwa aku mengafirkan semua manusia kecuali orang yang mengikutiku. Sungguh mengherankan, bagaimana perkataan seperti ini bisa masuk ke dalam pikiran orang yang berakal? Apakah seorang Muslim mengatakan hal seperti ini?”

Loh eh, di sini lagi-lagi terlihat bahwa beliau membantah tuduhan bahwa dirinya mengafirkan semua orang kecuali pengikutnya. Jadi, kira-kira jangan buru-buru mengambil kesimpulan hanya dari label atau cerita yang beredar. Lebih aman melihat apa yang benar-benar beliau tulis sendiri.

Persoalan tawasul juga menjadi bagian penting. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ketika ditanya mengenai tawasul menjelaskan:

فقال فالفرق ظاهر جدا ، وليس الكلام مما نحن فيه ، فكون بعض يرخص بالتوسل بالصالحين ، وبعضهم يخصه بالنبي صلى الله عليه وسلم ، وأكثر العلماء ينهى عن ذلك ويكرهه ، فهذه المسألة من مسائل الفقه ، وإن كان الصواب عندنا قول الجمهور من أنه مكروه ، فلا ننكر على من فعله ، ولا إنكار في مسائل الاجتهاد

“Perbedaannya sangat jelas. Sebagian ulama memberikan keringanan dalam bertawasul kepada orang-orang saleh, sebagian lainnya mengkhususkannya dengan Nabi, sedangkan mayoritas ulama melarang dan memakruhkannya. Ini adalah persoalan fikih. Jika pendapat yang benar menurut kami adalah pendapat mayoritas bahwa hal tersebut makruh, kami tidak mengingkari orang yang melakukannya. Tidak ada pengingkaran dalam persoalan ijtihad.”

Nah, dari sini kelihatan bahwa beliau membedakan antara tawasul dan berdoa kepada makhluk. Beliau mengingkari orang yang menjadikan makhluk sebagai tujuan doa, tetapi berbeda halnya dengan seseorang yang tetap berdoa kepada Allah dan menjadikan Nabi atau orang-orang saleh sebagai wasilah. Beliau dawuh:

فأين هذا ممن يدعو الله مخلصا له الدين لا يدعو مع الله أحدا ولكن يقول في دعائه : أسألك بنبيك أو بالمرسلين أو بعبادك الصالحين

“Lalu apa hubungannya hal tersebut dengan orang yang berdoa kepada Allah dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya dan tidak berdoa kepada siapa pun bersama Allah, tetapi dalam doanya berkata: ‘Aku memohon kepada-Mu dengan Nabi-Mu, atau dengan para rasul, atau dengan hamba-hamba-Mu yang saleh.’”

Monggo lihat Fatwa Syekh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Majmu‘ al-Mu’allafat, bagian ketiga, halaman 68, yang diterbitkan Universitas Imam Muhammad bin Saud al-Islamiyah

 (محمد بن عبد الوهاب، مجموعة المؤلفات، القسم الثالث، ص. 68).

Kemudian persoalan ziarah makam juga menarik bagi saya. Di sebutkan bahwa beliau tidak otomatis menganggap persoalan berdoa di sisi makam sebagai syirik. Yang beliau bedakan adalah siapa yang sebenarnya menjadi tujuan doa. Jika seseorang berdoa kepada Allah dengan ikhlas, lalu menggunakan tawasul, persoalannya berbeda dengan orang yang justru berdoa kepada makhluk dan meminta kepadanya secara langsung. Affaan toeh, persoalannya tidak bisa dipukul rata begitu saja kalau kata mama Ghufron mah : Ahh… asyqoli innama faqoli alaynaka ghufron 🤟🏼 (silahkan translate sesuai kepercayaan masing-masing)

Masuk ke isu Kubah Hijau tuduhan bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ingin menghancurkannya juga dibantah. Dalam surat kepada penduduk Qasim, beliau kembali menyebut tuduhan tersebut sebagai kedustaan:

وقوله إنى أقول لو أقدر على هدم قبة رسول الله لهدمتها ، ولو أقدر على الكعبة لأخذت ميزابها وجعلت لها ميزابا من خشب

Kemudian beliau menjawab:

جوابي عن هذه المسائل أن أقول سبحانك هذا بهتان عظيم

“Jawabanku mengenai persoalan-persoalan ini adalah: Mahasuci Engkau, ini adalah kedustaan yang sangat besar.”

 (محمد بن عبد الوهاب، مجموعة مؤلفات الشيخ، القسم الخامس، الرسالة الأولى، ص. 12؛ الدرر السنية، ج. 1، ص. 28).

Di surat lainnya kepada al-Suwaidi beliau juga membantah tuduhan bahwa dirinya ingin menghancurkan Kubah Nabi. Bahkan ketika membahas Dalail al-Khairat, beliau menjelaskan bahwa persoalannya berkaitan dengan nasihat agar Kitab Allah tidak dianggap kalah utama dibanding bacaan lain. Adapun tuduhan bahwa beliau membakar kitab tersebut dan melarang salawat kepada Nabi dengan lafaz apa pun, beliau tegaskan:

وأما إحراقه والنهي عن الصلاة على النبي الله بأي لفظ كان فهذا بهتان

“Adapun tuduhan bahwa aku membakarnya dan melarang salawat kepada Nabi dengan lafaz apa pun, maka itu adalah kedustaan.” 

(محمد بن عبد الوهاب، مجموعة مؤلفات الشيخ، القسم الخامس، الرسائل الشخصية، ص. 37؛ الدرر السنية، ج. 1، ص. 54).

Anjayy kalii dari rangkaian kutipan ini terlihat satu pola yang cukup konsisten. Saya meninjau bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkali-kali menolak berbagai tuduhan yang dinisbatkan kepadanya. Beliau tidak hanya membantah sekali, tetapi mengulang bantahan tersebut dalam beberapa surat dan kesempatan.