Hari Pendidikan yang Tidak Pernah Hadir

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Nama Ki Hajar Dewantara kembali dikutip, semboyan pendidikan diulang, dan pendidikan ditempatkan sebagai fondasi kemajuan bangsa. Namun refleksi filosofis yang jujur justru mengantar kita pada kesimpulan yang tidak nyaman: pendidikan dirayakan sebagai simbol, tetapi secara konseptual sedang kehilangan maknanya.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional memperlihatkan paradoks mendasar antara gagasan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia dan realitas kebijakan pendidikan yang semakin tunduk pada rasionalitas ekonomi industri. Ketika wacana penghapusan program studi muncul dengan alasan “ketidakproduktifan” terhadap dunia kerja, sesungguhnya yang dipertanyakan bukan sekadar keberadaan suatu disiplin ilmu, melainkan eksistensi pendidikan itu sendiri.

Pendidikan seolah masih ada dalam pidato, tetapi absen dalam orientasi berpikir.

Pendidikan sebagai Proyek Kemanusiaan

Dalam sejarah pemikiran pendidikan, pendidikan tidak pernah dimaksudkan sebagai alat produksi ekonomi semata. Pendidikan adalah proyek kemanusiaan. Ia lahir dari kesadaran bahwa manusia bukan hanya makhluk biologis yang bekerja, melainkan makhluk reflektif yang berpikir, menafsirkan, dan memberi makna pada dunia.

Filsafat pendidikan modern menempatkan pendidikan sebagai ruang pembebasan intelektual menjadi sebuah proses yang memungkinkan manusia keluar dari ketidaksadaran menuju otonomi berpikir. Universitas dalam pengertian klasik bukanlah lembaga pelatihan profesi, melainkan ruang pencarian kebenaran yang relatif independen dari kepentingan politik maupun ekonomi jangka pendek.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, terjadi transformasi konseptual yang signifikan. Pendidikan secara perlahan diredefinisi melalui bahasa manajerial: efisiensi, relevansi pasar, kompetensi industri, dan produktivitas lulusan. Bahasa pendidikan digantikan oleh bahasa ekonomi.

Perubahan bahasa ini bukan sekadar perubahan istilah; ia menandai perubahan cara memandang manusia.

Mahasiswa tidak lagi dipahami sebagai subjek pencari pengetahuan, tetapi sebagai investasi sumber daya manusia. Kampus tidak lagi dilihat sebagai ruang refleksi kritis, melainkan sebagai penyedia tenaga kerja kompetitif.

Logika Produktivitas dan Krisis Makna Ilmu

Istilah “program studi tidak produktif” mengandung asumsi filosofis yang jarang disadari: bahwa nilai suatu ilmu ditentukan oleh kontribusinya terhadap industri. Asumsi ini tampak rasional, tetapi sesungguhnya problematis.

Produktivitas adalah kategori ekonomi, bukan kategori epistemologis.

Ilmu humaniora, bahasa, filsafat, sejarah, dan seni memang tidak selalu menghasilkan produk material yang segera dapat dikapitalisasi. Namun disiplin-disiplin tersebut menjaga sesuatu yang jauh lebih fundamental: kemampuan manusia memahami dirinya sendiri. Tanpa pemahaman itu, kemajuan teknologi justru berpotensi memperdalam alienasi sosial.

Peradaban modern telah menunjukkan bahwa kemajuan teknis tidak otomatis melahirkan kemajuan moral. Masyarakat dapat menjadi semakin maju secara teknologi, tetapi sekaligus semakin rapuh secara sosial. Ketika kemampuan berpikir kritis melemah, teknologi tidak lagi menjadi alat pembebasan, melainkan alat reproduksi ketimpangan dan manipulasi.

Di sinilah pendidikan menemukan urgensinya: bukan sebagai pelayan industri, tetapi sebagai penjaga rasionalitas publik.

Universitas dan Hilangnya Otonomi Intelektual

Universitas secara historis berdiri di atas prinsip otonomi pengetahuan. Ia berfungsi sebagai ruang yang memungkinkan masyarakat mengkritik dirinya sendiri. Ketika universitas sepenuhnya diselaraskan dengan kebutuhan pasar, fungsi kritis tersebut mengalami erosi.

Kampus berubah menjadi institusi adaptif, bukan reflektif.

Ia belajar mengikuti kebutuhan ekonomi, tetapi berhenti mempertanyakan arah perkembangan masyarakat. Dalam situasi demikian, penghapusan program studi bukan sekadar kebijakan efisiensi administratif. Ia merupakan gejala dari perubahan ideologis yang lebih dalam: subordinasi pengetahuan di bawah logika utilitarianisme ekonomi.

Ketika suatu bangsa mulai menilai ilmu hanya berdasarkan keuntungan ekonominya, bangsa tersebut sedang mempersempit cakrawala intelektualnya sendiri.

Dan sejarah intelektual menunjukkan bahwa penyempitan imajinasi pengetahuan selalu menjadi awal dari kemunduran peradaban.

Seremoni tanpa Kesadaran

Peringatan Hari Pendidikan Nasional akhirnya berisiko menjadi seremoni tanpa kesadaran filosofis. Pendidikan dipuji sebagai kunci masa depan, tetapi kebijakan yang diambil justru menegasikan prinsip dasar pendidikan itu sendiri.

Kita merayakan pendidikan sambil secara simultan merasionalisasi penghapusan ruang-ruang berpikir kritis.

Kontradiksi ini menunjukkan bahwa yang dipertahankan bukan pendidikan, melainkan simbol pendidikan. Negara membutuhkan citra pendidikan maju, tetapi tidak selalu bersedia mempertahankan kompleksitas intelektual yang menjadi syarat kemajuan tersebut.

Dengan kata lain, pendidikan tetap hadir sebagai retorika nasional, namun menghilang sebagai komitmen epistemik.

Menghidupkan Kembali Makna Pendidikan

Hari Pendidikan akan memiliki makna nyata hanya jika pendidikan kembali dipahami sebagai proses pembentukan manusia, bukan sekadar mekanisme distribusi tenaga kerja. Pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang memberi ruang bagi keberagaman ilmu pengetahuan—termasuk ilmu yang tidak segera menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi menjaga kedalaman berpikir masyarakat.

Sebab suatu bangsa tidak kehilangan masa depan ketika sebagian lulusannya bekerja di bidang yang berbeda dari jurusannya. Bangsa kehilangan masa depan ketika masyarakatnya berhenti berpikir kritis tentang dirinya sendiri.

Mungkin karena itulah refleksi paling jujur yang dapat diajukan pada setiap peringatan Hari Pendidikan adalah pertanyaan sederhana namun mendasar:

apakah kita masih merawat pendidikan sebagai jalan pemanusiaan, ataukah kita telah menggantinya dengan sistem pelatihan industri yang kebetulan masih menggunakan nama pendidikan?

Jika jawabannya adalah yang kedua, maka sesungguhnya Hari Pendidikan belum pernah benar-benar hadir di negeri ini.

 

Hamba Allah | Mahasiswa Magister Bahasa dan Sastra Arab UIN SUKA Yogyakarta