Primata atau Manusia? Menggali Ketidakmampuan Menunda Kenikmatan dalam Kehidupan Sehari-hari
Suatu kali, sebuah reels Instagram lewat di layar handphone saya. Isinya menegaskan bahwa ciri “primata” adalah ketidakmampuan menunda kesenangan. Tayangan singkat itu menampar kesadaran saya sendiri—betapa sering, di sekitar kita, orang bertindak seolah dikuasai dorongan segera, salah satunya: merokok sambil berkendara. Belakangan, ketika saya telusuri, klaim “primata tak bisa menunda nikmat” ternyata problematik. Sejumlah eksperimen justru menunjukkan sebagian primata dapat menunda memperoleh makanan demi hasil yang lebih banyak. Namun, benarkah itu menyamakan manusia dengan primata? Di sinilah saya mulai membedakan: hewan mungkin menunda demi utilitas instan, sedangkan manusia—dalam horizon nilai—mampu menata ordo amoris (tatanan cinta/keutamaan) dan memilih berdasar nilai yang lebih tinggi.
Dalam tradisi Islam, latihan menunda kenikmatan paling jelas tampak pada puasa Ramadhan. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan pendidikan menahan hawa nafsu serta merapikan preferensi nilai. Ada ungkapan yang dinisbahkan kepada Ibn ‘Arabi tentang kegembiraan orang berpuasa: selain nikmat berbuka, ada kebahagiaan “berjumpa” dengan Allah—yakni orientasi batin yang melampaui sekadar sensasi inderawi. Dari sini saya menarik garis: kemampuan menunda nikmat pada manusia bukan cuma taktik menunggu hasil lebih besar, melainkan kesanggupan moral-spiritual untuk mengunggulkan nilai yang lebih tinggi atas yang lebih rendah.
Mengurai Nilai Max Scheler: Dari Kenikmatan Sehari-hari ke Keutamaan yang Lebih Tinggi
Max Scheler menyusun hierarki nilai: (1) nilai kenikmatan (hedonik), (2) nilai vital, (3) nilai spiritual, dan (4) nilai religius. Yang lebih tinggi seharusnya memerintah yang lebih rendah. Perilaku yang baik adalah perilaku yang menjaga ordo amoris: menempatkan cinta dan preferensi pada nilai yang memang lebih luhur.
Pertama: nilai kenikmatan. Merokok, apa pun rasionalisasinya, mula-mula beroperasi pada aras hedonik—rasa “nikmat” sesaat. Nilai ini paling rendah dan paling cepat lenyap; ia bangkit dan surut bersama dorongan sensasi. Karena itu, secara moral ia paling mudah ditunda.
Kedua: nilai vital. Ini menyangkut kesehatan, kebugaran, dan—dalam konteks berkendara—keamanan jiwa. Merokok sambil mengemudi mengganggu fokus, memperburuk visibilitas (asap, abu), dan menambah distraksi motorik. Mengorbankan keselamatan (vital) demi rasa nikmat sesaat (hedonik) menandakan inversi hierarki: yang lebih rendah mendikte yang lebih tinggi.
Ketiga: nilai spiritual. Nilai ini mencakup keindahan, kebenaran, dan ketenangan batin. Tindakan merokok di ruang publik bergerak (jalan raya) kerap menafikan harmoni sosial—asap yang mengganggu orang lain, agresi ketika ditegur, dan gelisah defensif yang menyertai kebiasaan. Alih-alih menghadirkan keindahan keteraturan (keadaban jalan raya), ia menciptakan disonansi dan mengikis ketenteraman bersama.
Keempat: nilai religius. Pada puncak nilai, manusia sadar diri sebagai makhluk yang bertanggung jawab di hadapan Yang Ilahi—mengelola dorongan, menjaga amanah hidup, dan memelihara orang lain sebagai sesama yang dimuliakan. Latihan seperti puasa secara eksplisit mengarahkan ordo amoris ke puncaknya: mengunggulkan ketaatan, niat, dan rahmah daripada sensasi sesaat. Dari sudut ini, merokok sambil berkendara—yang berisiko bagi diri dan orang lain—adalah pilihan yang tidak bernilai, karena menurunkan orientasi religius ke tawanan dorongan hedonik.
Kembali ke perbandingan dengan primata: beberapa hewan bisa menunda demi manfaat langsung; namun manusia dapat menunda karena mengakui tata keutamaan nilai. Inilah “kelebihan” manusia: bukan sekadar strategi menunggu, melainkan keputusan bernilai—sebuah preferensi sadar untuk tidak menurunkan martabat vital, spiritual, dan religius hanya demi hedonik.
Contoh keseharian menguatkan tesis ini. Pagi-pagi di jalan, saya sering melihat pengendara menyalakan rokok seakan hanya di momen mengemudi itulah ada ruang “menikmati diri”. Ketika ditegur, tak jarang reaksinya defensif, bahkan agresif—indikator bahwa tindakan telah terkunci pada hedonik, bukan vital (keselamatan), apalagi spiritual (harmoni) dan religius (tanggung jawab di hadapan Tuhan). Padahal “perokok sejati”, jika mau jujur, justru tahu menunda dan menempatkan: menikmati rokok di ruang yang tidak merampas hak napas orang lain, tidak mengancam keselamatan, dan tidak merusak ketertiban publik. Itu saja sudah langkah menyusun ulang ordo amoris.
Merokok Sambil Berkendara: Ketidakselarasan Nilai dalam Pilihan Sehari-hari dan Panggilan Etis untuk Menunda
Merokok sambil berkendara adalah contoh terang ketidakselarasan nilai: kenikmatan sekejap ditinggikan, sementara nilai vital, spiritual, dan religius direndahkan. Jika memakai lensa Max Scheler, tindakan itu gagal menempatkan nilai pada strata semestinya—sehingga tidak bernilai dalam arti yang ketat. Adapun perbandingan dengan primata keliru bila dipakai untuk menghapus keunggulan manusia: hewan bisa menunda demi utilitas, tetapi manusia seharusnya menunda demi nilai yang lebih tinggi.
Di titik ini, latihan keagamaan seperti puasa memberi pelajaran praktis: kita mampu, bahkan layak, menunda nikmat ketika yang dipertaruhkan adalah keselamatan, keindahan moral, dan ketaatan. Jalan raya bukan ruang privat untuk mengekspresikan hedonik; ia adalah ruang komunal yang menuntut ordo amoris: cintai keselamatan, hormati sesama, dan tundukkan dorongan sesaat. Dengan menata ulang preferensi—dari hedonik ke vital, spiritual, dan religius—kita bukan saja “berhenti merokok saat berkendara”, tetapi sedang bertumbuh sebagai manusia yang bernilai.[]




