Pram dan Kretek dalam Prosesi Kelahiran Karya Sastra

Barangkali hanya sedikit orang saja khususnya kalangan pecinta sastra yang tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer atau Pram. Pasalnya beliau adalah Sastrawan besar yang dimiliki bangsa Indonesia. Kepiawaiannya dalam dunia tulisan menjadikan namanya harum sampai saat ini meskipun sudah meninggal sejak sekitar 17 tahun yang lalu. Keharuman namanya karena sejalan dengan apa yang pernah ia ucapkan dahulu yaitu “Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah”.

Pramoedya adalah Sastrawan yang lahir di Blora tanggal 6 Februari tahun 1925. Beliau merupakan anak sulung dari Mastoer dan Oemi Saidah. Kegemarannya dalam menulis dimulai sejak Pram duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 5. Semasa kecilnya Pram mempunyai pribadi yang minder dan tidak percaya diri, hal ini salah satu nya disebabkan oleh ayahnya yang sering menganggap bahwa ia seorang anak yang bodoh karena pernah 3 kali tidak naik kelas. Lebih jauh dari itu Pram kemudian dilarang oleh ayahnya untuk meneruskan sekolah ketika beranjak pada usia 13 tahun.

Dalam buku Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer tentang esai-esai kebudayaan, Mohamad Sobary menjelaskan bahwa semenjak putus sekolah, Pram kemudian berjualan kretek dengan membuka warung sebagai bentuk hukuman dari ayahnya. Setahun menggeluti hukuman tersebut, tak disangka Pram sukses besar. Ia melayani berbagai pelanggan bahkan pamannya sendiri yang sering membeli kretek di warungnya dengan cara kredit. Sebuah potret ekonomi yang merakyat.

Saat kecil berjualan kretek, saat tumbuh dewasa menjadi penikmat kretek. Itulah Pramoedya Ananta Toer. Kita juga mungkin sudah sangat mengenal bahwa Pram adalah perokok berat. Bahkan sampai sebelum dirinya meninggal yakni saat usia 86 tahun, Pram tidak pernah berhenti untuk menghisap salah satu kekayaan alam Indonesia ini (Kretek). Sehingga barangkali perpaduan antara tangan lihai pram dalam menulis, hisapan dan asap kretek yang keluar dari mulutnya menjadi bidan dalam prosesi kelahiran karya sastra yang diciptakannya. Mungkin apa yang dirasakan oleh Pram ketika menulis sambil merokok itu pula yang dirasakan saya saat membuat tulisan ini. Menulis sambil merokok bagi saya adalah suatu surga dunia, dimana ketika kebuntuan menimpa diri dalam menyelesaikan tulisan, seolah-olah hembusan nafas yang bersamaan dengan keluarnya asap kretek menjadi penuntun jalan dalam menyusun kata demi kata. Kecintaan saya pada kretek disamping manfaatnya dalam kegiatan menulis berdasarkan pengalaman pribadi, karena juga faktor lain soal sejarah kretek itu sendiri. Pada masa pergerakan nasional kretek menjadi teman para mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di negeri Belanda. Bahkan dalam buku Membunuh Indonesia kretek digambarkan tidak pernah lepas dari keseharian hidup masyarakat Indonesia di masa lalu, utamanya saat berbincang-bincang dengan sesama dan kerap dihadiahkan untuk orang lain sebagai bentuk penghargaan atas bantuan yang telah diberikan.

Kembali lagi soal Pramoedya, bahwa kretek sudah menjadi sahabat bagi Pram. Karena sebagian waktu dari satu hari yang dilalui Pram pastilah ditemani oleh kretek, dalam hal ini khususnya ketika menulis. Pram seringkali menanti datangnya inspirasi dan menulis suatu karya sastra sambil merokok. Sehingga tidak heran jika Pram dan kretek adalah dua entitas yang saling mendukung. Banyak karya sastra yang lahir dari tangannya yang lihai dan asap kreteknya yang menjelma menjadi kata-kata, seperti buku Larasati, Cerita dari Blora, Nyanyi Sunyi Sorang Bisu dan masih banyak lagi. Karyanya yang paling masyhur adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah kaca, yang sering kita kenal dengan Tetralogi Buru. Dikenal demikian karena keempat karya Pram tersebut ia tulis ketika mendekam di penjara Pulau Buru Kepulauan Maluku semasa ia ditahan oleh pemerintahan Orde Baru.

Meskipun penahanan dan pengadilan yang dilakukan Orde Baru atas Pram tidak berdasar, saya beranggapan bahwa itu adalah suatu bentuk ketakutan pemerintah dengan beredarnya karya Pramoedya di kalangan masyarakat Indonesia kala itu. Sebagian besar karya Pram yang bercorak Realisme Sosialis dikhawatirkan bisa  menggugah kesadaran rakyat atas segala praktik penindasan dan militerisme Orde Baru yang sudah kita ketahui bersama. Isi dari karya Pram sebagian besar berupa respon atas kenyataan hidup yang hadir di sekitar masyarakat Indonesia dalam konteks sosial-politik. Khususnya berupa penderitaan yang dialami rakyat. Tokoh yang menjadi kunci utama dalam karya nya selalu memiliki usaha perlawanan dalam mewujudkan masyarakat yang tanpa penindasan, penghisapan dan tanpa kelas.

Referensi:

Mohamad Sobary, MARK HANUSZ & PRAMOEDYA ANANTA TOER, 1st ed. (Jakarta: KPG, 2016).

Abhisam, Hasriadi, and Miranda, MEMBUNUH INDONESIA, 1st ed. (Jakarta: Kata-kata, 2011).

Welda Lukita and Nelly Indrayani, “MENELADANI KARAKTER PRAMOEDYA ANANTA TOER MELALUI TULISAN-TULISANNYA DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN INDONESIA,” Jurnal Sejarah Dan Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Jambi 1 (2021).

Suyono Suyatno, “CORAK REALISME SOSIALIS DALAM HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN,” ATAVISME 19 (2016).