Sunan Ambu (Bagian Pertama)

“Anjeun sing panjang punjung, berkah salamet. Sing jadi bapa nu bisa ngadidik jeung ngatik turunan. Sing jadi salaki nu luhung ku panemu. Sarèngkak saparipolah sing jadi pieunteungeun sasama. Rejeki puhit siga hirup rèk lana, ibadah ulah leupas siga urang rèk balik isuk. Hidep sing nanjung!”


Inilah doa terakhir Ambu untuk anak lelakinya, Mughni, sebelum ia pulang kepada Allah kekasihnya tiga tahun lalu. Bagi Mughni, doa ini bukan sekadar azimat atau harapan, tapi tugas hidup yang ibunya titipkan. Pertama, ia musti menjadi seorang ayah yang bisa mendidik dan menjaga anak keturunan. Kedua, menjadi seorang suami yang penuh ilmu dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Ketiga, ia musti berprilaku baik yang bisa menjadi cermin untuk sesamanya. Keempat, saat mencari rezeki duniawi, ia harus merasa bahwa hidupnya akan abadi. Kelima, saat beribadah, ia harus membayangkan jika esok hari adalah kepulangannya kepada Tuhan. Pada akhir kalimat, Ambu menutupnya dengan restu:, “Semoga hidupmu mulia!”

Hidup tanpa kehadiran seorang ibu, membuat Mughni tersiksa dan nyaris mati. Pergantian detik, menit, dan jam, menjadi jahanam yang datang berulang-ulang. Rasa pedih dan hancur telah membakar hatinya dalam waktu yang tak sebentar. Yang paling menghantui pikirannya adalah tanya yang tak kunjung reda: apakah sang ibu meridhainya, apakah sang ibu mengampuni setiap kesalahannya. Dan rasa sesal, telah menggerogoti ketenangannya sedikit demi sedikit: ia menyesal karena kepada Ambu, ibunya, belum banyak pengabdian yang bisa diberikan, juga baru sedikit kebahagiaan yang dilimpahkan. Atau jangan-jangan, kebahagiaan itu bahkan belum pernah diberikan. Duhai, penyesalan memang sungguh mematikan.

Hari ini, jasad Mughni dan Ambu tak lagi bertemu, bersentuhan, bersalaman, atau berbincang tentang hidup dan cinta. Akan tetapi, Mughni merasa sangat dekat dengan Ambu: sedekat kaki dan langkahnya; sedekat telinga dan pendengarannya; sedekat tangan dan geraknya; sedekat hidung dan penciumannya; sedekat mata dan penglihatannya; sedekat mulut dan suaranya; sedekat jantung dan degupnya; sedekat wujud dan hidupnya. Duhai, sungguh benar kata pepatah, hubungan darah ibu dan anak adalah tali gaib yang tak mungkin raib.

Satu atau dua minggu sekali, atau saat hatinya dikepung kangen dan gelisah, Mughni akan menziarahi Ambu untuk melambungkan doa atau sekadar berkeluh kesah. Ia tak ingin jadi durhaka dengan cara mengunjungi mendiang ibunya hanya ketika lebaran tiba. “Mau hidup atau mati, seorang ibu tetap saja tempat pulang,” batinnya suatu saat, “makamnya tak boleh diabaikan meski dimanapun doa akan sampai.”

Di hadapan tanah yang tabah tempat jasad Ambu merebah, air mata Mughni selalu mudah tumpah. Ayat-ayat dan kalimat-kalimat suci sulit keluar dari mulutnya, mereka kerap tercekat di kerongkongan karena terhalang duka yang tak juga sirna. Setiap berziarah, ada dua perasaan berbeda yang menyelimuti Mughni, di satu sisi ia bahagia karena tak melupakan ibunya, di waktu yang sama, ia merasakan pedih karena masih tak percaya bahwa wujud ibunya yang telah melahirkan dan membesarkannya, mengasuh dan mendidiknya, telah berubah menjadi nama di atas batu nisan.

Mughni sekarang menutup mata, membayangkan Ambu hadir di hadapannya: menjawab salamnya, mengamini doanya, dan mengusap air matanya. Namun, mulutnya tiba-tiba bergumam dengan suara terbata, “Mamah, bukan kematianmu yang melukaiku, tapi hidup tanpa kehadiranmu yang menghancurkanku. Aku telah terjebak pada apa yang W.S. Rendra katakan di puisinya,


‘bukan maut yang menggetarkan hatiku, tapi hidup yang tidak hidup’.


Bersambung…