Aral, Viral, dan Akal-akalan

Sore yang cerah itu, di tengah hilir mudik kendaraan jam pulang kerja. Seolah-olah tak ikut terganggu oleh hiruk-pikuk dunia maya.

Saat duduk berbincang santai bersama teman, ditemani camilan sederhana dan segarnya air deuweugan, di Kedai Alfatih Kelapa Muda Manisi, tak jauh sebelum Puskesmas Cibiru.

Waktu berjalan pelan, memberi ruang dan jeda bagi pikiran untuk singgah, terus berpikir dan menjaga kewarasan.

Seorang kawan tiba-tiba menyinggung perilaku konten kreator yang berulah di area pemakaman. Satu tindakan yang memantik polemik dan menuai kegelisahan banyak orang.

“Ah eta mah saking aral, hayang viral, jadi ngalakukeun kitu?”

Ku hanya mengangguk pelan, tersenyum tipis, sambil menyeruput cai kalapa. Ada jeda sejenak, seolah sama-sama tahu jawabannya, meski enggan mengucapkannya dengan lantang.

“Pokokna mah akal-akalan demi cuan, kabeh dilakukeun, nya?”

Tentunya, ucapan seorang kawan itu menggantung di udara sore, bercampur dengan semilir angin dan rasa manis kelapa.

Rupanya saat itulah pikiranku melayang pada buku yang pernah dibaca berjudul Akhlak Nge-Medsos: Panduan Jadi Netizen Shaleh karya Irfan Nur Hakim.

3 Akhlak Bermedsos

Irfan menegaskan selain kita mesti berakhlak mulia di dunia nyata. Kita perlu berakhlak baik di dunia maya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan sampah di sana, bahkan ikut memproduksinya.

Caranya dengan memegang kuat prinsip dan adab-adab di dunia maya agar menjadi nitizen yang shaleh dan shalehah.

Pertama, Keutamaan bagi kreator. Kreator yang baik itu kreator yang paling banyak memberikan manfaat. Bila saja kita memahami prinsip itu, maka niscaya medsos kita akan penuh mengalirkan pahala kebaikan-kebaikan.

Buatlah konten yang baik. Ketika konten yang kita buat memberikan inspirasi pada netizen lain. Maka bukan sekadar adsense dari google yang didapat, tapi kita bisa dengan mudah ‘mendownload’ pahala dari Allah.

Catat, konten yang hari ini kita unggah bukan hanya dilihat hari ini, namun bisa dilihat nanti saat kita tua, bahkan sampai mati.

Kedua, Akhlak untuk Viewer. Pilihlah tontonan yang sesuai dengan usia. Kalau kita sudah dewasa, cobalah untuk membimbing adik-adik kita yang masih perlu dampingan, untuk bisa mengonsumsi hal yang positif sesuai umur mereka. Jangan sampai mereka meniru hal yang tidak baik dari medsos yang ada.

Saksikan konten yang akan mendukung kita menjadi lebih baik. Jangan sia-siakan kuota untuk dipakai menyaksikan acara yang meracuni hati dan pikiran kita. Tontonlah yang akan meningkatkan kita untuk lebih kreatif dan dekat dengan Allah.

Kita bisa menyaksikan ceramah-ceramah dari ustadz-ustadz yang ceramahnya menyejukkan. Yang ketika selesai menonton pikiran kita cerah, hati lapang, dan juga dipenuhi cinta.

Tinggalkanlah konten yang tak bermanfaat, karena jika kita terus menontonnya, itu sama saja kita mendukungnya. Pilih dan pilihlah tontonan kita, karena mata, jari dan gadget kita akan dipertanggungjawabkan pula kelak.

Ketiga, Etika User. Jadilah pengguna yang bijak dengan memanfaatkan medsos sesuai kebutuhan. Jangan sampai kita menjadi pengguna yang terlalu banyak stalk mantan. Lalu patah hati setelah lihat dia bahagia dengan orang lain. Kita juga mesti bijak dalam merespon konten yang muncul. Ketika ada konten yang kurang sesuai, tegurlah dengan cara yang baik.

Bisa dengan menegur melalu pesan pribadi, bahasa yang halus. Karena dengan caci maki tak akan mendatangkan ketenangan dalam hati. Hindari pula perdebatan yang tidak akan menemukan hasil. Debat kusir.

Bila ada yang perlu diperdebatkan, cobalah dengan cara yang bijak. Bila perlu untuk bertemu, bertemulah. Siapa tahu orang yang kamu debat itu menjadikan kalian bersahabat.

Pada saat ibadah tiba, saat adzan, shalat, jumatan, belajar, matikanlah smartphonemu sejenak dan aktifkanlah dzikir-dzikir. Karena Allah-lah kita bisa hidup hari ini, karena Dialah kamu bisa punya smartphone, medsos dan aibmu ditutupi-Nya. (Irfan Nur Hakim, 2018: 3 & 81-103).

Merawat Akal Sehat

Dalam konteks era digital seorang muslim yang cerdas itu tandanya selalu bijak dalam menggunakan media sosoal. Bila kita kuat memegang adab dan akhlak bermedsos niscaya perilaku ganjil soal hasrat cuan mudah yang dapat membelokkan hati nurani, akal sehat tak akan terjadi.

Semuanya demi sorotan, angka, sensasi sesaat, yang menerabas batas etika, hingga berujung pada tindakan yang mencederai ruang paling sakral (kuburan).

Ingat, di balik layar, algoritma, dan angka-angka keterlibatan, tetap ada akhlak yang semestinya dijaga, dirawat. Pasalnya, tidak semua yang bisa diviralkan pantas untuk ditampilkan, dan tidak semua perhatian layak dikejar dengan mengorbankan nilai, nurani, akal dan kemanusiaan.

Jika niat mencari keuntungan instan bertemu dengan kecerobohan moral, maka lahirlah aral, sumpah serapah. Segala kesialan yang bukan jatuh dari langit, melainkan dipanggil oleh pilihan sendiri untuk mengubur kesombongan diri.

Ketika reaksi publik datang berlapis mulai dari marah, kecewa, sampai sedih. Kritik mengalir dari berbagai kalangan, bukan sekadar untuk menghukum, tetapi demi mengingatkan ihwal ada garis yang tak boleh dilewati, dilanggar. Sebaliknya harus dibarengi dengan kedewasaan, kewarasan.

Viral memang memikat sekaligus menjanjikan pengakuan cepat dan uang yang terasa dekat. Namun viral tanpa nilai bak api. Yang terang sekejap, lantas meninggalkan jelaga.

Bila etika dikesampingkan, justru yang tersisa hanya kehampaan, kekosongan dan sering kali melahirkan konsekuensi hukum, sosial, dan psikologis yang panjang.

Padahal dalam pusaran itu, kita sering lupa bahwa setiap tindakan digital punya gema di dunia nyata. Apa yang direkam kamera, dirasakan manusia.

Dari peristiwa ini kita harus merenung tentang etika bermedia sosial. Etika bukanlah rem yang mematikan kreativitas, melainkan kompas agar hidup tidak tersesat. Caranya dengan hormat pada martabat manusia baik yang masih hidup maupun wafat. Konten apa pun yang merendahkan, mengeksploitasi duka, menistakan ruang sakral jadi alarm merah dan tidak boleh dilakukan.

Memang dalam menjalankan kehidupan selalu punya dua pilihan. Mengejar sorotan dengan cepat padam atau menyalakan cahaya, yang menerangi lebih lama.

Walhasil, ketika viral dikejar tanpa kebijaksanaan, pasti berubah menjadi aral. Namun bila etika, moral, aturan dijadikan pegangan, media sosial bisa menjadi ruang berbagi yang bermakna dan bermuaranya ide, gagasan, kreativitas tumbuh tanpa mengorbankan akal, nurani dan kemanusiaan.