Pernah ada masa di mana saya ingin menjadi seorang pembaca buku, dan itu dilakukan di masa-masa kuliah dulu. Berbagai tema buku coba dibaca dan dikoleksi, dari sejarah, filsafat, tasawuf, termasuk kitab-kitab sastra dan motivasi, meskipun teks-teks itu hanya beberapa saja yang mudah nyangkut di kepala ini. Dalam urusan membaca buku, saya masih normal seperti lian, tidak gila dan berlebihan seperti seorang teman yang jika sudah membaca buku, ia bisa lupa tidur, lupa makan, dan akhirnya terkapar sakit. Saya ini, jika sudah masuk ke halaman satu sampai lima, tapi ngantuk, ya tidur. Jika baru menelaah beberapa halaman tapi sudah pusing karena tak mengerti, ya ditutup. Kalau sedang malas baca dan ingin leha-leha saja, ya sudah. Membaca buku terlalu berlebihan itu seperti makan mie instan: enak tapi tak bergizi.
Dalam urusan membaca buku, saya tidak ingin seperti Babington Macaulay yang suka membaca sambil berjalan kaki, dan mampu berkelak-kelok agar tidak menabrak atau tertabrak orang lain di keramaian jalan London. Saya tak mesti mengikuti jejak Thomas Hearne, yang rela tersesat karena ingin membaca buku sambil berjalan-jalan di sore hari. Saya merasa tak wajib seperti Napoleon Bonaparte, yang membuat lemari buku di keretanya, agar di sela-sela berperang tetap mampu membaca. Saya juga tidak mengkhayalkan mirip Lawrence, seorang petualang Inggris yang legendaris, yang tak lelah membaca buku di punggung unta sepanjang perjalanan keliling Arabia. Saya tidak mau meneladani Pliny, salah seorang pelopor pembuat ensiklopedia, yang sering berkeliling Kota Roma dalam kereta tertutup agar kegiatan membacanya tak terganggu.
Dalam hal membaca buku, saya juga tak tertarik meniru Ringgelbergins, yang selalu tidur melintang pada dua bilah papan, sehingga ketidaknyamanan ini membuatnya tidak bisa tidur lama. Dan saat terbangun, dia melanjutkan membaca. Saya pun tak bercita-cita mencontoh Sun Ching, sebab karena tak ingin berhenti membaca, ia mengikat rambutnya pada tihang di atas kepalanya untuk menjaga dirinya supaya tetap tegak. Oh ya, bahkan saya tak sudi jika harus mengikuti langkah Liu Hsun, yang ketika membaca selalu memasang obor kecil jerami di atas meja bacanya, sehingga ketika ia terangguk karena mengantuk, wajahnya pasti akan terkena api. Ini dilakukannya agar tak lepas dari membaca. Jujur, saya tak seedan dan segila mereka, tapi kesenangan membaca terus saya perjuangkan.
Ketika semakin dalam berurusan dengan buku, dari seorang pembaca hingga jadi penjual, saya terkejut sebab makhluk itu rupanya tak sesederhana seperti yang saya duga. Ia punya jejak panjang dalam denyut sejarah peradaban umat manusia. Bukan hanya tentang rohaninya yang menjadi altar ilmu pengetahuan, tapi juga tentang jasmani buku itu sendiri. Banyak pendapat mengenai bahan dasar yang pertama digunakan untuk buku, tapi saya akan menengok temuan Franz Magnis Suseno. Katanya, “Jika melihat bangsa-bangsa Sumeria, Babilonia, Asur, dan bangsa lainnya di Timur Tengah, buku itu masih berwujud papan yang dibuat dari tanah liat dengan huruf berbentuk baji. Karena terbuat dari bahan-bahan semacam ini, buku-buku pertama itu berat sekali.”
Di kemudian hari, bangsa yang pertama kali berpikir untuk menyimpan pengetahuan di selembar kertas adalah Cina. Ia melakukan “pemanusiaan” terhadap buku. Artinya, bahan baku sebuah buku diciptakan di atas kertas yang di atasnya mudah dicetak, mudah diperbanyak, kenyal, mudah ditangani, dan bertahan lama tanpa jadi keropos atau retak. Terjadi semacam evolusi dalam buku. Sebelum Cina menemukan kertas sebagai bahan dasar, bangsa-bangsa lain menggunakan daun lontar yang diikat, dan itu dilakukan bangsa India hingga Indonesia. Atau Mesir yang menggunakan papirus yang terbuat dari serat perdu yang selanjutnya digulung. Di Asia kecil, tepatnya di kota Pergamon, atau sekarang disebut Turki, bahan baku buku terbuat dari kulit kambing, domba atau sapi muda, yang semua itu digunakan Eropa sampai abad ke-14. Sebelum menemukan kertas, Cina sendiri masih menggunakan papan tipis dari bambu atau kayu, kemudian juga sutra sebagai bahan dasar buku.
Ts’ai Lun, dialah orang pertama yang menemukan kertas tahun 105 M. Nama Ts’ai Lun terdapat di dalam sejarah resmi Dinasti Han, dan namanya begitu kokoh di seluruh Cina sebagai penemu kertas. Penggunaan kertas meluas di seluruh Cina pada abad ke-2, dan dalam beberapa abad saja Cina sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia. Lama sekali Cina merahasiakan cara pembuatan kertas ini. Di tahun 751, beberapa tenaga ahli pembuat kertas tertawan oleh orang-orang Arab, atau mungkin orang Muslim, sehingga dalam tempo singkat kertas sudah diproduksi di Baghdad dan Sarmarkand. Teknik pembikinan kertas ini menyebar ke seluruh dunia Arab, dan baru di abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini.
Tidak seperti hari ini ketika harga buku bisa sama dengan semangkok mie ayam, zaman dulu buku adalah barang mahal. Bagaimana tidak mahal? Ketika itu buku dibuat dengan cara ditulis tangan, dengan susah payah, lama, dan terbatas. Buku menjadi semacam “gengsi intelektual‟ karena tidak semua orang bisa mendapatkan, dan semua pesan bisa dibukukan. Biasanya yang dibukukan adalah maklumat raja dan undang-undang, atau pun cerita yang meninggikan kemuliaan raja. Jadi, kepemilikan buku sebagai gengsi intelektual, sebab hanya yang terpelajar dan kaya raya saja yang bisa memilikinya.
Kelak, kertas penemuan Ts’ai Lun pada permulaan abad ke-2, akan menikah secara menakjubkan dengan mesin cetak yang ditemukan Johannes von Gutenberg di abad ke-15. Temuan Gutenberg ini membuat produksi buku menjadi murah. Apalagi, dengan mudah buku bisa diperbanyak dan diberikan kepada masyarakat. Buku disalin dan dicetak menjadi tidak sulit. Jika kita meminjam bahasa Franz Magnis Suseno lagi, fenomena mesin cetak ini disebut “demokratisasi buku‟: tidak hanya oleh orang-orang tertentu buku itu bisa dinikmati, tapi oleh semua golongan.
Sebelum kertas dan mesin cetak bertemu, sebetulnya ada perjalanan panjang bagaimana pengetahuan ditulis dan disebarkan, baik itu di Timur maupun di Barat. Di Timur, misalnya, di masa peradaban Islam sedang berdiri tegak, ada sebuah pekerjaan yang disebut Warraq. Tugasnya hampir menyerupai mesin fotokopi, yaitu mampu menyalin buku dengan cepat dan akurat. Selain kemampuan menyalin buku di toko buku miliknya, seorang Warraq pasti berpengetahuan luas, mampu memberikan catatan kritis atas buku yang disalinnya, dan memiliki akses terhadap buku-buku dalam banyak disiplin ilmu. Tidak heran, jika pada masa itu, sebelum mesin cetak ditemukan, seorang Warraq punya peran penting dalam memajukan pengetahuan dan peradaban Islam.
Ada beberapa nama Warraq yang terkenal waktu itu, salah satunya adalah Al-Husain al-Hubaisy yang hidup pada abad ke-10. Dia adalah seorang Warraq yang mahsyur. Dalam beberapa jam, dia mampu menggandakan buku yang tebalnya ratusan halaman. Al-Husain pun seringkali membubuhi catatan kritisnya pada buku yang sedang ia salin dan gandakan. Karena memiliki akses terhadap buku-buku dari semua disiplin ilmu, tidak jarang jika ia menjadi tempat konsultasi buku bagi seseorang yang ingin memasuki wilayah ilmu tertentu. At-Thabari, misalnya, salah seorang intelektual besar, dia pernah meminta Al-Husain untuk mencarikan buku yang membahas Qiyas (analogi), salah satu tema yang menjadi perdebatan seru dalam doktrin hukum Islam waktu itu. Beberapa hari kemudian, al-Husain menyerahkan 30 buku yang diperlukan at-Thabari dalam mengkaji Qiyas.
Selain para Warraq itu menyalin buku, mereka pun bahkan mampu menerbitkan buku baru. Caranya unik sekali. Pengarang mendiktekan karyanya, dan seorang Warraq menuliskannya. Misalnya, pada abad ke-10, ada seorang Warraq yang bertemu an-Nasyi’i, seorang penyair ternama yang meminta agar kasidahnya ditulis dan diterbitkan seorang Warraq. Banyak contoh lain, misalnya, al-Farra mendiktekan Tafsir Alqurannya pada seorang warraq. Al-Bawardi, mendiktekan langsung masalah Linguistik dari ingatannya, yang setelah ditulis seorang Warraq menjadi 30.000 halaman. Kemudian Abu Bakar Ibn al-Anbari, pernah mendiktekan Hadis Rasulullah yang ada di- ingatannya, yang setelah ditulis seorang Warraq menjadi ribuan halaman.
Masa-masa itu tradisi menghafal memang sangat kuat. Pendiktean ini bisa berlangsung berbulan-bulan. Jika sudah selesai, si pengarang akan langsung membubuhkan pengesahannya, menandatanganinya. Seorang Warraq boleh menyalin, menggandakan, dan menjual buku tersebut. Sang pengarang, sesuai perjanjian dengan sang Warraq, akan mendapatkan keuntungan dari penjualan, sejenis royalti. Jika kita mengingat-ingat masa itu, masa di mana penyebaran pengetahuan lewat buku sama sulitnya seperti mencari ketiak ular, maka kepada Ts’ai Lun dan Gutenberg kita musti melimpahkan banyak haturnuhun dan terima kasih. Jadi sangat wajar, jika pengaruh dua tokoh besar ini direkam jelas dalam buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” karya Michael H. Hart, yang diterjemahkan Bung Mahbub Djunaedi.
Dengan menulis catatan ini, apakah saya sedang kampanye agar kita mau mencari pengetahuan lewat buku yang hari ini sangat mudah ditemui? Ya tidak juga. Kan sudah ada AI.






