Siang hari ditemani suara motor yang merdu. Saat itu, dirimu berkunjung pada pagelaran sirkus, sesak, penuh, dan riuh. Kepala berhimpitan dan saling beradu, tapi anehnya pundak mereka saling bertumpu, demi melihat pagelaran sirkus itu. Ruangan kecil, mungkin bisa dikira-kirakan sebesar ruang kelas perkuliahanmu, hanya tersekat oleh triplek. Sesak dan panas, tapi dirimu merelakan, sepertinya aristokrat tempo dulu pun enggan memasuki sirkus ini.
Sedari awal kau tak kebagian tempat untuk duduk, sehingga kau memutuskan untuk duduk di luar pertunjukan itu. Menyapa beberapa kenalanmu, sambil bercengkrama. Setelah berbincang-bincang tentang persajian sirkus ini, dirimu mulai beranjak untuk melihat sekitar ruangan. Seperti biasanya, terdapat para penjaga yang asyik memantau gadgetnya, di waktu bersamaan, pertunjukan ini sudah memasuki penghujungnya, benda keramat sirkus terketuk dan semua penonton mulai keluar.
“Yah, karena telat, aku terlambat datang, sayang sekali tiketku ini,” gumammu. Tamu kehormatan mulai keluar dari pertunjukan itu, wajahnya ceria sambil tersenyum ketika disapa. Wajah ceria mereka, terlihat sampai hilir matamu—kebetulan, kau berdiri di samping pintu keluar pertunjukan, sambil memegang sepucuk kertas.
Beranjak dari pertunjukan itu, datang beberapa temanmu, ia mengabari bahwa ada pertunjukan sirkus yang lain, tak kalah seru dari ini, ungkapnya.
“Ayo, kita lihat pertunjukan lainnya, brodi.”
Kau mulai bergegas menggendong tas, seraya mengikuti dari belakang. Menuruni tangga berdebu dan beberapa lantai yang rusak, menjejal lantai rusak dan kakimu mulai memasuki pertunjukan selanjutnya.
Awan sudah menghitam, dan langit pun mulai menangis, tepat pada sore hari. Bersamaan dengan awan hitam, pertunjukan sirkus kedua — kali ini gratis — mulai berlangsung. Sembari menunggu pertunjukan, kau menyempatkan diri untuk menanyakan tajuk pertunjukan selanjutnya.
“Mang!”
Wajah khas yang kau ingat, tak salah lagi, itu dirinya. “Mang, kumaha damang?” Berbisik. Percakapan mulai dari situ, tentang sore itu, yang penuh sesak dan riuh. Dirimu menghabiskan senja yang hitam, sembari menghisap rokok dan bermenung, demi kesialan mendapat ide ‘tuk melukis puisi.
Ah, hari sudah mulai malam. Menaiki motormu, bersiap ‘tuk berangkat menuju tempat pergulatan literasi, tepatnya toko buku Bandung yang khas itu. Sesampai di sana, dirimu tak langsung mengunjunginya, ada ritual khusus yang sering kau lakukan, memesan kopi terlebih dahulu. Kedai yang terhimpit di area yang sama dengan toko itu, “kopsus hiji,” katamu, pada penunggu kedai itu. Setelah memesan, kau beranjak mendatangi toko buku, bersalaman dan mulai bercakap-cakap tentang pergulatan dunia, lebih tepatnya tentang hidup dan mati seperti lagu itu!
Malam metropolitan dipenuhi cahaya lampu neon dari mesin berkaki empat. Toko antik ini, kedatangan pemburu buku dari Singapur, sembari membayar ia bertanya padamu yang sedang melamun sambil menikmati kopi dan rokok, pengunjung itu bertanya “Sudah lama di sini?” dengan nada samar. “Ya!” suara khasmu, menjawab. Kau bertanya dan tak mengira dirinya dari Singapur, perangainya seperti orang yang sering dijumpai. Ah, namanya pun tak asing ditemui. Berbincang sedikit lama, pada akhirnya kalian berfoto bersama, tak luput juga penjaga toko itu. Ya, jangan lupakan ia, penjaga itu—lebih tepatnya pawang buku, sudah bergulat selama 20 tahun lebih di arena literasi. Lebih tua dari umurmu saat itu, dan salah satu yang kau anggap sebagai mentor.
Setelah perbincangan sesak dan penuh letupan-letupan emosi, kau melihat jam digital di gadgetmu. Sialnya, jam sudah menunjukkan waktu untuk menyendiri kembali, hanya dengan buku dan laptop usang dipenuhi sticker ala-ala vintage itu, untuk menulis dan membaca tumpukan buku berdebu di persembunyianmu, menjauhi dari kebisingan metropolitan. Kembali, dan mulai menulis sampai terlelap tepat pada kata “tulisan jelekmu”, menutup hari itu, dan tertidur di kursi retak.
Suara alarm berisik seperti token listrik mati, menutup mimpi kelewat indahmu. Terbangun dari kursi retak, sembari merasakan kram di bagian belakang kau meraung seperti harimau “Aduuuh,” teriak dan kesakitan.
Hari itu, matahari mendera bumi dengan sinarnya, dan kau mulai menata ulang rutinitas. Beranjak pergi dari kursi retak, merasakan keheningan pagi, dengan tulisan yang belum kau selesaikan berakhir pada “tulisan jelek”.
Dirimu mulai bergulat kembali dengan lika-liku dunia. Sesaat bergulat, sampai pesan dari gadgetmu, “ayo mari ke Pasar.” pesan tertutup.
Ya, seperti rutinitasmu yang begitu-begitu saja, pasar di hari Minggu ini bukan seperti pasar umumnya. Ia diperbekali dengan berbagai bahan unik nan antik, mulai dari filateli sampai barang bekas pun tersedia. Dan jangan lupakan salah satu barang favorit untuk dipendam, buku. Buku bagimu merupakan emas, ia terkumpul layaknya aset, tapi memiliki efek candu yang luar biasa. Mungkin kalau ditafsirkan, bila dunia tersisa dua benda – manusia dan buku – kau akan memilih buku dengan pasti.
Mulai dengan mandi pagi demi mengumpulkan energi dan tak lupa menggosok daki, kau bersiap untuk mendatangi pasar selayaknya jamuan istana. Pasar hari itu, dipenuhi sesak dan obrolan wara-wiri, meliputi rasa penasaranmu yang besar, kau mulai menyiapkan beberapa buku, dan berharap dapat menyimpannya.
“Ambil meja, dan siapkan buku untuk hari ini,” permintaan dari seseorang yang kau tahu betul. Tanpa berpikir panjang, kau segera menyediakan meja untuk buku-buku yang amat ingin kau baca. Tapi keadaan menutupi hal itu, dompet usang milikmu hanya menyisakan dua koin. Dua koin kembar, yang tak layak untuk dipakai hanya untuk membeli segelas minuman di warung. Tapi kau tak putus asa, disela-sela waktumu, kau meraba dan menjinakkan beberapa lembar buku, melirik dari ujung sudut hingga berkata kecil “Buku-buku ku lihat hanya buku, tak peduli emas di samping, kan ku palingkan mataku hanya demi buku,” sambil tersenyum jahat.
Janji nyata pasar itu, selalu menjadi tempatmu meluangkan kebosanan, menghindari gemerlap lampu neon di jalanan, menjauh dari bisikan-bisikan jahanam, dan tempat hatimu singgah untuk mencari kedamaian. Tak luput, perjamuan di pasar bukan hanya tempat berjualan, melainkan rangkaian dari acara literasi yang membuatmu selalu bergebu-gebu dan bersemangat.
Rangkaian acara di Pasar itu memberimu berbagai pandangan yang belum terjamah, terkadang kau bergumam kecil, hanya untuk menuntut hatimu yang tak akan pernah puas. Hari itu dibicarakannya suatu sosok besar yang digandrungi setiap kalangan, Tan Malaka namanya. Sosok intelektual revolusioner, pejuang kemerdekaan dan nyaris tak pernah absen dari pembicaraan tentang gerakan. Ia hidup di masa lampau, tetapi tulisan-tulisan Tan tak terkekang oleh ruang dan waktu. Terus dibicarakan, mulai dari kehidupan hingga tulisannya, seketika kau menyadari betapa kerennya sosok itu. Memandang dengan kepala menohok, mengilustrasikan berbagai tulisan-tulisannya, hingga menyadari sosok itu tak pernah ada duanya.
Bertepatan dengan pembahasan buku yang ia tulis di Kanton, menceritakan keadaan luar dan dalam negerinya, menjelaskan beberapa serangkaian program yang ia rekomendasikan. Buku itu, tertulis dengan bahasa belanda, ditujukan bagi kaum pelajar yang saat itu berada di menara gading. Diterjemahkan, lalu disunting ulang dengan berbagai edisi. NDRI singkatnya, di sela-sela perhelatan besar, setelah kau tahu sosok Tan yang dikagumi oleh setiap kalangan. Kau mulai berpikir
“Terkadang kita harus menunduk, melihat jalanan yang berdebu, mengamati sekitar lingkungan, yang sering luput dipembicaraan besar”
Ya, sosok Tan menyadarkanmu betapa pentingnya melihat keadaan, bukan tentang kemauan besar dengan cara cepat, melainkan secara bertahap dan terukur. NDRI menjelma menjadi untaian daging dirimu, melekat pada setiap pemikiranmu dan tulisanmu yang kadang menyeleweng dari isu-isu terpanas. Kau tersadar waktu telah malam, dan obrolan kecilmu ditutup dengan cara membentuk kepribadian yang melihat seksama dan peka terhadap sekitaranmu yang terdekat.
Beranjak pulang, mulai menulis kembali di kursi retak, membuka lembaran baru, dan bersiap meluangkan segenap pemikiran amburadul yang disistematiskan oleh tanganmu. Menutup hari itu, di sela-sela kata;
“Dan hari itu, merupakan sebuah kesadaran revolusioner sejati dari Tan. Memicu segala ombak perubahan melalui segala sisi, mendobrak segala keterbatasannya, menghasilkan sebuah pemikiran. Dan lihat dirimu yang begitu-begitu saja, sudah mulai mengeluh, berteriak lantang arti dari gerakan, tanpa menghayati sebuah proses kemajuan. Serta percaya pada keangkuhan pemikiranmu yang sedikit, ….”







