Mitologi Jante Arkidam sang Raja Kegelapan

Jante Arkidam, siapa yang tak kenal? Satu sajak yang menjadi judul besar dalam kumpulan sajak Ajip Rosidi. Jante Arkidam, masterpiece dari sastrawan besar yaitu Ajip Rosidi. Bahkan, sajak ini pun diadaptasi menjadi sebuah tongkrongan yang tak pernah sepi dari diskusi, yaitu kedai Jante. Sajak ini, menceritakan seorang jagoan dengan perangai menyeramkan juga ditakuti oleh siapapun, begitu pula fisiknya yang digambarkan dalam sajak tersebut.

Mengenai sajak tersebut, saya pernah menanyakan kepada beberapa sastrawan juga sejarawan yang mengetahui asal-muasal terciptanya sajak Jante Arkidam. Konon, asal muasal sajak tersebut berasal dari cerita Bagus Rangin. Seorang tokoh, bertempat di Majalengka yang diperkirakan lahir pada abad 18-an. Ia merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia pada Perang Kedondong. Namanya, diabadikan menjadi salah satu jalan di Bandung (Jalan Bagus Rangin). Melalui buku Hidup Tanpa Ijazah, secara singkat, latar belakang sajak Jante Arkidam diulas oleh Ajip Rosidi.

Perspektif lain, saya melihat sajak ini sebagai salah satu penyokong dalam perkembangan sajak kontemporer di Indonesia. Dengan khas, sajak Jante Arkidam memiliki gaya naratif unik, tanpa hiperbola berlebih, menciptakan sebuah citraan yang berbeda dengan lainnya. Dengan kacamata pengkajian mitologi Barthes, saya akan mencoba untuk mendedah lebih jauh mitologi yang masih tersembunyi dalam sajak Jante Arkidam.

Mitologi ala Roland Barthes

Mitologi Barthes tak sebayang seperti mitologi umumnya—biasa didapatkan dalam bentukan hewan, dewa-dewi, dsb. Melainkan, kajian filosofis dari sebuah petanda yang tak terujung (teks). Barthes berkenan memakai mitologi sebagai pendedah alami dari suatu karya sastra, menurutnya mitologi merupakan inti dari komunikasi menciptakan penanda yang diterima oleh masyarakat luas.

Pakuan bahasa saat ini tertuju pada pemaknaan tunggal, tercantum dalam wicara denotatif yang baku. Barthes melihat tindakan itu sebagai keterbatasan objek, ia berpendapat bahwa pemakuan atas bahasa secara literatif mengungkung pemaknaan sebuah teks. Mencengkram kuat atas keyakinan sebuah teks sebagai penanda yang tak pernah habis, Barthes menghasilkan beberapa catatan penting untuk dijadikan sebuah bentuk wacana yang masih melanggeng hingga saat ini.

Kematian pengarang, sebagai tanda dimulainya destinasi pencorakan makna pembaca. Barthes dengan sigap menyadari pengaruh tradisi diadik semakin menekan sastra pada titik terendah, karenanya Barthes menegaskan bahwa suatu karangan dapat diresepsi ketika latar belakang penulis telah lenyap dari nafsu pembaca. Ia mengkritik sastra kanon yang penuh unsur filosofis diri sebagai bentuk pembatasan pikiran, mengeja hal itu, dengan melayangkan sebuah pernyataan keaslian makna dan filosofis hadir di dalam teks yang terbuka—petanda tak terhingga.

Pemurnian teks menjadi unsur utama pemikiran Barthes dari kungkungan tradisionalis. Pemaknaan yang dipertaruhkan pada pembaca, kunci keberhasilan teks telah katarsis. Lebih jauh, ia mengusung mitologi sebagai pembacaan ketiga dari sintesis petanda dan penanda. Melalui mitologi, pembaca diajak untuk berkelana dalam pemikiran yang sesungguhnya—bukan dari latar belakang seseorang, melainkan latar belakang terbentuknya suatu teks. Hujaman itu terekam dalam Teks Kebahagiaan, terdefinisikan sebagai teks yang mengganggu sebuah situasi kehilangan; sebuah teks pembuat keonaran; pengganggu asumsi-asumsi historis, kultural, dan psikologis, selera-selera pembaca, beserta nilai-nilai memorial; mengangkat sebuah krisis hubungan pembaca dengan suatu bahasa.

Teks kebahagiaan sebagai pelawan arus utama, membentuk retoris sebagai jalan tengah untuk membuka cakrawala segala tafsir. Secara halus, penilaian suatu bahasa dengan pengandaian konstruk-konstruk budaya menjadi jalan keluar untuk menghilangkan kultisme pengarang. Pemaknaan khalayak umum, sehingga membentuk mitos merupakan estetika sastra itu sendiri. Dengan itu, Barthes mengingatkan kita untuk tak berpaku pada latar belakang penulis, melainkan teks secara khusus. Penekanan teks sebagai modal utama penilaian filosofis, bersinggung dengan relativitas makna, menciptakan tafsiran multidimensional. Pada titik akhir, makna tercipta oleh khalayak pembaca, bukan dari penafsiran latar belakang penulis.

Makna merupakan akhir dari sebuah perjalanan sebagai corak pembaca menjiwai suatu teks. Pemaklumatan makna, sebagai mitologi dan sebagai teks kebahagiaan cenderung terlihat ketika sang pembaca dapat menemukan telepati rasa dari penulis. Dengan itu saya melihat sebuah kesialan yang teramat, ketika pembaca tak mendapatkan telepati rasa dari sebuah teks, bagaimana ia bisa mencorakkan makna padanya? Mungkin, teoritika seperti Barthes mengusung tema mitologi, sebagai penyadaran akan si pembaca. Tekanan demi tekanan di masanya, membawa ia untuk melakukan sebuah peringatan, bahwa sebuah karya adalah objek yang wajib di warnai oleh subjek (Jelasnya: pembaca) dan bukan dari author. Ketersibukan pembaca yang berkutat dalam latar belakang penulis, menjadi titik awal keberangkatan wacana ini dapat ditarik.

Secara gamblang dan singkat, Barthes mengajak kita untuk menemukan makna kita sendiri—bukan dari perspektif penulis. Barthes menyadari keterbatasan sastra yang dikaitkan dengan latar belakang author, dapat membuat kultisme. Sehingga, penghujaman Barthes melalui mitologi, teks kebahagiaan, dan kematian pengarang, sebagai pengingat bagi para pembaca yang keliru dalam memaknai suatu karya. Ia mempertegas sastra sebagai bentuk kebebasan sejati, tanpa mengungkung kearifan pembaca dan keunikan masing-masing.

Jante Arkidam Mitologi

Sajak ajaib, unik, dan elegan. Melalui gaya penulis naratif, Jante Arkidam membuat kepala yang berdenyut tak karuan. Bukan dengan rasa sakit, melainkan decak kagum atas penulisan yang epik. Jante Arkidam judul buku dari kumpulan sajak yang diciptakan Ajip Rosidi, uniknya, Jante Arkidam merupakan salah satu judul dari kumpulan buku tersebut. Buku yang dicetak pada tahun 1967, mengisahkan seorang pendekar sakti mandraguna. Sajak khusus ini, dilatar belakangi oleh kisah seorang pahlawan kemerdekaan di tanah Sunda. Bagus Rangin namanya, seorang pejuang kemerdekaan yang lahir di abad 18-an. Terinspirasi melalui ceritanya, tercetuslah sajak sunda Jante Arkidam. Walau digambarkan sebagai raja kegelapan, melalui pemaknaan konstruk budaya saat itu, Ajip sepertinya berkacamata melalui sudut pandang belanda, sehingga Jante Arkidam disosokan sebagai raja kegelapan yang ditakuti setiap orang.

Melalui kata-kata yang terdapat dalam sajak, saya menyimpulkan bahwa Jante Arkidam merupakan seorang pejuang yang dianggap sebagai pemberontak yang tangguh dan gigih karena melawan segala penjajah yang datang ke tanah Sunda. Melalui perangai dan fisik yang diisyaratkan, kita dapat melihat bahwa sang tokoh utama merupakan ancaman terbesar bagi para penjajah saat itu. Dan di saat yang sama, Jante Arkidam menciptakan sebuah Mitosnya sendiri, sebagai pendekar mandraguna yang memperjuangkan kemerdekaan atas tanahnya dari segala bentuk penjajahan. Di samping itu, teks kebahagiaan telah muncul yang tersirat dalam kata-kata keonaran yang terlekat dalam diri sang tokoh. Pada kesimpulan akhir, pencorakan yang didapat melalui destinasi pembacaan literatur dan bertanya, saya dapat menyimpulkan Jante Arkidam sebagai sajak masterpiece Ajip Rosidi. Tak hanya bagus, melainkan unik dan liar, diksi-diksi membuat citraan tertuju pada intinya, begitu pula dengan makna yang dapat didapatkan secara eksplisit melalui teks. Sungguh ajaib sajak ini, tak dapat disimpulkan, mungkin akan berlarut-larut saya memuji sajak ini, bukan juga karena kultisme, melainkan memang decak kagum akan gaya penulisan yang menjadi salah satu penyokong dalam perkembangan sajak kontemporer saat itu.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.