Merawat Teologi Bencana

Dua dekade setelah tsunami Samudera Hindia memorak-porandakan Aceh dengan menyisakan masjid-masjid yang tetap tegak sebagai saksi. Semuanya akibat ulah manusia bencana besar kembali melanda. Kini, tiga provinsi terdampak paling parah: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Berbeda dari dulu, air bah kali ini bukan datang dari laut. Banjir bandang turun dari gunung, lereng, dan sungai yang meluap, menyeret batang pohon dan balok kayu. Jejak jelas dari kawasan yang telah dibabat. Akibat bencana ini, 174 orang meninggal, 79 hilang, dan 12 luka-luka (Kompas, 29 November 2025, 15:28 WIB).

Padahal, sungai adalah sumber kehidupan. Kita dituntut untuk memuliakan air dan merawat alam sebagai bagian dari etika hidup. Jika sungai dijaga, kita akan lebih tanggap menghadapi bencana seperti banjir atau tanah longsor.

Sayangnya, keserakahan dan ketidakpedulian membuat banyak bangunan berdiri membelakangi sungai, menjadikannya tempat pembuangan sampah dan limbah. Maka, ketika sungai tidak dimuliakan, air berhasil “menunjukkan kekuatannya” melalui banjir, longsor, hingga air rob.

Memang, manusia kerap lalai bersyukur. Kesadaran baru hadir setelah bencana terjadi. Di sinilah pentingnya merawat teologi bencana.

Mengeja Bencana

Dunia yang saat ini menjadi tempat tinggal bagi lebih dari tujuh miliar manusia berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Berbagai fakta menunjukkan kerusakan lingkungan yang sering disebut krisis ekologi telah mencapai puncaknya. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, keberlangsungan alam dan manusia akan berada dalam ancaman yang sangat serius (A. Sonny Keraf, 2010).

Ekoteologi adalah studi teologi yang menanggapi krisis lingkungan hidup. Studi ini memberikan refleksi teologis terhadap isu-isu kerusakan lingkungan dan bagaimana pemulihannya dapat dilakukan. Secara umum, relasi antara Allah, manusia, dan kosmos menjadi titik berangkat sekaligus titik akhir disiplin ini (Ihsannudin, 2017).

Bencana alam adalah tragedi, duka yang diakibatkan oleh peristiwa (rangkaian peristiwa) akibat gejala-gejala alam yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian materi, maupun korban manusia (Kamadhis UGM, 2007).

Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 antara lain:

  • Bencana alam, yaitu bencana yang disebabkan oleh peristiwa alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
  • Bencana non-alam, yaitu bencana yang disebabkan oleh peristiwa non-alam seperti kegagalan teknologi, kegagalan modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
  • Bencana sosial, yaitu bencana yang disebabkan oleh peristiwa yang dilakukan manusia, meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas serta tindakan teror (UU RI, 2007).

Kapitalis vs Islam

Max Weber menjelaskan spirit kapitalisme menggunakan teori spirit kapitalisme dan etika Protestan yang digagas Max Weber, yaitu rasionalisasi, calling, dan asketisme. Konsep Weberian seperti calling dan asketisme merupakan pengembangan dari pemikiran Calvinisme dan Lutheranisme.

Doktrin mengenai calling disampaikan Calvin ketika berdakwah di Jenewa. Calvin mereformasi doktrin calling dari berbagai sekte seperti Methodisme, Pietisme, Baptisme, dan Lutheranisme, yang mengemukakan bahwa calling adalah semangat pembebasan dari ortodoksi maupun teokrasi absolut Gereja Roma.

Manusia dapat berhubungan langsung dengan Tuhan melalui calling batiniah, melalui doa, tanpa perantaraan Paus. Hubungan langsung ini dianggap lebih mujarab untuk memperoleh pengampunan dosa dibandingkan membeli surat penghapusan dosa. Doktrin Calvin yang terkenal berkaitan dengan kelahiran manusia dan takdir Tuhan bagi manusia yang “terpilih”.

Menurutnya, manusia sejak lahir telah ditakdirkan masuk surga atau neraka, tanpa mempertimbangkan kebajikan atau perilakunya di dunia.

Rasionalisme dalam bekerja merupakan upaya verstehen (memahami) pengejaran materialisme ekonomi dalam bentuk spiritualisme agama.

Logika “play hard, work hard” merupakan doktrin bagaimana manusia mengerahkan seluruh potensinya untuk memberi manfaat bagi orang lain sekaligus memperoleh keuntungan. Etos kerja yang tinggi dipandang sebagai bentuk keimanan kepada Tuhan (Stanislav Anderski, 1989).

Dalam etika Islam yang disampaikan Badiuzzaman Said Nursi, konsep utama adalah “tajalliyāt”. Bagi Nursi, krisis ekologis disebabkan oleh kekeliruan cara pandang manusia terhadap alam, sehingga manusia salah menempatkan dirinya dalam relasi dengan alam.

Nursi secara tegas mengkritik cara pandang materialisme. Dalam al-Lama’āt (The Flashes), khususnya risalah al-ṭabî’ah, ia memberikan banyak argumen terhadap kritik tersebut.

Ibrahim Ozdemir menjelaskan bahwa alasan utama Nursi menolak materialisme adalah karena materialisme menafikan perspektif transendental dan nilai-nilai spiritual dalam memahami alam. Materialisme yang mencapai puncaknya pada era modernisme Eropa dianggap sebagai penyebab utama krisis ekologi (Ibrahim Ozdemir, 2000).

Sebagai pengganti cara pandang materialistik, Nursi menawarkan kesadaran spiritual (perspektif ekoteologi) dalam memahami alam. Baginya, terdapat hubungan ontologis yang tidak dapat dipisahkan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Eksistensi alam tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Allah Swt., yang merupakan pusat dari segala eksistensi.

Hakikat Alam

Nursi memahami alam semesta sebagai manifestasi (tajalliyāt) dari sifat-sifat, nama-nama, dan tindakan (af‘al) Allah. Dalam hubungannya dengan manusia, alam adalah tanda (bukti paling kuat) tentang keberadaan Allah.

Nursi menjelaskan hakikat alam sebagai berikut:

  • Alam sebagai buku. Membaca alam sama dengan membaca Al-Qur’an, karena alam adalah “buku besar” dan Al-Qur’an adalah tafsirnya.
  • Alam sebagai karya seni. Karena diciptakan oleh Allah, alam adalah maha karya yang indah dan penuh makna. “Alam hanyalah karya seni; ia tidak mungkin menjadi penciptanya.”
  • Alam sebagai cermin. Alam memantulkan keindahan nama-nama Tuhan, begitu pula setiap makhluk. Dengan demikian, alam memiliki dimensi sakral.
  • Alam bekerja dalam keteraturan. Seluruh makhluk tidak bekerja sendiri, melainkan dalam keteraturan yang ditetapkan Tuhan.

Hubungan antara alam lahiriah dan batiniah. Hubungan ini nyata, namun tidak terlihat oleh mata biasa; hanya hamba-hamba dekat Tuhan yang mampu melihatnya.

Dengan tegas Nursi menulis: “Datang dan perhatikan dengan penuh kesadaran alam sekitar. Catatlah apa yang kau temukan. Lihatlah kekuatan tersembunyi yang mengatur semua ini… seluruh makhluk tidak bekerja dengan kekuatannya sendiri, tetapi ada kekuatan yang menyebabkan mereka bekerja” (Said Nursi, 2002).

Walhasil, Islam mendasari etos kerja sebagai moral dan etika, sehingga memandang alam dengan cara yang seimbang.

Dari berbagai pemikiran itu dapat ditarik tiga gagasan utama: Pertama, Pentingnya mempertemukan tradisionalitas dan modernitas, terutama dalam pola berpikir dan sistem yang selama ini gagal, sehingga keduanya dapat bersinergi membangun makna terdalam yang sama. Kedua, Menjaga keseimbangan alam, sebagaimana konsep yin-yang yang melihat keharmonisan. Ketiga, Mengutamakan kemaslahatan dan keberlanjutan (sustainability) ke depan. (Naufal Kurniawan dkk., 2024: 5–11).

Rasulullah SAW memberi teladan ekologis yang sederhana dan mendalam soal menjaga alam dan lingkungan.

“Tanamlah bibit pohon yang ada di tanganmu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya. Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendaklah ia bergegas menanamnya.”

Perintah ini mengajarkan ihwal merawat bumi bagian dari ibadah tanpa batas waktu. Karena itu, marilah mulai dari tindakan kecil, membuang sampah pada tempatnya, merawat sungai, menanam pohon, dan membangun kesadaran ekologis.

Dengan cara inilah kita merawat teologi bencana baik melalui gerakan ekoteologi, ekopesantren, dan menjadikan para santri sebagai pejuang tanggap bencana. Semoga.