Interpretasi lagi Liar

Kita semua tahu bahwa bahasa adalah medium pengungkapan keajaiban yang amat sangat. Dengan bahasa semua bisa tersambung, dengan bahasa semua bisa terputus. Masalahnya, apa yang tersambung dan terputus disebabkan oleh medium yang sama. Ini masalah. Bagaimana sebuah medium bisa saling melukai? Padahal semua memiliki niat yang belum tentu sesuai dengan dugaan pada akhirnya. Bahasa bisa menjadi wadah saling mencintai, masalahnya, apa yang harus dicintai? Kata rindu bisa tiba-tiba menjadi sendu. Itu sebagian dari kekerasan bahasa dan simbolik.

Bahasa sebagai simbolik acapkali menunjukkan taringnya yang lancip. Mengoyak dan merobek semua tatanan hingga menjadi tahanan. Bahasa yang secara tidak sadar keluar dari jari maupun lisan menjadi sebuah meteor yang siap jatuh kapan saja. Tak aneh rasanya jika bahasa merupakan salah satu media penjerumusan manusia ke dalam api neraka, itu pun jika mereka masih percaya dengan adanya neraka.

Masalah dari kekuatan simbolik ini sangat pelik, terutama bahasa. Sebagai tirakat kehidupan, bahasa adalah lelaku yang amat sakral. Bahasa kali ini mewujud sebagai media yang dekat dengan aktivitas, biasanya bahasa-bahasa yang bertransformasi ini bisa menjadi sastra. Rangkaian yang dekat dengan sistemik sosial yang melekat dengan kehidupan, sosial, budaya, dan politik. Lelaku yang ini bisa disebut dengan kekhasan sastra. Tanpa adanya bahasa, sastra tidak mudah terwujudkan.

Memahami sastra tentunya harus paham bahasa, mana mungkin membaca sastra namun tidak bisa bahasa. Seperti lengkuas di antara nikmatnya tumpukan rendang. Memahami sastra tanpa melalui bahasa bisa dibilang jika itu mustahil yang nyata. Sastra lebih jauh dari itu, merupakan miniatur keadaan yang ada di dunia.

Terlepas dari sastra itu berkaitan dengan transenden maupun tidak, dampak sastra bisa dirasakan jika kunci itu dibuka. Kunci dari sastra adalah bahasa. Sekali lagi bahasa.

Mari kita berpikir liar sejenak, bagaimana jika sastra tidak dipahami oleh medium bahasa? Bagaimana sastra bisa dipahami, memahami, dan terpahami? Apakah sastra akan berubah wujud jadi sosok yang lain? Jika bisa berubah menjadi sosok yang lain, apa yang bisa mengakomodir itu? Saya kira itu sangat sulit sekali. Apakah sastra akan berubah dari tulisan jadi udara? Ah tidak juga, itu tak masuk akal rasanya.

Sebagai pegiat dalam qabilah sastra, hari ini mereka dihadapkan dengan sesuatu yang amat pelik. Bahkan dari hulu ke hilir. Bagaimana mereka memosisikan diri sebagai agen yang harus memotret dunia sebagai ruang mini yang wajib diaksarakan. Dalam urusan menyusun kalimat, semua orang pasti bisa dan sangat bisa, apalagi ada akal imitasi yang dapat membantu setiap penulisan dari sebuah fenomena.

Namun, bagi tulisan organik, rasa-rasanya akan berbeda dengan apa yang Ai bisa tuliskan. Keorganikan itulah yang membawa tulisan jauh dari interpretasi liar, maaf saya ralat, tidak terlalu jauh. Ada sesuatu yang melintas dari ruang ide ke aksiologi, itu yang tidak dimiliki oleh imitasi. Walaupun promter bagus, sepertinya tidak bisa mengalahkan tulisan yang adanya dalam ide dan sanubari.

Kembali pada pegiat sastra. Di samping harga buku yang semakin hari jauh dari kata murah, ruang maya salah satu pilihan yang banyak dipilih untuk dipilah. Tak semuanya tulisan harus dimuat dalam satu media, namun bagaimana tulisan kritik seorang pegiat bisa dikenal dengan gagasannya lewat ruang maya. Jika bisa dicetak, alhamdulillah.

Tak cocok lagi rasanya jika ruang sastra tidak bicara tentang ruang real yang terjadi di Indonesia maupun di dunia. Bahkan zaman Hamzah Fansuri, dia sudah membicarakan ihwal transenden. Kiranya ruang sastra pada zaman ini fokus pada realitas sosial yang mengungkung dan meresahkan setiap harinya. Bukan tentang kabar buruh atau pesimisme dari sebuah sulaman kehidupan, lebih dari itu, bercerita keadaan dengan sastra kiranya bisa jadi jembatan untuk mengasah pola kritis pembaca. Karena dari interpretasi sastra, imajinasi akan berkembang yang tak serupa. Tentunya semoga dijauhkan dari segala marabahaya, salah satunya interpretasi yang hilang dari lajurnya.