Jika di Dadamu ada Luka, Basuhlah dengan Lagu-Lagu Patah Hatinya Rhoma Irama

1. TAKKAN LAGI

Jika engkau pernah benar-benar cinta pada seorang wanita, menumpahkan waktu, harta, dan segala untuknya, tapi di satu ketika, kau melihat ia sedang dalam pelukan pria, maka darah di dadamu yang muncrat langsung kau sodorkan pada Rhoma, untuk kemudian dibuat lagu yang menggambarkan derita paripurna. Usai lagu itu tercipta, kau menyanyikannya sambil berurai air mata:

Takkan lagi..
Aku mencintai…
Dirimu kasih, dirimu kasih,
Setelah engkau mengkhianati

Dan sekarang..
Semua telah berubah
Sejak engkau terlena dalam pelukannya.
…………………..
…………………..

Aku rela hidup menderita..
Demi tak menodai kebahagiaanmu..
Kan kutempuh sisa hidup ini..
Tanpa cinta lagi sampai kumati
Walau penuh air mata..

2. SURAT TERAKHIR (Versi Lama)

Bagaimana misalnya, bahtera cinta yang kau bangun bersama, janji sehidup semati yang sudah menancap jiwa, justru hancur oleh ketidakrelaan orang tuanya, dan kau tak punya kekuatan untuk melawannya? Putuskan saja tanpa melukai hatinya! Jika kau tak sanggup mengucapkan langsung padanya, sebab tak mampu melihat duka di wajah dan matanya yang jelita, sebaiknya kau ikuti apa yang telah diteladankan Rhoma dengan mengirimkan surat padanya:

Wahai juwitaku..
Kuatkan hatimu
Kala membaca suratku ini

Dengan hati hancur
Kunyatakan jua..
Bahwa tali cinta kuputuskan sudah
Kuatkan hatimu..

Bukan ku tak sudi..
Atau ingkar janji..
Bukan pula karena aku tak setia

Namun patuhilah..
Ayah dan bundamu
Yang tak merestui kita berdua..

3. KEGAGALAN CINTA

Ini adalah pertama kali kau jatuh cinta, tapi kau langsung dihabisi dan diluluhlantakannya. Bukannya mendapat bahagia, cinta pertama yang mulanya kau puja justru menyeretmu pada ketersiksaan yang tak terduga: pengingkaran pada cinta. Rasa sakit yang mengepung dada dan mata, hanya mampu kau adukan pada nasib dan semesta..

Oh…
Ya nasib.. Ya nasib..
Mengapa begini..
Baru pertama bercinta, sudah menderita.

………………
Kalau tau begini akhirnya..
Tak mau dulu kubermain cinta.

4. AKU SAUDARAMU

Lagu patah hati Rhoma bukan hanya menyangkut wanita, tapi juga tentang saudara. Bayangkan saja, takdir melesakkanmu menjadi manusia biasa, tak berharta tak berharga, dan ketika datang kepada seorang saudara yang bergelimang harta, kau bukannya disambut kasuhun kalingga murda, tapi malah mendapat picingan mata, bahkan kau dicampakkan dan diusirnya. Kedatanganmu dikiranya hanya untuk meminta, padahal sekadar kangen belaka. Maka dengarlah rintihan suara dan iringan musik lagu Rhoma:

Sungguh jauh berbeda
Sejak abang berharta
Dalam sekejap saja
Lupa akan saudara

Aku datang kemari
Bukan untuk meminta
Hanya sekedar rindu
Ingin jumpa denganmu
Namun yang kudapatkan
Hanyalah penghinaan

5. DUNIA

Lagu Rhoma yang satu ini tidak mengisahkan patah hatinya pada wanita atau saudara, melainkan kepada dunia. Bukan hanya Rhoma, tapi mungkin engkau juga, pasti menyadari betapa dunia ini beraneka: ada wanita ada pria, ada tangis ada tawa, ada derita ada bahagia, ada miskin ada kaya, juga ada yang seolah abadi padahal fana. Rhoma seolah melihat ketiadaan di balik yang terlihat mata, juga menyaksikan yang sejati di balik yang tiada. Sebenarnya, lagu ini hasil “remake”nya dari salah satu lagu India, Dho Ne Naa judulnya. Ketika diubah menjadi bahasa Indonesia yang bicara kondisi dunia, Rhoma menyanyikannya dengan suara seolah menerima padahal putus asa.

Dunia….
Penuh misteri..
Penuh tantangan
Penuh cobaan
Penuh misteri..

6. RISALAH PENYANYI

Juga lagu Rhoma yang ini tak berkaitan dengan wanita, tapi berhubungan dengan mereka yang menganggap dirinya sebagai legenda. Kau mungkin dianggap punya nama, punya kehebatan di mata dunia, ke setiap tempat ada yang memuja, tapi melalui ini Rhoma menegaskan dirinya, diri kita, yang juga manusia, yang tak luput dari air mata derita. Lagu ini bagi saya, merangkum keseluruhan hidup Rhoma sebagai penyanyi dangdut yang mendunia. Di balik semua suka cita, puji dan puja, ia pun menyimpan luka yang tak ingin diperlihatkannya pada semesta.

Dengarlah ratapannya:

Banyak yang mengira ku selalu gembira
Tak pernah merasa pahitnya duka

Aku manusia seperti kau juga
Yang tiada sunyi dari derita