Menjajah Diri Sendiri; Post-Kolonial dan Sastra

Salah satu kajian penting dan masih terus berlanjut dalam perkembangan keilmuan; Post-Kolonial. Kajian ini, sering kali melibatkan karya sastra sebagai blueprint untuk pengaplikasiannya. Selain itu, kajian budaya Post-Kolonial berhubungan erat dengan gaya hidup seseorang; pakaian, pikiran, dsb. Melalui sastra, kajian ini dapat ditelaah lebih jauh dan dalam. Sastra tak hanya menggambarkan peristiwa atau mengodekan bahasa. Lebih dari itu, sastra mencerminkan tradisi, jiwa, dan pola pikir—baik skala diri atau skala komunal.

Sastra yang berpegang teguh pada penjiwaan dan penghayatan lingkungan sekitar, mengorek jauh arti dari kajian Post-Kolonial. Melalui sifat elastis dan reflektif, sastra berubah menjadi instrumen penting dalam kajian ini. Tidak hanya sekedar “bahasa” melainkan cermin, sastra berevolusi menjadi blueprint untuk praktik kajian Pasca Modernisme. Kajian yang berkutat dalam unsur wacana dan kekuasaan, menjadi dasar periodik ini berlangsung—Pasca Modernisme  oleh Christoper Butler.

Post-Kolonial tentu saja bagian dari pada kajian Post-Modernisme. Di suatu periodik yang penuh keambiguan, Post-Kolonial hadir, sebagai pembedah dialog bersifat representatif dari latar belakang yang berbeda. Pengaruh dari latar belakang yang berbeda meningkatkan intensitas interaksi antar budaya, menjadi bukti bagaimana kajian antar budaya ini terkiprahkan dalam sebuah medium, terutama bahasa sebagai relasi dari wacana, kekuasaan, dan sosial budaya—Post-colonial Theory of Homi K. Bhabha: Translator’s and Translatologist’s Reflection oleh A. Milostivaya dan E. Nazarenko.

Menyoal Post-Kolonial dari Dua Mata

Kajian yang berawal dari pembagian dua dunia, dua kulit, dua peradaban, antara barat dan lainnya, antara kulit putih dan lainnya, dan antara modern dan primitif. Dimulai saat era kolonial, membentuk sebuah mentalitas sebagai pedoman kehidupan yang beradab. Mega proyek yang masih berlangsung secara tak kasat mata hingga sekarang. Dampak yang masif, memunculkan kategorisasi komunal atau individu, pembentuk cara menyoroti seseorang yang angkuh, pembuat klasifikasi superior dan inferior—terutama dalam teknologi suatu peradaban. Keunggulan suatu peradaban, membentuk sikap penindasan dibalik kata “menuju lebih beradab” membentuk The Others untuk ditundukkan. Semua sikap yang dinilai seperti itu dirancang oleh Edward Said sebagai Orientalisme— dari Signifikansi pemikiran Homi Bhabha: Sebuah Pengantar Teori Poskolonial oleh Leo Epafras.

Melalui seorang Edward Said. Edward Said seorang pengajar di Colombia University yang meninggal pada tahun 2003, mengatakan bahwa kajian Post-Kolonial berbasis oleh imaji palsu tentang “East” terfabrikasi oleh penjajahan Barat. Selain dari penjajahan kenangan kolektif ini diabadikan melalui puisi, novel, politik, filosof, ekonomi, dan imperial sistem. Lebih lanjut, ia berkata bahwa kolonialisasi merupakan gaya yang berbasiskan ontologi dan epistem sebagai pembeda antara Orient dan Occident. Said mempercayai bahwa kelakuan barat terhadap timur yang berlindung melalui bahasa keadilan, memajukan adab, dan memanusiakan adalah palsu. Menurutnya, kolonialisasi selalu memakai kata mencerahkan untuk menjustifikasi perbuatan menjajah dan eksploitasi mereka. Melalui perubahan instrumen bahasa dan budaya, Said menekankan bahwa eurosentris merusak ethnosentris mereduksi keunikan lokalitas suatu daerah, dan menyebabkan sebuah distorsi. Selain itu, pembentukan kolonial terhadap imaji selalu berkaitan dengan SARA melalui kanal media, dan sastra. Ia berpendapat bahwa kolonial megeneralisir setiap SARA dan simplifikasi sederhana terhadap suatu komunal, membuat praanggapan tentang ketakutan atas kemunduran, dan kehancuran sebuah sistem yang telah dibentuk oleh barat, semua itu disumbui oleh “bagaimana timur merusak peradaban dan menghancurkan”— EDWARD SAID: THE POSTCOLONIAL THEORY AND THE LITERATURE OF DECOLONIZATION oleh Luthfi Hamadi.

Melanjut dari pada Edward Said. Seorang kritikus sastra bernama Homi K. Bhabha meneruskan wacana Post-Kolonial lebih dalam juga identik. Ia memandang Post-Kolonial bukan hanya masalah oposisi biner saja. Lebih dari itu, ia berkomentar secara tajam bahwa Post-Kolonial bukan hanya tentang Si Barat dan Si Timur atau yang lainnya. Melainkan, penciptaan the Third Space atau Liminal boleh juga disebut ruang hibrida. Persoalan tidak hanya berkutat dalam terjajah dan penjajah, tetapi berkutat tentang pembuatan relasi antara si terjajah dan penjajah. Ia mengatakan bahwa ruang ketiga si terjajah mulai  menemukan strategi untuk melawan terhadap dominasi. Bukan secara radikal, tetapi dengan cara Jouissance atau perselingkuhan demi kenikmatan sesaat melalui; penghasilan identitas baru dan biasanya bersifat eurosentris dan mereproduksi bentuk lainnya.

Selanjutnya, melalui interaksional antar budaya sebagai jalan awal untuk ruang ketiga. Penciptaan ruang ketiga menimbulkan dopamin baru bagi si terjajah, ia membentuk sebuah ambivilensi atau sikap ketidaktahuan yang mengeneral. Kekalang-kabutan pikiran, membentuk sebuah pertarungan simbolik baru, dengan menyerupai bahkan mengawinkan simbol. Sehingga, ketika simbol baru tercipta oleh si terjajah, si terjajah akan mengklaim bahwa budaya yang ia cipta adalah hasil dari nenek moyang. Selain penciptaan simbol, ruang ketiga menghadirkan pola-pola tertentu. Pola-pola yang dihadirkan membentuk zona ketidakjelasan teritori antara yang disebut etnosentris, atau eurosentris. Dalam pandangan New Gate Post-Kolonial, sifat ketidakjelasan teritori disebut dengan ketertundukan. Ketertundukan terjadi karena hilangnya; semangat perjuangan, pasrah terhadap situasi, hancur mengakibatkan bunuh diri anomie. Sebab frustasi, maka si terjajah mulai membiasakan dengan budaya-budaya baru yang datang dari luarnya. Budaya baru inilah yang menyebabkan ketertundukan, dan ruang ketiga.

Menyoal kata kunci kedua dari teori Bhabha tentang Mimikri. Mimikri yang diadopsi dari Fanon dan Lacan, membuat Bhabha menaruh minat terhadapnya. Baginya bukan soal meniru, melainkan perlawanan simbolik. Ia menambahkan lebih lanjut, mimikri merupakan suatu cara untuk hidup dan mendapat ruang. Menurutnya, tujuan mimikri berfokus pada penghancuran wacana dominan, ia membahasakan sebagai wahana bertahan hidup sekaligus berupaya melawan. Dengan konsep ini, ia menegaskan bahwa universalisme dan kestabilan identitas merupakan suatu wacana yang diproduksi oleh si penjajah sebagai penghapusan atau rekayasa sejarah, terutama halnya bahasa. Dominasi mutlak atas budaya mengakibatkan penyeragaman dan ketertundukan nyata, melalui wacana Bhabha yang banyak bincangkan dapat dilihat lebih lanjut dalam tulisannya yaitu; The Location of Culture oleh Homi K. Bhabha juga  Homi Bhabha’s Concept of Hybridity oleh Nasrullah Mambrol.

Sastra sebagai artian Post-Kolonial

Sastra sendiri bagi saya merupakan ruang keempat, lebih dari ruang ketiga. Ruang ketiga yang merupakan perang secara real yang dapat ditelaah melalui penggunaan bahasa ataupun bentuk materil. Berbeda halnya dengan sastra, dengan unsur metaphor sebagai pelengkap dari suatu karyanya, sastra menciptakan identitas keunikan sendiri, ketersembunyian relasi antar budaya sering menjadi tantangan tersendiri bagi para kritikus ataupun sastrawan. Jikalau ruang ketiga merupakan sesuatu yang visible, maka ruang keempat merupakan sesuatu yang invisible. Ruang keempat diidentikkan oleh suatu yang tak kasat mata, seperti interpretasi suatu bahasa, bahkan gaya penyampaian seseorang dapat memunculkan berjuta-juta argumen yang dapat ditemui dalam suatu karya.

Pada simpulan akhir, seperti para dekonstruksionis sebagai ciri khas post-modernisme Bhabha dan Said membawa wacana tingkat lanjut tentang arti sebuah penjajahan. Bukan hanya sekedar urusan ekspansi wilayah, ekonomi, dsb. Melainkan, suatu yang lebih dalam dan tak terlihat, yaitu penghapusan memori kolektif etnosentris bersifat multikultural dalam suatu bangsa. Lebih lanjut, penjajahan bukan hanya dominasi akan kekerasan. Tetapi dominasi tentang normalisasi ambiguitas, dan holistikal. Kajian Post-Kolonial tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi dan dampak yang terlihat. Lebih dari itu, Post-Kolonial menelaah dampak tak terlihat dari penjajahan seperti; eksklusi rasial, panghapusan memori kolektif akan budaya sendiri, dan generalisir budaya eurosentris.

Post-Kolonial belum berakhir, sampai detik ini, sang Imperialis masih tegak berdiri, bertopeng menjadi polisi dunia, bermain peran sebagai pahlawan.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.