Seorang anak SD bunuh diri karena tak memiliki uang kurang dari Rp10.000 untuk membeli buku dan pena. Di negara yang sama, pemerintah dengan tenang menghabiskan triliunan rupiah untuk program makan bergizi, forum internasional, dan proyek-proyek besar yang fotonya selalu rapi di laporan. Ini bukan ironi. Ini potret telanjang prioritas negara.
Kita sering buru-buru menjelaskan bunuh diri sebagai soal mental, psikologis, bahkan iman. Penjelasan ini terdengar manusiawi, tapi sesungguhnya nyaman. Ia memindahkan tragedi dari wilayah struktur ke wilayah pribadi. Dalam kasus anak di NTT ini, penjelasan semacam itu tidak hanya keliru, tapi juga kejam.
Anak itu tidak mati karena pikirannya rapuh. Ia mati karena hidupnya tidak menyediakan pilihan yang masuk akal.
Permintaannya sederhana: uang kurang dari Rp10.000. Ibunya menolak, bukan karena kikir, tapi karena terjepit kemiskinan ekstrem. Dalam kondisi seperti ini, orang tua tidak sedang mendidik anak, melainkan melakukan aritmetika bertahan hidup. Makan hari ini atau sekolah besok. Pilihan-pilihan semacam ini bukan kegagalan moral, melainkan jebakan struktural.
Di titik inilah bunuh diri harus dibaca bukan sebagai impuls, melainkan sebagai kesimpulan tragis seorang anak. Bukan kesimpulan rasional, tentu saja, tapi kesimpulan yang masuk akal dalam dunia yang menyempit. Ketika permintaan sekecil itu pun tak bisa dipenuhi, anak belajar satu pelajaran brutal: dirinya adalah beban.
Negara, di sisi lain, hadir dengan penuh keyakinan memberi makan siang. Tidak ada berita anak bunuh diri karena tidak makan siang. Maka negara merasa telah bekerja. Namun ada anak bunuh diri karena tidak punya alat tulis, dan di situ negara absen. Ini bukan kebetulan. Ini cara negara mendefinisikan penderitaan.
Makan siang adalah kebutuhan biologis. Ia terukur, terdata, dan mudah dipamerkan. Alat tulis adalah kebutuhan simbolik. Ia menyangkut martabat, rasa pantas, dan keberanian untuk duduk sejajar di kelas. Negara modern jauh lebih terlatih mengurus yang pertama dibanding yang kedua.
Masalah ini makin terang ketika seorang menteri menyatakan bahwa program makan bergizi lebih mendesak daripada penciptaan lapangan kerja. Pernyataan ini bukan sekadar salah ucap, melainkan cerminan cara berpikir. Memberi makan tanpa memberi kerja bukan mengakhiri kemiskinan, hanya menenangkannya. Lapangan kerja memberi penghasilan, rasa berguna, dan harapan. Makan siang hanya memastikan rakyat cukup hidup hari ini.
Anak itu tidak bunuh diri karena lapar di sekolah. Ia bunuh diri karena menyaksikan ibunya tidak memiliki jalan keluar.
Di tengah situasi ini, guru kerap dijadikan sasaran empuk. Padahal sering kali guru sendiri hidup dalam kerentanan yang sama. Kita menuntut mereka menjadi pendidik, konselor, dan pekerja sosial, sambil menggaji mereka pas-pasan dan membebani mereka dengan administrasi berlapis. Sistem yang terus-menerus memeras empati pada akhirnya mematikan empati itu sendiri.
Masyarakat sekitar pun tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Solidaritas sosial tidak mati karena orang jahat, tetapi karena semua orang kelelahan. Ketika seluruh komunitas hidup di ambang kekurangan, moralitas berubah menjadi sekadar strategi bertahan hidup.
Institusi keagamaan pun mengalami kegagalan serupa. Mereka fasih berbicara tentang sabar dan syukur, tetapi gagap membangun mekanisme untuk mendeteksi penderitaan konkret. Khutbah rajin bicara surga dan neraka, namun jarang menyentuh rasa malu anak miskin di kelas. Agama gagal bukan pada ajarannya, melainkan pada keberaniannya turun ke detail.
Pada akhirnya, ini bukan soal anggaran. Negara jelas punya uang. Masalahnya adalah imajinasi moral. Negara hanya peka pada penderitaan yang besar, dramatis, dan layak dipamerkan. Penderitaan kecil, sunyi, dan memalukan dianggap bukan darurat.
Anak itu mati bukan karena Rp10.000 tidak ada. Ia mati karena tidak ada satu pun sistem yang membaca Rp10.000 sebagai sinyal bahaya eksistensial. Kita menyebutnya “kasus”, padahal ia gejala.
Selama negara lebih sibuk mengelola citra kepedulian daripada membangun perlindungan mikro yang nyata, tragedi seperti ini akan terus berulang. Dan anak-anak akan terus belajar satu pelajaran kejam sejak dini: hidup mereka terlalu kecil untuk dianggap mendesak.




