Di suatu pagi, di motor sembari nganterin istri dan anak ke sekolah—di tengah perjalanan—saya menangis. Sontak saya tahan dan terpikir, emangnya laki-laki beneran boleh nangis?
Kenapa pertanyaan itu bisa muncul? Soalnya, laki-laki tuh kalau udah nangis (kesan yang saya punya) bikin orang-orang di sekitarnya ikut ngerasain sedih, atau bikin suasana jadi nggak asik, atau bikin awkward, atau dianggap lemah, atau nggak bisa diandalkan lagi, dan nggak punya harga diri lagi.
Ditambah, laki-laki (lagi, kesan yg saya punya) inginnya sebisa mungkin menyelesaikan masalah, nggak mau tuh dia jadi penyebab masalah.
Nah, “sedih” di kepala saya adalah masalah, maka membuat orang sedih berarti menjadi penyebab masalah.
Tambahlah kalau sudah berkeluarga, sebagai kepala keluarga, pasti ingin anggota keluarganya bahagia, sejahtera, tenteram, dan nyaman, kan?
Sebentar, kenapa “sedih” dianggap sebagai masalah? Kalian pasti mikir gitu. Ngaku aja, hah.
Sedih awalnya memang bukan dianggap sebagai masalah. Ia hanya satu dari beberapa jenis emosi manusia seperti: marah, kecewa, senang, terkejut, dll. Tapi, di lingkungan tempat saya tumbuh, sedih + laki-laki itu sebuah dosa besar.
Entah dari mana mulainya, semua orang seperti kompak bekerja sama, di semua fase usia: dewasa, remaja, anak-anak, toddler, bahkan waktu masih jadi bayi pun, tangisan dianggap mengganggu; mereka secara nggak langsung seperti setuju bahwa ketika ada yang menangis (apalagi laki-laki), langsung dianggap cengeng, lemah, nggak berguna, penghambat, dan nggak gentle! (yang terakhir entah dari mana sebutan “nggak gentle” bisa ikut melengkapi penghinaan itu, padahal gentle artinya lembut).
Jadi, apakah laki-laki nggak boleh nangis?
Menurut saya jawabannya bergantung.
Kalau nangisnya laki-laki sudah nggak dikesankan menjadi penyebab masalah, boleh nangis.
Kalau nangisnya laki-laki sudah nggak jadi penyebab hilangnya kepercayaan untuk bisa diandalkan lagi, boleh nangis.
Kalau nangisnya laki-laki sudah nggak dianggap beban sama anggota keluarganya—karena ikut tertekan dan menggangu kehidupan sehari-hari mereka, boleh nangis.
Selain itu, terima aja udah kenyataannya. Pendem rasa sedihmu wahai para laki-laki, tutupi dengan senyuman palsumu itu, sama “jokes bapak-bapak” recehmu itu. Nangis lah di kamar mandi, di pojok ruangan, di mana lah, asal nggak keliatan orang.







