Gelap Gulita Pendidikan Indonesia

Menatap ruang kelas setiap pagi, saya senantiasa merenungkan esensi dari tugas mulia yang dipikul oleh seorang pendidik di negeri ini. Pendidikan sejatinya adalah pelita yang dijanjikan mampu menerangi lorong panjang ketidaktahuan menuju peradaban yang bermartabat. Namun, realitas yang membentang di hadapan kita justru memperlihatkan pendar cahaya yang semakin meredup di tengah hembusan angin kebijakan. Ki Hajar Dewantara pernah berpesan bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat yang utuh. Sayangnya, ladang persemaian itu kini terasa gersang, tertutup oleh awan mendung bernama birokrasi dan ketidakpastian arah bangsa.

Kegelapan ini bukanlah sebuah ilusi semata, melainkan manifestasi dari tatanan sistemik yang perlahan menggerogoti ruh luhur pembelajaran. Banyak pengamat pendidikan nasional berasumsi bahwa cetak biru kurikulum kita lebih sering bertindak sebagai instrumen administratif daripada kompas penuntun. Mereka melihat bahwa ruang berekspresi bagi guru dan siswa semakin menyempit akibat tuntutan formalitas yang kaku dan mekanis. Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dunia, pernah memperingatkan bahaya pendidikan gaya bank yang mematikan nalar kritis manusia. Ironisnya, peringatan tersebut justru menjelma menjadi kenyataan pahit dalam rutinitas pedagogis yang kita jalani setiap hari di Indonesia.

Di tengah pusaran ekspektasi yang tinggi, perhatian penguasa terhadap nasib para penjaga gawang moral bangsa ini masih terasa sangat minim. Guru kerap kali hanya dipandang ketika panggung kampanye sedang digelar, diubah wujudnya menjadi komoditas politik yang murah dan meriah. Janji-janji manis tentang kesejahteraan dan perlindungan profesi terus diucapkan bagai mantra semu yang menguap begitu kekuasaan telah digenggam erat. Nelson Mandela pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Namun, bagaimana kita bisa mengubah dunia jika pemegang senjata itu sendiri dibiarkan lapar, lelah, dan terasing di negerinya sendiri?

Belum kering luka akibat ketidakpedulian itu, wacana baru dari para pemangku kebijakan kembali menyayat hati para pahlawan tanpa tanda jasa. Pernyataan Wakil Menteri Stella Christie mengenai tuntutan perbaikan kompetensi sebelum menuntut kenaikan gaji mencerminkan logika yang sangat elitis. Paradigma ini seolah menutup mata pada realitas struktural bahwa pengembangan diri membutuhkan ekosistem kesejahteraan yang mendukung kestabilan mental. Filsuf Yunani, Aristoteles, pernah berkata bahwa mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama sekali. Ketika negara menuntut kompetensi tinggi tanpa terlebih dahulu memanusiakan para pendidiknya, maka negara telah gagal mendidik nuraninya sendiri.

Narasi keputusasaan ini semakin menebal tatkala muncul desas-desus mengenai penghapusan sejumlah jurusan pendidikan di perguruan tinggi negeri kita. Alasan yang dikemukakan sungguh pragmatis, yakni karena jurusan-jurusan tersebut dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri yang rakus. Logika pasar kini telah sepenuhnya menginvasi ruang suci akademik, menggeser makna manusia berilmu menjadi sekadar sekrup mesin pabrik kapitalis. Albert Einstein pernah menyindir bahwa jika kita menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan seumur hidup merasa bodoh. Demikian pula, mengukur keberhasilan pendidikan semata-mata dari kacamata keterserapan industri adalah sebuah pengkhianatan terhadap tujuan pembentukan manusia seutuhnya.

Sebagai seorang praktisi di lapangan, saya menyaksikan sendiri bagaimana benturan antara idealisme mengajar dan tuntutan zaman terjadi begitu keras. Terutama di ruang-ruang vokasi dan kejuruan, kita berupaya keras membekali anak bangsa dengan keterampilan yang tajam sekaligus karakter moral yang kokoh. Sayangnya, kebijakan yang silih berganti sering kali memutus benang merah kesinambungan, membiarkan kami merajut kembali pola dari awal. John Dewey, bapak pendidikan modern, menyatakan bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Jika kehidupan di sekolah dipenuhi dengan kebingungan dan intervensi yang tidak terarah, maka masyarakat macam apa yang sedang kita bentuk?

Beban mental yang ditanggung oleh para guru hari ini tidak lagi sebatas menuntaskan target materi di dalam silabus pembelajaran. Kami dipaksa menjadi teknokrat yang harus memuaskan dahaga aplikasi digital, melupakan kedalaman interaksi tatap mata dengan para murid. Pengamat lokal kerap menyoroti fenomena kelelahan ekstrem massal yang perlahan menggerogoti kesehatan psikologis para pendidik di berbagai pelosok Nusantara. Mengutip Socrates, sang filsuf agung, saya tidak bisa mengajarkan apapun kepada siapa pun, saya hanya bisa membuat mereka berpikir. Bagaimana kami bisa merangsang pikiran yang merdeka jika jiwa kami sendiri terpenjara dalam jeruji administratif yang tak berkesudahan?

Gelap gulita yang menyelimuti pendidikan kita saat ini bukanlah kegelapan tanpa makna, melainkan sebuah pertanda akan malam yang teramat panjang. Dalam kegelapan itu, tersembunyi ribuan potensi anak bangsa yang meraba-raba mencari arah menuju cahaya kebenaran dan kearifan hidup. Kita seolah berada dalam gua alegori Plato, terbelenggu dan hanya mampu melihat bayang-bayang semu dari konsep pendidikan yang ideal. Membebaskan diri dari belenggu tersebut menuntut keberanian yang radikal dari seluruh elemen bangsa untuk merombak sistem yang terbukti usang. Tanpa adanya kemauan keras untuk mematahkan rantai pragmatisme birokrasi tersebut, kita akan terus berjalan di tempat yang sama selamanya.

Sungguh sebuah paradoks ketika dunia bergerak cepat menuju era kecerdasan buatan, kita justru mundur secara memprihatinkan dalam memaknai kecerdasan emosional. Anggaran triliunan rupiah yang digelontorkan sering kali menguap dalam bentuk proyek infrastruktur ragawi, bukan investasi pada kualitas nurani manusia. Para pakar sosiologi pendidikan berulangkali mengingatkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak pernah ditentukan oleh kemegahan gedung sekolahnya semata. Tan Malaka, bapak republik ini, menyerukan bahwa tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Saat pemerintah abai dalam menyentuh akar permasalahan mendasar ini, maka bangunan masa depan negara sejatinya sedang didirikan di atas pasir.

Membayangkan masa depan pendidikan Indonesia dengan kondisi yang masih gelap gulita ini menghadirkan sebuah kengerian eksistensial yang begitu menohok. Masa depan itu mungkin akan diisi oleh generasi mekanis yang cerdas secara teknis namun hampa akan kedalaman empati dan kebijaksanaan. Jurang ketimpangan sosial akan semakin menganga lebar, memisahkan secara kejam mereka yang mampu membeli terang dengan mereka yang terjebak malam. Jika komodifikasi profesi guru dan komersialisasi ilmu tidak segera dihentikan, pendidikan kita hanya akan menjadi catatan buram dalam sejarah dunia. Pada akhirnya, gelap ini hanya bisa dipecahkan apabila negara kembali meletakkan penghormatan terhadap pendidik sebagai jantung denyut nadi peradaban bangsa.