Tentang Film India yang Disalahpahami

“Maka jangan heran, menonton film India, membicarakannya, apalagi membahasnya dengan mata berbinar atau menulisnya dengan tangan gemetar, bukan hanya serasa melakukan sejenis dosa, tapi juga membuat seseorang merasa sendirian—tak ubahnya seorang inspektur polisi di film-film India yang sendirian membasmi para bajingan.” -Mahfud Ikhwan-

Sebagaimana saya di zaman dahulu kala, banyak kawan-kawan dekat yang merasa kalau gerbang film India hanya sekedar industri Bollywood belaka. Apa ini salah? Tentu tidak. Sebab sebelum zaman internet edan seperti sekarang, di mana media visual yang paling banyak dilihat adalah televisi, film-film India yang ditayangkan adalah film-film Bollywood, dan tema yang disodorkan dipersempit jadi tentang cinta-cinta saja, di mana superstarnya macam Shah Rukh Khan, Amir Khan, Salman Khan, Khrithik Roshan, Kajol, Rani Mukerji, atau Katrina Kaif.

Bollywood yang berbahasa hindi dan berbasis di Mumbai, memang merupakan maqom paling tinggi dalam industri film India, tapi di sebaliknya, ada “kasta-kasta”, ada industri-industri lain di mana sutradaranya beda lagi, para pemain dan superstarnya beda lagi, tema-tema yang diangkatnya beda lagi, bahkan bahasa yang digunakannya juga beda lagi.

Sebut saja industri film Tamil (Kollywood), Telugu (Tollywood), Malayalam (Mollywood), Kannada, Punjab, Bengali, Bhojpuri, Marathi, sampai Tellywood. Itu sebabnya, India disebut negara palaing banyak memproduksi film seba’da Hollywood. Saya ingin memisalkan seperti ini: ada industri film Jakarta, menggunakan bahasa Indonesia, tema juga jangkauannya luas, menasional. Tapi di luar itu, ada industri film Papua, film Jawa, film Sunda, film Bugis, film Batak, dengan bahasa lokal masing-masing, dengan aktor masing-masing, bahkan dengan tema dan idealisme masing-masing.

Karena memang berbeda, terutama bahasa, dalam industri film India pun tentu ada persaingan, ada adu bagus, ada adu kuat, bahkan film-film mereka bisa saling adaptasi dan saling remake. Misalnya, film Bollywood Drishyam (2015) dan film Tamil Papanasam (2015) adalah remake dari film Malayalam Drishyam (2013). Film Bollywood Kabir Singh (2019) adalah remake dari film Telugu Arjun Reddy (2017). Film Bollywood Dhadhak (2018) adalah remake dari film Marathi Sairat (2106). Film Tamil Nerkonda Parvaai (2019) adalah remake dari film Bollywood Pink (2016). Film Telugu Gopala-gopala (2015) adalah remake dari film Bollywood Oh My God (2012). Dan masih banyak lagi.

Ini adalah beberapa film India non-Bollywood yang menggembirakan hati saya selama satu dekade ini:

| Marathi | Katyar Kaljat Ghusali (2015)
| Marathi | Natsamrat (2016)
| Marathi | Sairat (2016)
| Tamil | Raavanan (2010)
| Tamil | David (2013)
| Tamil | Kabali (2016)
| Tamil | Vikram Vedha (2017)
| Tamil | Velaikkaran (2017)
| Tamil | To Let (2017)
| Tamil | 96 (2018)
| Tamil | Seethakhaati (2018)
| Tamil | Savarakhati (2018)
| Tamil | Pariyerum Perumal (2018)
| Tamil | Ratsasan (2018)
| Tamil | Viswasam (2019)
| Tamil | Mehandi Circus (2019)
| Tamil | Thadam (2019)
| Tamil | Maharaja (2025)
| Telugu | Kaththi (2014)
| Telugu | Arjun Reddy (2017)
| Telugu | C/o Kancharapalem (2018)
| Telugu | Jersey (2019)
| Telugu | Evadu Thakkuva Kadu (2019)
| Telugu | Maharshi (2019)
| Telugu | Pushpa 2 (2025)
| Punjabi | Asees (2018)
| Malayalam | Drishyam (2013)
| Malayalam | Ustad Hotel (2013)
| Malayalam | Bangalore Days (2014)
| Malayalam | Premam (2015)
| Malayalam | Kammati Paadam (2016)
| Malayalam | Vettah (2016)
| Malayalam | Angamaly Diaries (2017)
| Malayalam | Swathanthryam (2018)
| Malayalam | Ishq (2019)
| Malayalam | Virus (2019)
| Malayalam | Kumbalangi Nights (2019)
| Malayalam | Jalikattu
| Malayalam | 2018
| Kannada | Dia
| Kannada | Kantara (2022)
| Kannada | KGF 1

Kemudian ada yang bertanya ke saya, “Tapi, Kang, film-film non-Bollywood itu sulit sekali diakses.” Dan untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin melontarkan apa yang diucapkan Cak Mahfud Ikhwan saat dirinya ditanya seperti itu, “Tuhan itu gimana prasangka hambanya..”

Saya ingat betul, sebuah novel Indonesia yang sangat populer, diangkat ke layar lebar, kemudian menjadi inspirasi para pemuda untuk mendadak jadi pendaki gunung. Dalam novel itu, ada hardikan yang melukai saya, “Jangan kayak film India: ketika bahagia, nyanyi. Ketika sedih, nyanyi. Ketika jatuh cinta, nyanyi. Putus cinta, nyanyi. Apa-apa, nyanyi. Seolah semua masalah bisa diselesaikan dengan nyanyi.” Hal macam itu memang sering terlontar dari banyak orang, “Film India kenapa sih selalu ada nyanyi dan tarinya?” Bahkan dalam situs jalantikus dot com, nyanyian dan tarian dalam film India dinista sebagai sesuatu yang konyol.

Pernyataan dan pertanyaan di atas, saya kira, selain bebal, paling tidak melahirkan tiga dosa: pertama, dia menghakimi tanpa mengetahui. Kedua, dia bertanya, padahal mengejek dan ngaléléwé. Ketiga, ia memandang budaya orang lain menggunakan kacamata budayanya sendiri.

Apa benar semua film India pasti mengandung unsur tarian dan nyanyian yang dilakukan bersamaan? Kemudian nyanyinya di gunung salju, atau sambil ujan-ujanan dan guling-guling di taman? Tidak juga. Ada banyak film India yang di mana nyanyian dan tarian macam itu ditiadakan. Atau jika anda jeli, di banyak film, scene menyanyi itu tidak sekedar pemanis, tapi menjadi bagian penceritaan dalam film, dan lebih esensial. Bahkan, kita bisa menemukan banyak film India yang nyanyian dan tariannya benar-benar dihilangkan.

Meski dalam hal terakhir, Mahfud Ikhwan ketika berkunjung ke toko saya, sempat bicara sedih, “Yang kutakutkan, film India hari ini menghilangkan nyanyian dan tarian, sedangkan itu identitas mereka yang paling menonjol. Itu sebabnya, banyak film baru yang berdurasi dua jam kurang, sedangkan dulu rata-rata tiga jam. Tapi mungkin, mereka sudah melek dunia luar, jadi mempertimbangkan banyak hal..”

Menyanyi dan menari, kenapa nyaris selalu ada dalam film India, sebab keduanya tak cuma menjadi identitas film-film mereka, tapi bagi orang India, memang, menyanyi dan menari berkaitan erat dengan ruh spiritualitas mereka. Maka lihat di sana, ada Tarian Siwa, ada Tarian Dewa. Atau seperti dikatakan dalam film Katyar Kalzat Ghusali (2015), “Nyanyian adalah Tuhan, bagaimana bisa kau menjualnya dengan sangat murah dan rendah?”

Saya kerap menyaksikan, dalam ajang pencarian bakat di India, menyanyi benar-benar ditempatkan dalam posisi yang terhormat dan tinggi. Para penonton dan juri, ketika melihat seorang peserta bernyanyi dengan sangat baik, mereka tak sungkan untuk benar-benar memberi tepuk tangan, sambil duduk atau berdiri tegak, dengan tak jarang berurai air mata saking bangga.

Di India, ada sebuah ajang pencarian bakat menari, salah satunya Dance 3. Saya melihat di sana, bagaimana bisa, seseorang merasa tersayat dan menangis, padahal sekedar melihat orang menari? Menggerak-gerakkan tubuh? Ya itu karena, sekali lagi, menyanyi dan menari lebih dari sekedar hobi dan kebudayaan, namun sudah benar-berar berdegup di jantung dan mengaliri darah. Itu kenapa, ketika dulu, sinetron Indosiar mencoba meniru film India dengan memasukkan unsur nyanyi dan nari, kita akan merasa aneh dan wagu.

Nyanyian dan tarian, jika ditafakuri lebih dalam, adalah sesuatu yang paling fitrah dalam diri manusia. Dan fitrah itu, dalam film India, dieksplorasi dengan penuh gairah. Dengan penuh hasrat. Dan dalam film-filmnya, disajikan dengan cara yang indah dan kerap tak terduga. Jadi, sekarang, kalau ada yang mengejek film India lantaran selalu ada nyanyian dan tarian, saya akan menjawab seperti ucapan Kang Ibing, “Ciciiiiing!!!! Sia mah teu nyaho mimitina.”

Ingatlah dawuhnya Ali Syariati, “Aku lebih suka melihat wanita India menari daripada ayahku shalat. Sebab ayahku shalat karena kebiasaan, sedangkan wanita India menari karena gairah..”