Santri dan Evolusi Kaum yang Pernah Lugu

Dulu, kami adalah anak-anak yang lugu. Tidur beralas sajadah lusuh, makan kadang tanpa lauk. Baju koko sebulan tak dicuci, sarung cap gajah duduk, rokok jarum coklat, dan parfum misik seharga lima ribu rupiah segram menjadi kemewahan tersendiri. Kami mengaji di surau dengan tikar sobek-sobek, lampu lima watt yang redup, pintu toilet pakai sarung bekas, bak tanpa air, timba yang jatuh ke sumur, dan gayung pecah. Namun, semangat hidup kami menembus langit. Kami mengaji bukan karena deadline, bukan pula demi absensi, melainkan karena haus ilmu dan gelisah yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di antara debu kitab kuning dan aroma misik itulah kami tumbuh, menanam romantisme tentang umat, keikhlasan, dan cita-cita religius yang membara.

Tapi itu dulu. Lalu kami tumbuh. Masuk kampus. Kenal dunia baru. Kami masuk organisasi ekstra kampus, lalu menyelami apa yang disebut kebaikan yang terorganisir. Di ruang-ruang diskusi kami bicara tentang kaderisasi, basis massa, leading sektor, hegemoni, nalar kritis, civil society, konsolidasi gagasan, subsidi silang pengetahuan, kolektif kolegial, hingga rekonstruksi pemikiran keagamaan. Bahasa kami berubah. Kami tak lagi menyebut ngaji tafsir, kami mulai menyebutnya kajian kritis atas teks keagamaan dalam perspektif sosio-kultural. Awalnya semua itu terdengar keren. Kami merasa sedang naik level, dari santri kampung menjadi intelektual muda progresif yang tercerahkan. Dari ngaji tafsir bakda magrib, ke diskusi malam hari membahas Husserl, Kant, Habermas, Gramsci, Hasan Hanafi, Arkoun, dll.

Tapi di balik semua retorika itu, ada dunia lain yang pelan-pelan membentuk nalar kami. Dunia yang mengenalkan kami pada TOR, pagu anggaran, daftar narasumber, NPWP, strategi lobbying ke birokrasi, sampai rumus kemenangan HMJ, Dema, dan Konfercab. Proyek moral dan pengabdian yang dulu membakar dada kini menjelma menjadi dokumentasi kegiatan. Yang dinilai bukan lagi isi pesan, melainkan kemampuan menerjemahkan teori menjadi anggaran, kemampuan mempresentasikan gagasan agar dilirik orang pusat, dan kemampuan menarasikan pengabdian masyarakat dengan kalimat akademik yang ramah di hadapan LP2M dan Wakil Rektor 3.

Dari situ, khidmat tak lagi sekadar seruan batin atau pengabdian sunyi. Ia menjelma agenda programatik yang lengkap dengan timeline, capaian minimal, capaian maksimal, dan grup WhatsApp panitia. Harus ada output. Harus ada postingan Instagram. Dan tentu saja, tema kegiatan wajib selaras dengan indikator moderasi beragama yang sedang menjadi program unggulan Kementerian Agama. Wahyu ilahi kini beredar dalam format ukuran banner. Tuhan masih disebut, tentu. Tapi hanya sebagai kalimat pembuka di kata pengantar proposal berfont Arial Narrow, ukuran 16, rata tengah, dan diberi bingkai biru kuning agar terlihat ideologis.

Kami mengalami sendiri, bagaimana di antara kami, wajah-wajah yang dulu bersinar karena ikhlas pelan-pelan mulai belajar membaca peta kekuasaan. Kami yang dulu khusyuk membaca Fathul Mu’in, kini mulai cakap mengurai mekanisme CPNS, strategi mendapatkan rekom LPDP, dan teknis rekrutmen KPPS. Yang dulu menangis karena kesulitan menghafal bait Alfiyah, kini sudah tahu caranya mengunci voting di forum musyawarah, memetakan arah blok suara di konfercab, dan mendesain distribusi kader sesuai kepentingan aliansi. Bahkan, semangat membaca pun tetap menyala—bukan membaca buku, melainkan membaca senior mana yang berpotensi menang pileg, menang pemilihan rektor, naik ke jabatan Dirjen Pendis, dan ke mana arah paling aman untuk memarkirkan loyalitas sebelum musim kompetisi dimulai. Semua itu kami bungkus rapi dalam istilah memperbaiki sistem dari dalam.

Kami juga tahu, tidak semua ini salah. Kebaikan memang butuh kemasan. Amal juga butuh manajerial. Tapi kami menyadari ada jiwa yang hilang di tengah profesionalisme administratif ini. Dulu belajar menunduk, sekarang belajar mengintervensi struktur kepengurusan junior. Dulu menangis saat ngaji Hikam, sekarang menangis saat dana pelatihan tidak cair dari senior. Dulu mengenakan baju koko lusuh dan sandal jepit, sekarang mengenakan batik klinis dan memegang handbag hitam, biar terlihat gaya, walaupun isinya tarason dan balsem. Dulu hati gelisah karena takut jauh dari Tuhan, kini gelisah karena lupa password e-kinerja.

Yang paling membuat getir adalah saat kami mulai merasa biasa. Biasa melihat program yang katanya untuk masyarakat tapi yang datang hanya kader. Biasa menyebut kata ikhlas, sambil mengecek m banking apakah honorarium sudah cair. Biasa membuka kegiatan dengan ayat suci, dan menutupnya dengan tanda tangan bendahara.

Namun, di antara kami masih ada segelintir yang belum sepenuhnya larut. Mereka yang memilih tidak ikut sesi foto dengan narasumber orang pusat, tidak rebutan mic, dan tidak rebutan moderator. Mereka tahu Tuhan tidak hadir dalam dokumentasi, tapi dalam gelisah yang tak kunjung reda. Mereka barangkali tak tercatat dalam notulen rapat, tapi justru namanya disebut dalam diam paling dalam, di antara doa-doa yang tak pernah diprogramkan.