Kursi Saya, Bayi Mereka, dan Teori Sosial yang Ikut Naik Kereta

Keadilan versi kereta ekonomi itu sederhana dan modern: satu tiket, satu kursi, satu nomor. Tidak pakai musyawarah. Tidak perlu empati. Tinggal duduk dan sampai. Saya percaya betul skema ini sampai kursi saya diambil oleh sepasang orang tua yang menggendong bayi dan membawa satu anak kecil. Alasannya singkat, padat, dan terdengar tak terbantahkan: Anak saya pusing kalau duduk dalam posisi kereta mundur.

Sebagai warga negara yang pernah ikut seminar toleransi, saya langsung paham posisi. Mau bilang “itu kursi saya”, rasanya kurang manusiawi. Mau diam, ya jelas saya yang kehilangan. Akhirnya saya duduk di kursi lain, sambil mencoba berdamai dengan realitas: hari itu, saya bukan kalah argumen, tapi kalah narasi.

Kalau kata Erving Goffman hidup itu panggung. Di gerbong ekonomi, panggungnya sempit, tapi dramanya padat. Ada peran ayah-ibu bertanggung jawab, bayi tak berdosa, anak kecil yang rentan pusing, dan saya: figuran yang tugasnya memberi jalan agar cerita utama tetap berjalan mulus.

Di depan publik, mereka tampil dengan front stage yang kuat. Bayi digendong, suara lirih, wajah lelah. Semua simbol bekerja. Saya, di sisi lain, tidak punya properti dramaturgis. Tidak bawa bayi, tidak terlihat menderita, dan terlalu sadar etika untuk bikin adegan. Hasilnya bisa ditebak. Penonton alias penumpang lain sudah menentukan simpati sebelum konflik benar-benar dimulai.

Kalau ditarik ke Blumer dan interaksionisme simbolik, makna kursi tidak lagi soal nomor, tapi soal siapa yang pantas duduk di sana. Kursi saya secara simbolik berubah fungsi: dari “hak saya” menjadi “fasilitas untuk yang lebih membutuhkan”. Dan makna itu tidak ditentukan oleh sistem, tapi oleh interaksi singkat yang sarat simbol emosional.

Masalahnya, makna simbolik ini timpang. Bayi dan anak kecil adalah simbol sosial yang hampir tak bisa dilawan. Mereka mewakili kepolosan, masa depan, dan alasan moral paling ampuh. Sementara saya? Simbol saya hanya satu: penumpang dewasa yang tampak baik-baik saja. Dalam hierarki empati, posisi saya jelas di bawah.

Di titik ini, teori konflik ikut nimbrung sambil nyeruput kopi. Siapa yang punya sumber daya simbolik lebih kuat, dia yang menang. Di gerbong ekonomi, sumber daya itu bukan uang atau jabatan, tapi legitimasi moral. Dan legitimasi moral paling murah sekaligus paling efektif ya: anak kecil dan kata “pusing”.

Pusing, di sini, bukan lagi soal kepala. Ia adalah wacana. Dalam bahasa komunikasi, pusing adalah frame. Sekali dipakai, seluruh situasi dibaca ulang. Yang tadinya soal nomor kursi berubah jadi soal kemanusiaan. Yang tadinya hak berubah jadi egoisme potensial. Dan kita semua tahu, di ruang publik Indonesia, tuduhan paling menakutkan bukan melanggar aturan, tapi dicap “nggak punya hati”.

Menariknya, tidak ada dialog yang setara. Tidak ada negosiasi ala Habermas yang rasional dan bebas dominasi. Yang ada adalah komunikasi satu arah yang halus tapi menekan. Mereka menyampaikan kondisi, saya menerima konsekuensi. Konsensus tercapai, tapi tidak simetris. Ini bukan karena mereka jahat. Ini karena struktur sosial kita memang melatih orang untuk menyelesaikan konflik dengan rasa sungkan, bukan kejelasan. Kita lebih nyaman dengan harmoni semu daripada keadilan yang sedikit canggung.

Kalau Bourdieu ikut naik kereta, mungkin dia akan bilang: ini soal habitus. Sejak kecil kita diajari untuk mengalah pada yang “lebih lemah”. Tapi definisi lemah sering disederhanakan: siapa yang bawa bayi, siapa yang tampak repot, siapa yang bisa menampilkan penderitaan secara visual. Yang tidak tampak, ya dianggap tidak masalah.

Habitus ini membuat saya refleks mengalah, bahkan sebelum berpikir panjang. Bukan karena saya setuju, tapi karena tubuh saya sudah terlatih untuk tidak bikin keributan. Sementara itu, sistem tiket hanya bisa jadi latar belakang. Ia hadir, tapi tidak berkuasa. Karena dalam praktik sosial sehari-hari, aturan formal sering kalah oleh norma informal. Norma yang berbunyi: jangan jadi orang yang bikin suasana tidak enak.

Akhirnya, kursi kereta berubah jadi arena negosiasi makna. Siapa yang duduk bukan ditentukan oleh barcode, tapi oleh siapa yang paling meyakinkan secara simbolik. Ini bukan cacat individu, tapi cermin masyarakat yang mengandalkan empati personal tanpa kerangka keadilan yang jelas.

Saya tidak marah pada ayah dan ibu itu. Saya juga tidak ingin jadi pahlawan aturan. Tapi ada rasa ganjil yang tertinggal. Rasa bahwa kebaikan sering dibangun di atas pengorbanan orang yang tidak pernah dimintai persetujuan secara jujur. Di gerbong ekonomi, semua duduk. Tidak ada yang berdiri. Tapi relasi kuasa tetap bekerja, hanya lebih halus. Tidak pakai teriak, cukup pakai bayi dan kata “pusing”.

Dan saya turun dari kereta dengan satu kesadaran kecil: di masyarakat kita, empati itu penting, tapi tanpa struktur yang adil, empati bisa berubah jadi alat. Bukan alat jahat, tapi alat yang diam-diam menentukan siapa yang harus selalu mengalah.

Pertanyaannya mungkin bukan lagi soal kursi saya atau bayi mereka. Tapi soal ini:

apakah kita ingin terus hidup dari belas kasihan situasional, atau mulai berani membangun empati yang juga adil meski sedikit tidak nyaman dan tidak selalu kelihatan baik di mata penumpang lain?