Penggugatan bahasa, selalu menjadi pembuka diskursus sastra. Kanal bahasa menjadi tempat khas, sastra berlabuh. Melalui konteks Post-apokaliptik dan Defamiliarisasi, kita akan dibawa pada dimensi lanjut wacana kesusastraan. Bahasa teratur yang cenderung dibiasakan, membentuk sebuah hierarkis tersembunyi. Membuat kategorisasi, dan binerisasi suatu bahasa. Di mulai dari bahasa baku dan tidak baku, teratur dan tak teratur, rapih dan tak rapih, membuat tatanan mana yang paling benar di antaranya. Politik bahasa dilambangkan sebagai symbolic violence atau banality of evil di awali dengan puritanisme buta terhadap penghormatan, di akhiri dengan penghakiman, itulah bahasa politis.
Lalu, bahasa sebagai post-apokaliptik. Bahasa yang sering dipahami sebagai status netral, diubah oleh para cendekiawan kontemporer sebagai bencana dahsyat. Melalui bahasa, pada konteks hari ini, seseorang dapat dikenai hukuman ataupun denda. Post-apokaliptik, saya artikan menjadi penyimpangan bahasa dari kestagnasian saat ini. Bahasa dalam artian ini, merupakan wujud hari akhir—menghancurkan tatanan yang ada, singkatnya PUEBI yang baik dan benar. Bukan hanya wacana yang tersimpan dalam teks, melainkan bencana yang datang melampaui teks.
Melakukan Wacana Bahasa Apokaliptik dengan Keanehan
Keadaan hari akhir, selalu dilambangkan dengan kengerian. Melalui ini, tercipta suatu sastra apokaliptik. Menggambarkan, mengimajinasikan, kemudian direalisasikan pada suatu tulisan, menjadikannya sebagai kategori sastra. Wacana yang dibangun dalamnya selalu mengandung hal-hal mistik, entah dari virus zombie, kiamat 2012, dan yang lainnya. Bahasa mistik ini, memunculkan sebuah representatif dan imajinatif, entah pesimisme yang diartikan bahwa pada hari itu tak ada satu orang pun yang akan selamat, entah melalui optimisme yang diartikan dengan adanya hari itu, manusia memerlukan kebijakan dan kebaikan di dunia. Mungkin hal ini bisa pak Kuntowijoyo bilang Sastra Profetik—lebih lanjut baca buku beliau hehe.
Bagi saya, keadaan bahasa mistis sangat dibutuhkan pada hari ini. Ketika imajinatif dipaksa menjadi rasional, apa arti sastra hari ini. Ketika estetika bahasa diatur dalam kamus, apa arti keindahan hari ini. Ketika tulisan dibentuk suatu sistem, apa artian “makna” hari ini. Post-apokaliptik, mungkin sebagian orang akan memandangnya berlebihan. Kan tetapi, bagi saya kosakata itu menjadi citra sendiri. Ketika Apokaliptik dicanangkan sebagai kehancuran massal, maka Bahasa Apokaliptik didaku sebagai penghancur massal. Tentu saya tidak akan berhenti dalam pergulatan utopis. Melalui diskursif keanehan dan penghancuran sistem hierarkis pembahasaan yang terkenal rumit—seperti rumusan yang perlu ditalar—menjadikan sebuah bahasa yang berfungsi sebagai alat komunikasi tersendat. Bahasa sebagai alat komunikasi yang dipakai sehari-hari saja membutuhkan ritus-ritus kompleks seperti Tower Burj Khalifa. Sehingga, muncul istilah pakai bahasa “bayi”. Saya mengimajinasikan itu, sebagai sebuah kegagalan sistem bahasa hari ini, bagaimana alat komunikasi yang seharusnya bersifat inklusif—walaupun sebagian mazhab bilang bersifat komunal—tak bisa dipahami sebagai sesuatu yang inklusif.
Melalui kegagalan tersebut, saya terinspirasi dari Viktor Shklovsky seorang kritikus sastra berasal dari Rusia. Melaluinya, saya membayangkan teori yang dicetuskannya “Defamiliarisasi” atau menganehkan yang normal, secara singkatnya. Melalui pengalaman sehari-hari yang dianggap normal, teknik tulis ini mewujudkan sesuatu yang terkesan aneh pada pengalaman yang dianggap normal. Bila pada suatu karya sastra terdapat protagonis yang seharusnya bersifat heroik dan menjadi karakter utama dalam cerita, lain hal dengan penulisan gaya ini. Mungkin saja, protagonis tak digambarkan sebagai pahlawan, melainkan seseorang yang membantu seorang pahlawan sesungguhnya. Harapan yang ia sampaikan melalui teknik ini, terciptanya suatu sensasi autentik dari ritus normal, hal yang terlihat biasa dan sepele, menjadi hal yang patut disyukuri dan dikenang.
Sama halnya dengan Post-apokaliptik, penghancur massal bukan berarti menghapuskan seluruh bahasa di muka bumi. Melainkan, menjadikan suatu bahasa sebagai penyampai pesan yang dapat diterima secara umum dengan tafsiran masing-masing. Gagasan ini, mempunyai arti sebagai suatu seruan, bahwa bahasa merupakan cara manusia mengetahui dan diketahui. Dalam artian lebih lanjut, bukan hanya tentang estetika secara ekslusif, melainkan estetika secara inklusif. Sentralisasi sistem bahasa dalam keadaan yang baik dan benar, menjadikan bahasa tak ada nilai autentik. Maka, Post-apokaliptik melambangkan bahwa bahasa adalah kebebasan dengan artian masing-masing individu, tak ada hierarkis sistem yang menentukan, tak ada individu yang menjadi hakim, tak ada individu yang menjadi tuan. Karena, bahasa yang dianggap sepele dan normal, memiliki keautentikannya masing-masing.
Sastra dan Wacana Utopis ini
Sastra hari ini, terkenal sangat membosankan dan rumit bagi saya. Tak ada hal baru, hanya diksi-diksi rumit yang semakin bertambah banyak tanpa memberi paham pada masyarakat luas. Dalam benak ini, terbayang bagaimana seseorang yang bukan dari lingkupnya mengetahui artian ini. Bagi saya, keautentikan itu sendiri muncul ketika dalam bahasa yang terlihat normal, mempunyai berjuta persepsi pembaca, inspirasi ini saya ambil sebagai sensasi pembaca dalam artian Viktor. Mungkin tulisan ini merasa menjengkelkan bukan? Tapi lebih menjengkelkan, ketika sastra dipakai menjadi sebuah medium kelompok tersendiri. Seperti Pak Seno bicarakan “Ketika Jurnalisme dapat dikooptasi maka Sastra yang harus berbicara” lantas ketika sastra berbicara, akan tetapi ia tak dapat dipahami sebagai sesuatu yang inklusif, maka siapa lagi yang harus berbicara.
Tulisan ini mungkin terinspirasi dari kejengkelan saya terhadap kesusastraan kontemporer. Alih-alih memberi suatu petanda, sastra hari ini membentuk sistem hierarki baru, terutama dalam bahasa-bahasa yang terdapat di dalamnya. Bukan artian saya menulis hal ini karena malas belajar suatu bahasa yang sedang naik daun hari ini, melainkan kekakuan bahasa hari ini yang menciptakan sebuah hierarkis. Tulisan ini mungkin juga hanya sebagai suatu gengsi saya sendiri, ketika saya sebagai seorang anak bahasa tak mampu menafsirkan bahasa itu sendiri, lantas apakah saya layak dipanggil seorang anak bahasa.
Kembali pada sastra—mungkin kekesalan saya pribadi terlalu panjang untuk ditulis di sini. Sastra yang selalu melibatkan bahasa, menjadi hal terpenting untuk merealisasikan wacana Viktor tentang pembentukan keautentikan hal-hal yang dianggap normal. Estetika yang melampaui dari pada artian estetika kamus itu sendiri. Post-apokaliptik bukan tentang penghancuran hierarkis dan sistem bahasa semata. Melainkan, wacana ini dibangun sebagai bentuk penginsyafan estetika itu sendiri. Estetika yang cenderung hari ini tersentralisasi seperti dalam kamus, membuat arti estetika itu hancur, menurut saya. Apa artian estetika ketika estetika itu dapat diartikan dan diwujudkan? Bukankah sesuatu yang estetik membutuhkan autentik. Ketika Estetik disamaratakan pada padanan bahasa kamus? Di mana autentik dari estetik itu.
Tulisan menjengkelkan ini, sebagai bentuk autokritik saya, sebagai pemalas yang susah memahami bahasa lingkup usia saya sendiri sebenarnya. Tanda skizo saya, dari simbol-simbol aneh yang berseliweran di ruang digital, membuat saya merasa muak pada sastra hari ini. Bagi saya pada akhirnya bahasa post-apokaliptik dan defamiliarisasi merupakan sebuah pembentukan murni, katarsis, atau wujudiyah haqiqiyah sastra itu sendiri. Ketika bahasa dipahami dalam artian sentral yang terpaku dalam kamus. Ketika itu pula sastra, telah kehilangan jati dirinya.





