Bagaimana jika seluruh kegaduhan hidup—kecemasan, kegalauan, kekalutan, amarah, iri, dengki, hasrat, nafsu apapun—sebenarnya berakar pada satu kegagalan yang amat sederhana. Kegagalan kita yang tidak pernah sungguh-sungguh menata batin? Kita berisik menyebut nama Tuhan, sayangnya gugup dan gagap menghadapi diri sendiri. Kita menuntut kesalehan-kesalehan “kita” dan “yang lain”, padahal jiwa kita sendiri compang-camping. Diskusi tentang menjaga “Kewarasan Spiritual” beberapa malam lalu mengingatkan saya bahwa spiritualitas kita tidak hanya gersang. Ia juga ribut, ribet, berisik, dan sering kehilangan arah.
Dalam sufisme Islam, hidup sebenarnya tidak pernah diringkus dari rumusan yang rumit. Para sufi justru kejam dalam menyederhanakan ajarannya (hanya sebagian yang membuatnya pelik). Hidup, jika tidak berlebihan, sebenarnya hanya berputar pada tiga hal antara sabar, syukur, dan niat. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak perlu ditambah tendeng aling-aling lainnya. Seluruh kekacauan manusia bisa ditelusuri dari kegagalan menjaga salah satunya. Sayangnya, kesalehan modern agaknya sering alergi pada kesederhanaan ajaran agama ini. Kita lebih suka tuntutan besar daripada disiplin batin ketiganya.
Sabar misalnya. Sebenarnya ia bukan laku pasrah yang sepenuhnya pasif seperti yang sering dituduhkan. Dalam tradisi sufi, sabar adalah kecerdasan jiwa dan diri seseorang menghadapi kenyataan. Al-Ghazali menyebut sabar sebagai kemampuan menahan diri dari reaksi impulsif yang merusak akal. Namun hari ini, ketidaksabaran hingga obsesi dan “obsesif” justru sering dirayakan. Di sisi lain, syukur seringkali lebih dipahami dan dipersempit menjadi ucapan, bukan sikap batin. Kita sering diseru untuk bersyukur, tapi tidak diajari bagaimana memahami kenyataan secara jujur. Dalam pandangan para salik, syukur bukan soal menerima nasib tanpa kritik, melainkan menyadari bahwa hidup, dengan segala lukanya—tetap layak dijalani tanpa kebencian.
Lebih berbahaya lagi memang kerusakan pada niat. Agaknya semua kita tahu, bahkan menempatkan niat sebagai poros segala amal. Bukan besar-kecilnya perbuatan yang dinilai, melainkan arah batin yang menggerakkannya. Sederhananya, amal lahiriah yang besar bisa hancur seketika oleh niat yang rusak. Sementara amal yang sungguh kecil sekecil biji zarah bisa tumbuh menjadi luapan cahaya jika niatnya jernih. Lagi-lagi dunia memang terobsesi pada tampilan luar. Niat disingkirkan karena ia sulit bahkan tidak bisa diukur, tidak bisa dipamerkan, dan tidak bisa dijadikan alat penghakiman.
Di saat niat tak lagi berarti, spiritualitas bahkan agama berubah menjadi pola dan laku administrasi. Zakat dinilai dari angka-angka, sedekah dari nominalnya, ibadah dari apakah sujud dan dzikirnya lama. Kita lupa bahwa agama, tidak pernah meminta manusia menjadi kaya agar bisa baik. Ia hanya meminta manusia jujur pada kemampuannya. Istitha’ah sebagai “kemampuan” dalam fikih bilang bahwa kewajiban lahir dari kesanggupan. Betapapun memang kesalehan hari ini sungguh kejam: semua dituntut sama, seolah hidup tidak pernah timpang.
Sementara di sisi lain, kita terjebak pada banalitas kategori: fakir, miskin, kaya. Islam, kafir, fasik, munafik. Semua tampak rasional, namun laku jiwa, spiritualitas tidak hidup dalam kategori positivistik dan definitif. Ia hidup dalam perjumpaan-perjumpaan konkret—sekaligus abstrak. Sebab, luka manusia tidak pernah seragam, maka belas kasih pun tidak bisa distandarkan. Di saat agama ikut mengeraskan klasifikasi, ia berhenti menjadi jalan pulang, dan berubah menjadi tembok yang menohok.
Walhasil, menata hati berarti berani melihat kekacauan batin tanpa tendeng aling-aling kulit luar dari moral. Menata akal cukup dilakukan membaca, berpikir, dan curiga pada kesalehan yang terlalu yakin. Di saat yang sama menata ruh berarti beribadah semampu kita, bukan semampu tuntutan-tuntutan di luar diri kita. Ibadah adalah latihan menundukkan ego, bukan menaikkan derajat dan status seseorang. Tapi ego justru paling subur di ruang dan ritus-ritus ibadah. Ia menyamar sebagai kesalehan, lalu menuntut pengakuan.
Kewarasan spiritual bukan proyek besar, ia disiplin kecil yang konsisten. Sabar agar tidak reaktif, syukur agar tidak serakah, niat agar tidak menjadi manusia yang palsu. Tiga hal ini cukup—dan justru itu yang membuatnya berat. Jika agama membuat kita semakin keras, semakin mudah marah, dan semakin sibuk mengatur hidup orang lain, mungkin kita bukan sedang mendekat kepada Tuhan. Mungkin kita hanya sedang berusaha menenangkan ego diri dengan berlindung pada jubah kebesaran nama-Nya. Dan di situlah kegilaan dimulai. Tuhan dijadikan alat, sementara laku hidup yang baik mati perlahan di dalam diri.




