Judul: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya
Penulis: Dea Anugrah
Tahun: 2019
Penerbit: Buku Mojok
Tebal: vi + 181 halaman
ISBN: 978-602-1318-81-2
Saya mengenal Dea kali pertama melalui puisi-puisinya yang muncul di media cetak nasional. Kelak penyair Zulkifli Songyanan, atau akrab disapa Kawan Song, memberi bocoran secuil tentang Dea. Dari sanalah, saya mulai mengikuti perkembangan Dea, yang kemudian disemati gelar Cahaya Asia.
Sebagai Cahaya Asia, Dea memiliki nasib yang lebih mujur ketimbang saya. Mungkin karena ia tahu kiat-kiat sukses dalam menjalani hidup yang carut marut. Maka tak heran jika Dea, dengan penuh keyakinan bak seorang imam besar ormas keagamaan atau sekelas motivator senior, mampu berbicara dengan ringan bahwa Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya.
Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya tak lain merupakan judul buku non-fiksi perdananya. Buku ini diterbitkan tahun 2019 oleh penerbit kelas kakap yang digandrungi remaja akhir zaman, penerbit Mojok.
Jika dilihat dari judulnya yang nampak datar dan penuh optimisme di zaman yang penuh kebimbangan, penuh dusta dan kebencian, mungkin bagi seseorang yang tak pernah mendengar nama Dea, akan mengira buku ini adalah buku motivasi. Atau bisa jadi, sebagai buku cerita bocah sekolah dasar daripada sekumpulan esai yang sarat dengan nuansa politis.
Selain judulnya yang datar, yang nampak absurd, dari buku Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, gambar sampulnya yang cenderung kontras dengan judul bukunya; sebuah tumpukan rongsokan dengan warna monokrom. Persis dengan ilustrasi pada sampul depan antologi cerpennya, Bakat Menggongong (2016), dengan gambar kepala sotong.
Walaupun begitu, toh saya pun membeli buku tersebut, meski dengan dada yang semakin sesak dan saldo di dompet semakin cekak. Konyol, memang. Tak apa, sedekah untuk penulisnya, pikir saya saat itu.
Ada dua puluh tulisan di dalamnya, dengan ketebalan 181 halaman. Harus diakui, dalam segi teknik bertutur, Dea lebih maju ketimbang saya. Tentu, Dea lebih maju ketimbang saya, karena saya tak pernah “seserius” ia menekuni dunia tulis menulis. Andai saya serius, mungkin bisa jauh lebih unggul darinya, atau bahkan Martin Suryajaya dan Muhammad Al-Fayyadl.
Saya lebih getol bertungkus lumus dengan bergelas-gelas kopi seraya mengoceh tentang pulitik bersama kawan-kawan sependeritaan. Atau berbusa-busa berbicara tentang rindu-dendam kepada sang pujaan hati diselingi musik-musik folk model Sharon Van Etten aau Bon Iver, hingga akhirnya sesenggukan di pojokan kamar atau sudut-sudut gelap jalanan Braga.
Tapi kini, saya menyesali hal itu, karena—menurut beberapa teman-teman santri—rutinitas saya itu sangatlah sia-sia. Jauh dari akhlak mulia yang diinginkan Tuhan, kiai di langgar, dan tentu kedua orang tua.
Meski saya telah membaca sebagian tulisan-tulisan dalam antologi esai Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya di media massa, saya pun membacanya dari awal halaman. Setelah mengunyah semua tulisannya, saya menggerutu kepada diri sendiri: Apa bagusnya semua cerita ini? Saya pun mampu menulis lebih baik dari ini!
Agak lama saya berpikir untuk buku kumpulan esai Dea Anugrah itu: Kenapa buku ini bisa laku di pasaran? Kenapa buku ini digandrungi remaja milenial? Dan akhirnya, saya putuskan untuk membacanya kembali dan menemukan secercah cahaya.
Tentu, selain karena tim pemasaran dari penerbitnya hingga buku ini bisa laku di pasaran, faktanya, tulisan-tulisan Dea di buku ini memang cukup bagus dan penting. Bukan karena teknik berceritanya yang konon mampu menyihir para remaja milenial, tapi karena sebagian besar tulisan Dea menggambarkan kesedihan, kegagalan, kesakitan, sejarah, nasib, dan harapan manusia.
Namun, tak seperti pak tua Goenawan Mohamad, tulisan-tulisan Dea tak berpretensi untuk menjadi liris-melakonlis dan sepenuhnya dibumbui kutipan-kutipan filosofis. Tulisan-tulisan Dea cenderung tajam, penuh data, dan yang paling saya suka, “urakan” atau penuh humor yang sedap.
Mungkin itu pula alasannya mengapa sejak awal Dea membuat sampul buku dan judulnya sangat kontras, absurd, dan tak sepenuhnya mewakili jeroan dari bukunya tersebut. Dea cukup lihai, jika bukan usil, dalam mengelabui pembacanya.
Ada tiga esai yang saya sukai dari seluruh tulisan di dalam bukunya; Pertemuan Dengan Melquíades, Kesedihan yang Menguatkan, serta Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya.
Dalam esainya Pertemuan Dengan Melquíades, yang serupa dengan laporan investigas itu, Dea mengisahkan seorang korban politisida (politik-genosida) ’65, yang bernama Rosidi. Dea menampilkan sosok Rosidi, yang diibaratkan seperti Melquíades dalam novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel García Márquez, sebagai liyan untuk tampil kepermukaan.
Rosidi dibiarkan berbicara sepenuhnya oleh Dea. Sedikit sekali bobot subjektivitas penulis di dalamnya. Dan bagi saya, cukup berhasil dalam mengungkap sejarah kelam ’65 dari sudut pandang korban yang berbeda. Rosidi, seseorang yang tak menyukai politik dan lebih memilih Partai Nasionalis Indonesia (PNI) karena kecintaannya pada Soekarno, menjadi korban kudeta merangkak aparat militer yang dikomandoi oleh Soeharto terhadap Orde Lama. Ia pun harus menyandang gelar sebagai eks-tapol hingga hari ini bak hantu yang ditakuti.
Esai pendek berjudul Kesedihan yang Menguatkan, Dea membahas sepenggal sejarah bangsa Portugis dan Turki tentang melankolia kolektif. Tak hanya dari segi sejarah, Dea menelisik fenomena melankolia kolektif itu menggunakan teropong psikoanalisis. Melalui Freud, Dea membedakan antara duka dan melankolia dan menarik kesimpulan bahwa melankolia tak selamanya buruk, justru membuat kita lebih mawas diri.
Namun demikian, dalam esai pendeknya itu, Dea terlihat seperti otak atik gathuk dalam membedah fenomena melankolia kolektif dan mengaitkannya dengan kondisi negrinya sendiri. Tak seperti esai-esainya yang lain, yang memberi bobot pada detail dan data, tanpa kehilangan kekhasan bertutur Dea yang konon banyak menyihir remaja milineal.
Hampir dalam seluruh tulisannya, Dea tak berlagak menjadi seorang penjual obat yang akhir-akhir ini makin marak di media sosial. Ia lebih banyak membicarakan yang remeh temeh, yang selalu disingkirkan, atau dalam kosakata filsafat, membiarkan liyan tampil kepermukaan sejarah.
Sebagaimana esai terakhir dari buku ini, Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Dea cukup lihai dalam mengolok-ngolok narasi besar, seperti Khilafah, yang meneguhkan fanatisme dan seringkali menjadikan kekerasan sebagai cara untuk mencapai tujuan.






